Yahya Waloni tak ada habis-habisnya melontarkan pernyataan kontroversial. Hampir setiap hari, ia selalu menjadi pemberitaan di media online dan media sosial karena ceramahnya yang kerap menebar kebencian dan intoleran. Terkini, pernyataannya kembali viral. Ia menyebut Nabi Muhammad SAW bukan pembawa Islam dan Yesus Kristus bukan Tuhan karena disalib. Untuk itu, kita perlu mempertanyakan, sejatinya Yahya Waloni ini semangat untuk berdakwah atau menebar kebencian?
Perlu diketahui, bukan kali ini saja Yahya Waloni memberikan pernyataan kontroversial dan dakwah kebencian, baik melalui mimbar-mimbar ceramahnya secara langsung maupun media streaming Youtube. Sebelumnya, Yahya Waloni juga pernah menyebut Yesus sebagai Nabi gagal dan menjelek-jelekkan agama lain. Jauh sebelum itu, pada tahun 2018 Yahya Waloni sudah pernah dilaporkan karena ceramahnya yang menghina. Ia dianggap menghina mantan Presiden Megawati Soekarno Putri, KH. Ma’ruf Amin, hingga Tuan Guru Bajang mantan Gubernur NTB. Bahkan, dalam ceramahnya yang viral kemarin, ia diusir oleh sejumlah warga masyarakat karena membawa narasi politik dalam ceramahnya.
Bagi saya, apa yang diperlihatkan oleh Yahya Waloni di atas menunjukkan bukan sebuah semangat berdakwah. Dakwah itu secara harfiah artinya mengajak. Dalam arti lain, dakwah berarti mengajak orang pada jalan kebaikan. Karenanya, dibutuhkan sebuah metode yang tepat agar tujuan dari dakwah itu tercapai. Metode seperti apa? Yaitu metode penyampaiannya dengan dengan cara yang bijaksana dan santun.
Dalam al-Quran, disebutkan bahwa dakwah haruslah dengan bi al-hikmah, kebijaksanaan, wisdom dan bi al-mau’idzat al-hasanah, nasihat yang santun. Al-Quran secara tegas menekankan dan lebih mengedepankan pentingnya pendekatan bi al-hikmah dan bi al-mau’idzat al-hasanah tersebut. Sebagaimana disebutkan dalam QS. al-Nahl ayat 125, Serukanlah ke jalan Tuhanmmu dengan hikmah (bijaksana) dan nasihat yang santun.
Dari ayat di atas, dapat kita pahami bahwa dalam berdakwah sebenarnya ada acuan khusus, seperti tujuan, metode, sekaligus etika dalam berdakwah. Artinya, dakwah tidak hanya cukup berbekal penampilan yang hanya mampu membangkitkan emosi kolektif umat, tetapi dakwah harus dapat menyampaikan pesan-pesan universal agama, sekaligus mengajak umat untuk memahami ajaran, tradisi, dan konteks keumatan dengan baik, tepat, dan benar.
Dalam hal ini, dakwah sebagai cara untuk memahami ajaran Tuhan yang Mahaagung membutuhkan kebijaksaan yang luas dalam praktiknya dan disampaikan dengan cara yang santun. Dengan kata lain, kebijaksanaan dan penyampaian yang santun merupakan unsur yang dominan dan determinan dalam berdakwah. Tanpa pendekatan kebijaksanaan dan penyampaian yang santun, maka dakwah tidak akan mendatangkan kebenaran dan kebaikan, apalagi kemaslahatan. Bahkan sebaliknya, bisa memicu timbulnya tindakan anarki dan provokasi.
Namun, contoh kasus Yahya Waloni di atas, faktanya menunjukkan tidak adanya etika dalam berdakwah sama sekali. Dakwah harusnya menggunakan metode penyampaian yang santun dan pendekatan kebijaksanaan seperti yang ditegaskan dalam al-Quran, bukan penyampaian yang penuh kebencian dan hinaan. Dakwah sejatinya membentuk kepribadian yang baik dan luhur (akhlak al-karimah), baik sebagai seorang individu maupun sebagai kelompok sosial. Sebagaimana sabda Rasul, Aku sendiri diutus oleh Allah tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia yang mulia.
Dalam hal ini, Kiai Masdar dalam Kiai Masdar Membumikan Agama Keadilan (2020) menjelaskan akhlak individu yang dimaksud adalah karakter, kepribadian, atau perilaku yang baik dari seseorang. Sementara akhlak sosial yang dimaksud adalah relasi sosial yang baik antara individu dengan individu lain ataupun antara kelompok satu dengan kelompok lainnya. Artinya, sebagai individu seseorang harus memiliki sikap yang jujur, berani membela kebenaran, menepati janji, suka menolong, menghargai sesama, pekerja keras, dan sebagainya. Sedangkan sebagai makhluk sosial, seseorang harus memiliki sikap demokratis, toleran, moderat, adil, mengedepankan kemaslahatan, memiliki kepedulian terhadap kepentingan orang banyak, dan seterusnya.
Pertanyaaannya, apakah dakwah Yahya Waloni tersebut pada akhirnya menghadirkan kepribadian yang baik dan luhur, baik sebagai makhluk individu maupun sosial? Silakan pembaca simpulkan sendiri. Yang jelas, ceramah Yahya Waloni belakangan membuatnya diusir oleh sejumlah warga masyarakat di sana. Mungkin, sebentar lagi juga akan diikuti oleh warga masyarakat lainnya.
Karena itu, saya mendorong berbagai pihak, khususnya instansi pemerintahan ataupun organisasi masyarakat untuk mengontrol sekaligus mengawasi para penceramah ataupun pendakwah yang telah melenceng dari spirit dakwah itu sendiri. Lembaga masyarakat seperti Majelis Ulama Indoensia (MUI) harusnya bersuara lantang memberi teguran keras kepada Yahya Waloni. Namun kenyataannya, MUI sampai hari ini diam saja, tidak memberikan komentar apapun, apalagi memberikan teguran.
Di samping itu, saya juga menghimbau kepada masyarakat agar terus waspada dan sadar terhadap para penceramah dan pendakwah yang kerap menebar kebenciaan, cacian, dan hinaan kepada sesama anak bangsa. Masyarakat harus berupaya untuk mencegah kehadiran pendakwah semacam itu agar tidak menjadi biang kegaduhan dan sumber konflik di lingkungan sekitarnya. Dan yang paling penting adalah masyarakat harus tegas menindak—memberhentikan ceramahnya—pendakwah semacam itu, seperti yang dilakukan oleh sejumlah warga masyarakat yang saya sebut di atas.
Walhasil, jika melihat uraian-uraian di atas, antara gaya dakwah Yahya Waloni dan makna dakwah itu sendiri, maka apa yang dapat pembaca sekalian simpulkan? Yahya Waloni ini semangat untuk berdakwah atau semangat menebar kebencian?