Nasihat

Hubungan Shalat dan Akhlak

2 Mins read

Sejak ibadah shalat ditetapkan dalam peristiwa Mi’raj, Rasulullah SAW terus mengulang-ulang perintah shalat hingga di pembaringan menjelang nafas terakhirnya. Hal itu cukup mengisyaratkan betapa besarnya signifikansi shalat bagi umat Islam. Ada banyak Ibadah spiritual maupun sosial untuk memenuhi ketaatan kita kepada Allah di bumi ini, semua itu terangkum dalam perintah shalat. Sebab, shalat adalah kunci bagi akhlak seorang Muslim.

Akhlak mencakup hal-hal yang bersifat lahiriah sekaligus sikap batin maupun pikiran. Dalam sebuah hadis, Nabi SAW mengaitkan shalat dengan pentingnya memperbaiki hubungan sosial (rekonsiliasi) dan akhlak yang baik. Itu sebabnya, shalat tidak dapat dipisahkan dari tujuan moralnya, yaitu menjaga diri dari keburukan dan kerusakan.

Pada dasarnya, shalat didesain untuk memngalirkan pesan positif yang mendalam pada perilaku kita di luar shalat. Shalat merupakan kutub tranformasi akhlak batiniyah ke akhlak lahiriyah. Doa-doa, ruku’, sujud dan semua rukun shalat jika dilakukan dengan tulus akan memotivasi orang-orang yang benar-benar beriman untuk melakukan perbuatan baik dan menghindari dosa. Dalam sebuah ayat, Allah SWT laksanakanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. (Sūrat al-’Ankabat 29:45).

Ciri utama orang mukmin adalah shalatnya berdampak pada pencegahan segala perbuatan tercela bagi dirinya. Dengan begitu, shalatnya menjadi hidup dan memancarkan pengaruh di luarnya. Dalam buku Shalat Bersama Nabi SAW, Muhammad Bahnasi menuliskan bahwa, ketika shalat mampu untuk menebarkan kebaikan dalam masyarakat dan mencegah kemungkaran yang terjadi, itulah indikasi atas shalat yang hidup. Selain itu, berdasarkan dengan sabda Nabi SAW, seseorang tidak dikatakan sebagai orang yang Shalat jika dia tidak bisa mengaplikasikan faedah shalat kedalam perilaku sehari-harinya.

Mematuhi Allah berarti menaati shalat. Menaati shalat adalah berhenti berbuat dosa di luar shalat. Memang sulit dimengerti mengapa seseorang yang sungguh-sungguh membaca ayat-ayat suci al-Quran dalam shalat, mengulang-ulang kalimat “Tunjukilah kami jalan yang lurus” (Al-Fatihah: 6) sepanjang hari, tetapi tidak malu melakukan penyimpangan, tidak merasa menyesal untuk menyakiti orang lain, berbohong, korupsi, atau menebar kebencian.

Sama seperti keheranan ibnu abbas yang dikutip At-Thabari ketika mengomentari ayat 45 surat al-Ankabut di atas. Ibnu Abbas berkata, “Barangsiapa tidak dihalangi oleh shalat, dari amoralitas dan kejahatan, maka dia tidak mendapatkan apa-apa dari doanya kecuali semakin jauh dari Allah.”

Tidak dipungkiri bahwa orang-orang yang melaksanak shalat juga tidak otomatis menjadi baik. Misalnya, ada orang yang rajin shalat tetapi gemar berbuat ria dan tidak suka menolong orang lain. Seperti yang disinggung dalam surat al-Ma’un, tentang orang-orang yang shalat tetapi celaka.

Haidar bagir dalam bukunya menjelaskan bahwa Shalat memang belum tentu mencegah seseorang untuk berbuat keji ataupun mungkar. Ayat yang lain dalam Alquran menampakkan bahwa perintah untuk mengerjakan Shalat juga terpisah dari perintah untuk mengerjakan perbuatan baik dan mencegah perbuatan buruk, di antaranya yang tercantum dalam QS. Lukman ayat 17.

Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa, shalat yang berdampak positif pagi perilaku seorang muslim adalah idealita, sedangkan shalat yang tidak berpengaruh apa-apa bagi peningkatan akhlak adalah realita. Kita bertanggung jawab untuk menarik idealita masuk kedalam reaaltas kita. Mengerjakan salat adalah perwujudan dari keyakinan yang telah tertanam di dalam hati orang yang mengerjakannya. Oleh karena itu, jika dia taat dengan shalat, seorang Muslim juga akan berusaha sekuat tenaga untuk menaati perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya di luar shalat.

Dengan demikian, orang yang shalat harus menjadi orang yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Seorang Muslim yang shalatnya tidak berdampak positif pada karakter atau perilakunya, dapat dikatakan rugi dan mengidap kecacatan serius dalam imannya. Shalat tidak hanya memotivasi kita untuk menghindari dosa, tetapi juga menginspirasi kita untuk berbuat baik kepada sesama sebagai pahala dari Allah. Shalat yang dikerjakan semata-mata karena Allah SWT akan mengalirkan kekuatan esensial, yaitu keihklasan. Selanjutnya, timbulnya keinginan di dalam hatinya untuk mengerjakan segala sesuatu yang diridai Allah dan menjauhi semua yang dilarang-Nya. Inilah shalat ideal yang berbuah akhlak.

Related posts
Dunia IslamKolomNasihat

Apakah Orang yang Terkonfirmasi Positif Covid-19 Tidak Wajib Berpuasa?

Islam merupakan agama penuh kebaikan dan rahmat. Hukum Islam selalu sejalan dengan kondisi manusia. Tidak menyusahkan para pemeluknya. Melainkan memudahkan mereka, khususnya…
Dunia IslamKolomNasihat

Puasa Menumbuhkan Empati

Betapa luas dimensi yang dimiliki puasa, berbanding lurus dengan hikmah yang dikandungnya. Puasa Ramadhan yang merupakan mandat teologis, adalah juga momen untuk…
Dunia IslamNasihat

Puasa, Momentum Penyucian Hati

Sudah datang lagi bulan Ramadhan, bulan mulia karena rahmat Allah dilipatgandakan. Ramadhan suci karena turunnya al-Quran pada suatu malam. Umat Islam diperintahkan…