Masih segar dalam ingatan tentang kekasaran verbal yang dilontarkan oleh Yahya Waloni, seorang mualaf yang kontroversial karena ceramah provokatifnya. Belum lama ini ia sempat mengudarakan narasi bahwa Yesus adalah nabi yang gagal. Sambil membandingkan bahwa dari sekian banyak nabi di dunia, tidak ada yang berhasil menuntun umat manusia kecuali Nabi Muhammad SAW. Statement semacam ini hanya akan menjadi pemantik sentimen antarpemeluk agama dan mempermalukan ajaran Nabi Muhammad, tidak sama sekali menjadikan Islam mulia.
Melalui pesan kenabiannya, Rasulullah SAW menegaskan larangan membandingkan beliau dengan nabi-nabi sebelumnya. Tidak boleh pula mengunggulkan sosoknya atas nabi dan rasul yang lain. Jika mengadakan komparasi saja tidak boleh, apalagi mencaci maki. Dengan rendah hati, Nabi Muhammad SAW meminta umatnya untuk menghormati, mengagungkan, dan memuliakan semua utusan Allah SAW. Karena tugas kesemuanya sama, yakni menyeru umat manusia untuk menyembah dan mengesakan Allah. Mendakwahkan ajaran Allah SWT di muka bumi adalah proses yang saling berjalin dan berkelanjutan dari satu nabi ke nabi yang lain.
Rasulullah SAW selalu mendorong terciptanya suasana harmonis dalam tubuh umat manusia yang tercermin dari bahasa lisan dan sikapnya. Dalam riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, Nabi SAW menuturkan gambaran pola hubungan antara beliau dengan para nabi pendahulunya. Nabi bersabda, Sesungguhnya perumpamaanku terhadap nabi-nabi sebelumku seperti seseorang yang membangun sebuah rumah. Lalu ia memperindah rumah tersebut dan membaguskannya, kecuali tempat satu labinah (semacam batu-bata) yang berada di satu sudut. Lalu mulailah orang-orang mengelilingi bangunan itu dan terkagum-kagum. Lalu mereka berkata, “Mengapa labinah ini tidak diisi”. Nabi pun berkata, “Maka akulah labinah itu, dan aku penutup para nabi.”
Sekalipun didaulat sebagai manusia paling mulia, tidak ada rasa tinggi hati dalam diri seorang Nabi Muhammad SAW. Melalui hadis tadi terlihat bagaimana beliau hanya mengibaratkan posisinya—di antara para nabi lain—sebagai labinah di pojok ruangan pada suatu bangunan, bukan pondasi, tiang, maupun tembok yang seolah lebih berperan.
Panggung sejarah di masa Nabi Muhammad SAW telah menceritakan preseden negatif ketika para utusan Allah SWT dibandingkan dan umatnya saling mengunggulkan nabinya satu sama lain. Pernah terjadi perselisihan antara seorang Muslim dan seorang Yahudi. Terkisah seorang Yahudi tengah menawarkan barang dagangan kepada seorang Muslim, tetapi tawaran tersebut direspons dengan suatu hal yang dibenci oleh Yahudi tersebut. Karena sakit hati, Yahudi tadi melayangkan sumpah serapah sembari mengagungkan Nabi Musa alahissalam atas semua manusia.
Tanggapan Yahudi tadi juga membuat Muslim tadi berang, hingga ia pun menampar Yahudi tersebut. Ia tak terima seorang Yahudi mengunggulkan Nabi Musa, karena menurutnya Nabi Muhammad SAW lebih unggul daripada Nabi Musa atas semua manusia. Rasa sakit hati dan tak terima karena ditampar, membuat orang Yahudi itu melapor kepada Rasulullah SAW. Wajah Nabi SAW pun menyiratkan ekspresi marah saat menerima aduan itu. Dalam kasus ini, beliau membela Yahudi tersebut dan memarahi serta menanyakan apa alasan seorang Muslim tadi menampar Yahudi itu.
Syahdan, Rasulullah SAW pun bersabda, Janganlah kalian membeda-bedakan antara para utusan Allah SWT! Karena sebagaimana diulas di atas sebelumnya, beliau dan para nabi pendahulunya ialah ibarat sekelompok orang yang bahu-membahu membangun sebuah rumah juga memperindahnya. Ada yang menangani tembok, pondasi, atap, dan lain sebagainya. Dan satu bagian terakhir yang menyempurnakan bangunan rumah tersebut adalah labinah di satu sisi sudut, diibaratkanlah itu sosok Rasulullah SAW, penutup para utusan. Mereka semua ditahbiskan sebagai penyeru umat manusia dengan satu misi yang sama dan solid, yakni mentauhidkan Allah.
