Kolom

Melawan Hoaks Vaksin

3 Mins read

Seorang guru honorer di Kabupaten Garut, diduga mengalami kelumpuhan usai menjalani vaksinasi Covid-19. Namun, pihak medis memastikan bahwa kelumpuhan itu bukan akibat dari vaksin Covid-19. Hal ini pun telah dikonfirmasi oleh Direktur RSUD dr Slamet Kabupaten Garut, Husodo Dewa, yang mengatakan guru tersebut merupakan pasiennya sejak awal, dan telah didiagnosis mengalami saraf terjepit. Ia pun menegaskan bahwa vaksin tidak memengaruhi kelemahan anggota gerak tubuh, dan tidak berpengaruh pada otot atau saraf yang menyebabkan kelemahan. Dengan begitu, yang dialami guru tersebut, bukan karena vaksin, tetapi memang karena penyakit lain.

Satu tahun lamanya, Pandemi Covid-19 telah mencekam masyarakat di dunia, khususnya Indonesia. Bagaimana tidak? Siapa saja dapat terkena virus ini, tanpa terkecuali. Dengan gejala, atau tanpa gejala, virus ini sangat mematikan. Virus ini menjadi semakin berbahaya karena diimbangi dengan hoaks mengenai Covid-19, yang tak kalah gencar tersebar di hampir seluruh media sosial. Khususnya yang beberapa bulan terakhir ini, yaitu mengenai hoaks vaksin.

Berita bohong atau hoaks seperti di atas, tentu bukan kali pertama terjadi. Jika terus dibiarkan, dapat semakin membahayakan. Vaksin yang hari ini menjadi solusi dan harapan bagi semua negara, untuk dapat bangkit dari situasi pelik ini, pada akhirnya tidak dapat berjalan dengan baik, akibat para oknum penyebar hoaks yang tak bertanggung jawab. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk melawan hoaks terkait vaksin Covid-19.

Melihat data laporan isu hoaks dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI, yang dirilis pada 1 Maret 2021, tercatat ada 116 kasus. Hal ini tentu sangat mengkhawatirkan. Sebab, masyarakat semakin dihantui oleh rasa ketakutan. Kita tahu, bahwa hoaks masih menjadi ancaman serius di negeri ini. Pasalnya, dampak yang ditimbulkan sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup suatu bangsa.

Terkait dengan hoaks vaksin Covid-19, apabila hal ini secara terus menerus dibiarkan, maka bisa berdampak pada masyarakat secara umum. Yang mana, dapat menimbulkan krisis kepercayaan terhadap pemerintah, dan semakin tidak peduli dengan keberadaan Covid-19. Lembaga survei Indonesia (LSI) pada Senin (22/2/2025) merilis temuannya terkait kepercayaan masyarakat terhadap vaksin Covid-19, dan tercatat sebanyak 42,4%, masyarakat tidak percaya dengan program vaksin yang dijalankan pemerintah. Melihat hal tersebut, hoaks mengenai vaksin, sangat berpengaruh besar dalam menghambat proses vaksinasi. Akibatnya, dapat memperlambat penurunan angka positif Covid-19.

Hal ini menunjukkan bahwa wabah hoaks telah menjadi kasus yang tidak dapat dianggap sepele oleh pihak manapun, termasuk pemerintah. Apalagi, karena dampak negatifnya sangat memengaruhi masyarakat. Sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Chen, Yong, dan Ishak (2014), bahwa hoaks sebagai informasi yang sesat dan berbahaya. Persepsi manusia dapat disesatkan oleh hoaks yang disampaikan menjadi sebuah informasi yang dianggap benar, dan hal tersebut dapat memengaruhi orang banyak.

Menurut survei Mastel (2017), peredaran hoaks paling banyak yaitu melalui media sosial. Dengan bertebarannya hoaks di media sosial, membuat masyarakat mudah mempercayainya. Pasalnya, masyarakat cenderung lebih percaya terhadap berita-berita yang beredar tanpa menguji kebenarannya terlebih dahulu. Tak heran jika hoaks yang beredar tanpa verifikasi tidak putus hingga penerima terakhir, tetapi terus berlanjut dibagikan kepada orang lain. Begitupun hoaks mengenai vaksin, yang terus dibagikan, tanpa diverifikasi terlebih dahulu kebenarannya. Akhirnya, hanya mengakibatkan keresahan serta kegaduhan di tengah masyarakat.

Maka dari itu, pentingnya mengetahui apa saja ciri-ciri hoaks yang bertebaran di media sosial, seperti narasi yang berlebihan, diterima dari sumber yang tidak jelas, dan tidak memberikan data, serta fakta yang berdasar. Hal ini tentu dapat dipahami oleh masyarakat yang memiliki tingkat literasi digital yang tinggi, mereka tidak mudah menerima dan mempercayai informasi begitu saja. Berbeda dengan masyarakat yang minim literasi, mereka jauh lebih mudah menerima dan mempercayai informasi yang didapatnya, tanpa mempertanyakan kebenarannya.

Sebab, hal ini sesuai dengan proses komunikasi. Yang mana, penerima pesan yang berbeda dengan tingkat literasi yang tak seragam, maka dapat memengaruhi bagaimana masyarakat untuk berpikir dan bertindak. Maka dari itu, pentingnya meningkatkan literasi digital atau dapat juga dikatakan cerdas dalam bermedia sosial.

Pada kenyataannya, komunikasi di media sosial tak jarang dapat menyebabkan informasi yang menyesatkan, sehingga untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat harus diperoleh dari saluran resmi. Dalam hal ini, pemerintah harus terus aktif dalam memberikan informasi serta klarifikasi yang benar atas bertebarnya hoaks di media sosial. Jangan sampai, pemerintah lalai dalam merespons berita bohong tersebut. Sebab, yang dikhawatirkan yaitu masyarakat sudah benar-benar mempercayainya, dan akhirnya mereka terpengaruh kemudian bertindak berdasarkan apa yang telah diterima dan dipercaya.

Bukan hanya pemerintah, tetapi masyarakat juga perlu meningkatkan rasa skeptis dan kepekaan terhadap berbagai informasi. Yang mana, harus rajin dalam melakukan cross-check terhadap berita yang diterima, serta meningkatkan literasi digital. Yang menjadi hal penting dalam pemberantasan hoaks ini, yaitu kesadaran bersama, termasuk dalam perilaku berinformasi publik, di mana masyarakat harus mampu memilih dan memilah informasi yang tidak jelas sumbernya. Ketika mendapatkan informasi mengenai vaksin, silahkan mengecek kembali faktanya melalui website trustpositif.kominfo.go.id.

Dengan demikian, hoaks mengenai vaksin yang sangat berbahaya terhadap proses vaksinasi, yang akhirnya memperhambat penyelesaian kasus Covid-19, perlu kita lawan bersama. Oleh karena itu, cerdas dalam bermedia sosial, menjadi langkah penting untuk melawan hoaks vaksin. Mari, kita saling bekerjasama dalam menangani Covid-19, agar wabah ini cepat berlalu dan semua sektor, baik ekonomi maupun pendidikan dapat kembali pulih.

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2024)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…