Kisruh internal yang terjadi di tubuh Partai Demokrat masih terus berlanjut. Baik Demokrat kubu Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) maupun kubu Kongres Luar Biasa (KLB) Deli Serdang, Sumatera Utara saling bermanuver. Kedua kubu saling mengklaim bahwa kubu merekalah yang sah secara hukum. Berbagai manuver mereka lakukan untuk saling menyerang dan menjatuhkan sama lain.
Namun demikian, apa yang tengah diperlihatkan oleh Partai Demokrat saat ini bukanlah sebuah potret dari wajah demokrasi yang kita dambakan. Wajah demokrasi yang tampak dari Demokrat saat ini adalah wajah demokrasi hoaks dan pencitraan. Saling klaim kebenaran dan tudingan-tudingan terhadap pihak lain adalah sedikit contohnya. Dengan kata lain, polemik yang terjadi di dalam internal Partai Demokrat itu menjelaskan bahwa Demokrat tengah mempertontonkan demokrasi hoaks dan pencitraan, bukan demokrasi gagasan, seperti yang kita harapkan.
Setidaknya, ada beberapa alasan, kenapa Demokrat kini mempertontonkan demokrasi hoaks, bukan gagasan? Pertama, demokrat menuding pihak lain sebagai biang keladi terjadinya kisruh di Partai Demokrat, padahal itu persoalan internal partainya sendiri. Sebagaimana yang disampaikan oleh Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang menuduh ada upaya kudeta dirinya dari orang dekat Presiden Joko Widodo (Jokowi). Hal serupa juga dinyatakan oleh Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang menuding bahwa ada gerakan pengambilalihan kepemimpinan partai Demokrat, yang ingin mengambil alih kepemimpinan partai yang sah.
Faktanya, hal itu tidak pernah terjadi. Pihak Istana tidak ada hubungannya dengan kisruh yang terjadi di dalam tubuh Partai Demokrat. Jenderal TNI (Purn.) Moeldoko, yang kini terpilih sebagai Ketua Umum Partai Demokrat versi KLB mengatakan bahwa Istana tidak ada kaitannya dengan hal itu. Itu artinya, demokrat secara sepihak telah menuduh pihak lain, yang berada di luar internal partai sebagai sumber masalah. Bahkan, menuduh pihak Istana sebagai dalang yang bermain dibalik ini semua. Pada kenyataannya, kisruh yang terjadi di Partai Demokrat saat ini adalah persoalan internal partai, bukan sebab yang lain.
Kedua, demokrat menyatakan adanya KLB tersebut sebagai sebuah bentuk penyerangan terhadap demokrasi. AHY mengatakan KLB Partai Demokrat di Deli Serdang, Sumatera Utara, yang menunjuk Moeldoko sebagai ketua umum tandingan, merupakan serangan terhadap demokrasi dan penegakan hukum di Indonesia. Bahkan, ia meminta rakyat Indonesia untuk ikut turun membantu menyelamatkan demokrasi di Tanah Air.
Pernyataan AHY tersebut saya kira adalah sebuah kebohongan atau hoaks. Lagi-lagi, saya harus mengatakan bahwa itu merupakan persoalan internal partai mereka sendiri. Tidak ada hubungannya dengan serangan demokrasi. Kalaupun ada, itu demokrasi di dalam internal tubuh partai demokrat. Sebab, aspek demokrasi itu luas. Mulai dari HAM, ekonomi, sosial, budaya, dan politik. Tidak bisa serangan demokrasi yang dimaksud AHY hanya diterjemahkan dan disimplifikasikan menjadi kisruh yang terjadi di internal Partai Demokrat saat ini.
Ketiga, kedua kubu saling mengklaim bahwa kubu mereka yang sah secara hukum. Keduanya saling bermanuver untuk menyerang dan menjatuhkan satu sama lain. Kubu satu menuding sebagai gerakan kudeta, sementara kubu lain menyebut dirinya sebagai gerakan konstitusi. Jadi mana yang benar?
Atas dasar itu semua, saya pikir, demokrat kini tengah mempertontonkan wajah demokrasi hoaks di hadapan kita, bukan demokrasi gagasan yang seperti kita harapkan. Padahal, harusnya Demokrat sebagai partai yang merepresentasikan alat infrastruktur demokrasi bisa memberi contoh yang baik untuk rakyat, yaitu memberikan gagasan-gagasan terbaik untuk memajukan bangsa dan negara. Jika Partai Demokrat tidak bisa menyelesaikan persoalan internal partai mereka sendiri, maka mana mungkin Demokrat dapat menyelesaikan permasalahan rakyat.
Singkatnya, tudingan sepihak yang dilakukan oleh Demokrat, pernyataan KLB di Sumut adalah bentuk penyerangan demokrasi, dan klaim kedua kubu sebagai yang sah secara hukum merupakan sedikit contoh potret demokrasi hoaks yang ditampilkan oleh Demokrat. Dan saya tekankan sekali lagi bahwa kisruh yang terjadi di Partai Demokrat saat ini adalah persoalan internal mereka sendiri, bukan karena intervensi pihak lain.