Kolom

Menjaga Nyala Semangat Perawat Indonesia

2 Mins read

Masa pandemi Covid-19 yang telah berjalan setahun lamanya. Tugas para perawat pun terasa semakin berat. Perawat menjadi salah satu garda terdepan menghadapi wabah mematikan ini. Menurut catatan organisasi Persatuan Perawan Nasional Indonesia (PPNI), sebanyak 274 perawat meninggal dunia, kala menangani pandemi Covid-19 di Indonesia. Ketua Umum DPP PPNI Harif Fadillah mengungkapkan, lebih dari 15 ribu perawat Tanah Air dilaporkan terjangkit Covid-19.

Sejak zaman penjajahan dahulu, perawat di Indonesia telah ada dengan nama Residen Vpabst tahun 1819 di Batavia. Kemudian berubah menjadi Stadsverband tahun 1919, lalu berubah lagi menjadi Central Burgerlijke Zieken Inrichting (CBZ). Organisasi PPNI sendiri telah berumur sekitar 53 tahun, sejak didirikannya pada tanggal 17 Maret 1974. Lalu kemudian pada 17 Maret 2021, dalam peringatan Hari Perawat nasional, hendaknya menjadi momentum menjaga nyala api semangat para perawat Indonesia untuk terus berkontribusi penuh dalam penanganan Covid-19 khususnya. Kita patut mengapresiasi setinggi-tingginya jasa dan kinerja para perawat selama ini.

Dalam tugas dan fungsinya, perawat memiliki peran penting dalam upaya kuratif dan rehabilitatif, berdasarkan pada Undang-Undang No 39 Tentang Kesehatan. Artinya, perawat memainkan peran langsung dalam pengusahaan kesehatan yang dilakukan untuk mencegah penyakit menjadi lebih parah melalui pengobatan. Perawat juga memiliki tugas cukup dominan dalam upaya maupun rangkaian kegiataan yang ditunjukkan kepada para pasien yang sudah tidak menderita sakit atau rehabilitatif.

Masih berdasar pada Undang-Undang No 39 Tentang Kesehatan, tugas penting lainnya bagi para perawat ialah fungsi preventif dan promotif. Fungsi preventif dimaknai sebagai usaha pencegahan terhadap suatu masalah kesehatan atau penyakit. Sedangkan fungsi promotif yaitu kegiatan yang lebih mengutamakaan promosi kesehatan. Dalam konteks pendemi, peran-peran tersebut dilaksanakan dalam proses 3T (Tracing, Testing, Treatment) dan 3M (Menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak).

Tugas berat yang harus dilalui oleh para perawat, sudah semestinya dibarengi dengan kesadaran dan kerjasama masayarakat, agar kerja keras para perawat tidak menjadi sia-sia. Kita mesti menghormati profesi mulai perawat, mesti bangga dan mengangkat topi untuk kinerja para perawat masa pandemi ini. Jangan biarkan para perawat yang telah berjuang di garis depan merasa dikerdilkan dan tak dianggap keberadaanya. Hasil survai Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia dan Ikatan Kesehatan Jiwa Indonesia menunjukkan, ratusan perawat pernah merasa dipermalukan oleh orang lain karena statusnya sebagai perawat Covid-19. Alih-alih merasa bangga menjadi pahlawan dalam penanganan Covid-19, banyak perawat justru memilih menyembunyikan statusnya sebagai perawat.

Ketua Divisi Penelitian Ikatan Perawat Kesehatan Jiwa Indonesia, Herni Susanti, merangkum jajak pendapat yang dilakukan pada April 2020 terhadap 2.050 perawat se-Indonesia. Hasilnya, 140 perawat pernah merasa dipermalukan karena menangani pasien Covid-19. Bahkan, 135 perawat pernah diminta meninggalkan tempat tinggal mereka. Dalam survai itu juga menunjukkan, terdapat bentuk nyata penolakkan yang dialami perawat, antara lain ancaman pengusiran sebanyak 66 responden, orang-orang sekitar menghindar dengan menutup pagar rumah atau pintu mereka ketika melihat perawat, sebanyak 160 responden, dan masyarakat ikut menjauhi keluarga perawat, sebanyak 71 responden.

Saya sendiri tak bisa membayangkan betapa hancur dan pedih perasaan para perawat saat mengalami diskriminalisasi itu. Akibat minimnya pemahaman tentang Covid-19, stigma buruk terbangun di kalangan masyarakat, dan tersematkan pada para perawat. Perawat yang telah berjuang mati-matian, mengurus, merawat, dan melayani keluarga-keluarga pasien Covid-19, tak mendapati perlakuan yang semestinya. Namun saya berharap, perlakuan kurang baik sebagian masyarakat kepada para perawat, tidak menyurutkan semangat dan dedekasi para perawat untuk terus bekerja semaksimal mungkin. Antara perawat dan masyarakat harus ada titik temu yang dapat menciptakan sinergitas, demi Indonesia yang sehat.

Sebaliknya, PPNI selaku organisasi yang menaungi perserikatan perawat, juga terus menjaga kualitas, meningkatkan kompetensi, mengadvokasi standarisasi dan profesionalitas para perawat. Meski diakui Ketua Umum DPP PPNI, perawat kita telah memiliki kecakapan yang mumpuni, namun tidak lantas membuat besar kepala dan abai pada peningkatan mutu, standarisasi dan pengawasan pada para perawat.

Kedepannya, semoga PPNI semakin baik, berkualitas dan menjunjung tinggi profesionalitas. Meski kadang, profesi sebagai perawat dipandang sebelah mata oleh sebagian orang, namun semoga tidak mengurangi semangat para perawat untuk terus memberikan yang terbaik dalam melayani masyarakat. Para perawat harus tetap tegar menghadapi tekanan. Tak dipungkiri, era pendemi ini tugas dan tanggung jawab seorang perawat menjadi berlipat. Dan perjuangan menghadapi Covid-19 belum usai, oleh karenanya, nyala semangat para perawat harus tetap dikobarkan, untuk Indonesia sehat.

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2024)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…