Berita

Amien Rais Jangan Bikin Kegaduhan Baru

2 Mins read

Isu mengenai perpanjangan masa jabatan presiden 3 periode kembali memanas. Setelah sebelumnya Amien Rais mengatakan, bahwa ada skenario perubahan peraturan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 soal masa jabatan presiden dari 2 periode menjadi 3 periode. Menurutnya, skenario itu muncul lantaran ada opini publik yang menunjukkan ke arah mana pemerintahan Presiden Jokowi melihat masa depannya. Pernyataan pendiri Partai Ummat tersebut melahirkan huru-hara publik yang membuat kegaduhan baru.

Setelah prasangka ngawur Amien Rais yang menggemparkan publik tersebut, Presiden Joko Widodo membantah pernyataan Amien Rais dengan adem dan kalem. Melalui tayangan video di kanal Youtube Sekretariat Presiden, yang mengatakan, “Apalagi yang harus saya sampaikan? Sikap saya tidak berubah. Janganlah membuat kegaduhan baru. Kita saat ini tengah fokus pada penanganan pandemi. Saya tegaskan, saya tidak ada niat dan tidak ada juga berminat untuk menjadi presiden 3 periode. Konstitusi mengamanahkan 2 periode. Itu yang harus kita jaga bersama-sama.”

Sementara itu perlu kita ketahui, masa jabatan presiden telah diatur dalam Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 7, yang berisi, “Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatan selama lima tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama, hanya untuk satu kali masa jabatan.” Dalam Pasal 7 tersebut jelas telah dikatakan, bahwa Presiden dan Wakil Presiden hanya dipilih oleh rakyat dan cuma boleh menjabat maksimal selama 2 periode. Jika lebih dari itu, maka akan mencederai demokrasi negeri ini.

Di samping itu, dari masa ke masa, kritik yang dilakukan Amien Rais selalu menimbulkan kekacauan. Amien Rais mengkritik lawan politiknya tanpa memberi solusi. Kritik yang dilakukan Amien Rais malah menjatuhkan atau mempermalukan seseorang. Namun, dari sejumlah kritiknya untuk Presiden Jokowi, Amien Rais selalu gagal. Perbuatannya itu justru menjerumuskan dirinya ke jurang kebencian, hari demi hari dia malah dibenci oleh rakyat. Sebab, dia berkomentar dan berprasangka tanpa menggunakan data dan fakta yang ada. Sepertinya, pendiri Partai Ummat ini memang suka membuat dan mengada-ngada opini. Hal ini yang menyebabkan semua ucapan Amien Rais diragukan kebenarannya.

Bisa kita sebut, Amien Rais adalah seorang yang suka dengan kegaduhan. Semenjak Presiden Jokowi menjabat saja, beberapa kali dia mengkritik pemerintahan dengan tuduhan yang menjatuhkan. Seperti pada tahun 2018 lalu, saat itu Amien Rais menyudutkan Presiden Jokowi. Dia mengatakan pemerintahan Presiden Jokowi telah membohongi rakyat. Hal tersebut terjadi, berawal dari upaya kerja keras Presiden Jokowi dalam program pembagian sertifikat tanah gratis untuk rakyat. Namun, niat baik Pak Jokowi dinodai oleh Amien Rais, dengan menuding program pemerintah yang gencar membagikan sertifikat tanah kepada masyarakat tersebut merupakan suatu kebohongan atau pengibulan.

Seharusnya, kata-kata tak pantas ini tidak keluar dari mulut mantan ketua MPR RI. Selain itu, di usianya yang sudah tua, Amien Rais harus menjaga sikap, bukan malah memanaskan situasi demokrasi negeri ini. Apabila Amien Rais terus-menerus membuat opini yang menyesatkan seperti itu, maka hal tersebut akan merusak karakter dan moral anak bangsa yang mengikuti jejaknya, sebab opini yang menjerumuskan itu adalah pembodohan publik. Kemudian, hal seperti itu akan mengancam situasi dan kondisi demokrasi kita.

Sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, setelah India dan Amerika Serikat, ujian dan tantangan bagi demokrasi kita bukan hanya makin beragam dan kompleks, tetapi juga semakin mengkhawatirkan. Karena berpotensi mengancam kelangsungan dan masa depan demokrasi itu sendiri. Salah satu tantangan kelangsungan demokrasi kita adalah semakin melembaganya suasana saling curiga antar golongan masyarakat. Faktor penting di balik melembaganya suasana saling tidak percaya tersebut adalah bangkit dan menguatnya kembali politik identitas dan populisme berbasis primordial (Konservatisme Politik Anti Jokowi, 2019). Hal ini serupa dengan yang dilakukan oleh Amien Rais terhadap tuduhannya ke Pemimpin tertinggi negara.

Dengan demikian, Amien Rais yang pengalaman politiknya sudah tidak diragukan lagi, dan di usianya yang sudah sepuh, harusnya berhenti membuat kegaduhan. Mengkritik boleh, asalkan sesuai dengan batas wajar. Karena jika, kita mengkritik tanpa menggunakan solusi, maka hal tersebut adalah cacian dan akan menjatuhkan seseorang. Selain itu, Indonesia adalah negara yang damai, maka dari itu, kita harus menghiasinya dengan saling percaya antara satu dengan yang lain.

Related posts
Berita

Amal Baik Tidak Menggugurkan Kewajiban Shalat

Shalat lima waktu adalah ibadah wajib bagi setiap Muslim. Printah ini mutlak sebagai bukti pengabdian hamba kepada Tuhannya, tak bisa digugurkan dengan…
BeritaKolomNasihat

Mencermati Warisan Kolonial di Masa Kini

Kolonialisme bukan sekadar menjadi persoalan masa lalu. Kemerdekaan secara de facto dan de jure yang telah disandang bangsa ini nyatanya bukan jaminan…
BeritaKolom

Terpidana Korupsi Tak Layak Dikasihani

Pengadilan Tinggi DKI Jakarta menerima banding yang diajukan terdakwa kasus korupsi Pinangki Sirna Malasari. Majelis hakim memutuskan memangkas hukuman Pinangki, dari 10…