Realitas plural manusia yang dipimpin oleh masing-masing juru selamatnya, secara otomatis membangun relasi tersendiri di antara nabi dan umatnya. Umat-umat ini memiliki versi panutannya masing-masing. Tidak elok apabila kita memaksakan standar satu pihak kepada pihak lain, karena ini berkaitan dengan keyakinan dan kedekatan masing-masing. Maka dari itu, dalam kacamata psikologis, ketika ada yang menganggap rendah nabi tertentu, umatnya pasti tersinggung dan tidak akan menerima penyikapan yang berisi intensi mengejek.
Rangkaian pasal dalam rukun iman yang selama ini kita kenal mencerminkan kewajiban asasi bagi seorang yang mengaku hamba Tuhan. Di antaranya adalah untuk memercayai nabi dan rasul yang diutus Allah di sepanjang sejarah umat manusia, tidak cukup hanya memercayai nabi yang diutus di masanya saja. Konsekuensi dari mengimani adalah sikap positif, penuh penghargaan dan apresiasi terhadap para nabi rasul, umat, dan ajarannya.
Surat al-Baqarah [2] ayat 285 menyebutkan beberapa unsur yang harus diimani yang kini terangkum dalam kerangka rukun iman, Allah berfirman, Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (al-Quran) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), “Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.” Dan mereka berkata, “Kami dengar dan kami taat. (Mereka berdoa): Ampunilah kami Ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat (kami) kembali.”
Penggalan ayat ini menggambarkan sedikit banyak tipologi seorang mukmin, yang dalam ayat itu diperankan oleh Rasulullah SAW dan golongan yang beriman. Selain mengimani Allah, malaikat, kitab, dan para nabi-Nya, seorang mukmin sejati tidak akan membeda-bedakan antara satu utusan dengan utusan yang lain.Seorang mukmin tidaklah mengimani sebagian dari mereka saja, dan mengingkari sebagian yang lain. Mereka yang beriman akan senantiasa siap menjalankan kerangka aturan Tuhan, dan selalu menyadari kelemahan dirinya, sehingga ia selalu mengharap ampunan serta pertolongan-Nya.
Mencela nabi lain yang menahkodai umat agama tertentu adalah cela itu sendiri. Mereka yang masih merendahkan nabi dan ajaran agama di luar lingkarannya, seolah tak percaya diri akan keyakinannya. Larangan mengomparasikan jajaran utusan Allah telah dilegitimasi baik oleh al-Quran maupun hadis Nabi. Eksesnya pun telah ada dalam sejarah yang terlukis pada kisah antara seorang Yahudi dan Muslim tadi.
Bahaya membandingkan para nabi setidaknya nampak dalam dua hal. Pertama, sikap demikian akan berdampak pada arena sosial-keagamaan yang ditandai meningginya tensi sentimen antarumat beragama. Keretakan hubungan akan membayang-bayangi mereka karena diliputi rasa saling curiga. Suasana damai pun kian jauh dari jangkauan.
Kedua, perilaku membandingkan, sama halnya menciderai pasal keimanan yang telah digariskan oleh Allah. Menganggap Nabi Isa ataupun nabi yang lain gagal adalah kata lain dari melukai diri Rasulullah SAW, karena nabi Isa dan semua utusan-Nya adalah bagian dari keluarga Nabi SAW. Dalam sabdanya, Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa “Para nabi adalah saudara seayah dengan ibu yang berbeda, dan agama mereka adalah satu.”
Para nabi dan rasul Allah adalah manusia terpilih. Mereka tidak sedang berkompetisi, tapi mereka diutus untuk bekerja sama membimbing umat manusia ke jalan kebahagiaan yang diperkenankan Tuhan. Mereka ditempatkan pada lipatan sejarah yang berbeda-beda, namun dengan tipologi dasar ajaran yang sama. Dengan demikian, apapun keyakinan kita, kita dilarang keras membandingkan apalagi mencela utusan-utusan Allah, agar kedamaian dan relasi harmonis manusia senantiasa terjaga. Wallahu a’lam. []