Fakta teranyar pemenggalan kepala guru Patty (47 tahun) di Perancis dilatarbelakangi oleh kebohongan anak kecil pada ayahnya. Keterangan ini sangat mengejutkan, karena hampir seluruh masyarakat dunia dibuat gentar informasi di media sosial atas peristiwa tragis yang berlindung dibalik topeng agama itu. Demikian informasi hoaks tidak bisa dianggap sepele sebab bisa melayangkan nyawa seorang yang tak bersalah.
Dalam kronologinya, Brahim Chnina yang mendapat laporan hoaks tentang Samuel Patty yang memerintah siswa Muslim keluar kelas, karena akan menunjukkan karikatur yang dikira Nabi Muhammad SAW dari putrinya yang berumur 14 tahun merasa geram, secara spontan menggalang solidaritas seagama di media sosial. Padahal, siswa yang dikeluarkan dari kelas hanya dirinya sendiri, karena diskors oleh gurunya akibat sering membolos sekolah dan Patty sebagai guru sejarah sebenarnya di kelas tengah ia tengah mengajarkan kepada siswanya terkait insiden traumatik di Perancis yang menimpa majalah satire Charlie Hebdo yang diserang teroris pada 2015, hingga menewaskan 12 orang sebab karikatur tersebut.
Adapun diskors menjadi alasan yang mendorong siswa ini berbohong sebab khawatir diketahui orang tuanya, yang mana siswa ini dideteksi terkena sindrom inferiority kompleks, yakni ia sangat patuh kepada ayahnya. Mestinya, Chnina yang mendapat laporan tersebut mengonfirmasi benar atau tidaknya kabar burung tersebut. Sayangnya, ayah dari siswi ini juga gegabah karena langsung menelan mentah-mentah dan menyebarluaskan informasi provokatif ini di media sosial. Sontak, salah seorang ekstrimis yang mendengar kabar tersebut langsung mengeksekusi dengan memenggal kepala guru Samuel Patty. Peristiwa tragis ini terjadi selang sepuluh hari usai pengajarannya dari kelas yang bersangkutan.
Dalam Islam kita mengenal konsep tabayyun, yakni berterus terang dengan pihak yang berkaitan agar penjelasan yang diterima bisa dikonfirmasi dengan jelas. Allah SWT berfirman, Hai orang-orang yang beriman, Jika datang kepadamu seorang yang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaan yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu (QS. Al-Hujurat: 6).
Berdasarkan ayat di atas, ketidakcermatan Chnina dalam menerima pesan menimbulkan masalah yang tak terduga. Meski Chnina bukan eksekutor pemenggalan, tetapi ia menjadi instrumen pesan yang mengundang ekstremis melakukan aksi brutalnya. Media sosial yang bisa diakses secara bebas oleh semua orang, menjadi penting bagi kita untuk waspada dalam menuliskan setiap kata yang dituliskan.
Ironis, kebenarannya terungkap tapi tidak mengubah apapun. Samuel Patty tidak bisa dihidupkan kembali. Ia menjadi korban atas kelengahan seseorang yang lalai memeriksa informasi dan orang yang arogan dalam bersikap karena dikuasai hawa nafsu kebencian. Sedikit memaklumi, mungkin ini sifat manusiawi, manusia baru bisa mengambil pelajaran ketika suatu peristiwa buruk itu telah terjadi. Kendati perintah untuk tabayyun dan bijak dalam menggunakan media sosial kerap peringatkan, tetapi selalui masih dirasa abai oleh banyak masyarakat.
Mengutip The Museum of Hoaxes (2002), Alex Boase mendefinisikan hoaks sebagai tindak penipuan yang melibatkan respons publik, yang mana kebohongan ini sukses menyita perhatian dan imajinasi publik. Terkait huru-hara peristiwa Guru Patty, masyarakat yang terpengaruh narasi hoaks sekaligus ujaran kebencian justru mendukung adanya perilaku sadis yang dilakukan ekstremis. Demikian, hoaks yang tersebar di media sosial menyeragamkan ketidakwarasan publik atas tindak asusila.
Meski begitu, tak sedikit dari mereka yang menolak setiap tindak kekerasan dan berpikir kritis dalam menggali informasi. Masyarakat yang seperti ini merupakan masyarakat yang dibutuhkan untuk mendamaikan negeri. Persoalan hoaks juga tidak hanya pada Guru Patty yang menjadi korban, melainkan identitas Muslim yang terbawa dalam persoalan, kian menyudutkan minoritas umat Islam yang ada di Perancis dan beberapa wilayah bagian. Itu sebabnya, salah satu masjid di Perancis ditutup karena ditengarai terlibat dalam aksi teror di dalam negeri.
Hoaks bukan masalah sederhana, ia menjadi sumber fitnah yang berpotensi mengundang bahaya yang lebih besar. Cepat atau lambat jika bahaya hoaks tidak segera disadari, maka umat terpecah belah, merasa selalu dicurigai, hingga hilangnya kepercayaan seakan kebenaran telah sirna.
Maka dari itu, memperbaiki cara berkomunikasi, baik secara verbal dan non verbal itu menjadi sangat signifikan. Yakni lebih selektif dalam memilih informasi, gunakan bahasa yang santun, lebih banyak riset, upayakan situs website terdaftar secara resmi agar konten bisa dipertanggungjawabkan.
Sebelumnya, saya pun sudah menulis, bahwa kasus pemenggalan kepala Guru Patty tidak dibenarkan, baik atas nama agama maupun kemanusiaan. Ketika kita dihadapkan pada suatu ketidakjelasan informasi walaupun sudah mencari kebenarannya, maka sikap yang paling baik tidak lain jangan mudah terprovokasi oleh narasi yang bernuansa kebencian, karena itu sebisa mungkin kita mengurangi rasa sinis agar tidak terperangkap oleh tipu daya kebencian. Pada akhirnya, manusia hanya bisa mengambil pelajaran atas peristiwa yang terjadi. Mari kita lebih bijak dalam berkomunikasi dan menggunakan media sosial agar ironi pemenggalan kepala Guru Patty atas bahaya hoaks, tidak lagi terjadi.