Kolom

Hoaks Menyesatkan Umat Manusia

2 Mins read

Penyebaran hoaks di tengah-tengah masyarakat sangat mengkhawatirkan kita semua. Peristiwa tersebut terjadi karena mudahnya masyarakat mengakses internet. Kemajuan teknologi, seperti canggihnya alat komunikasi dan berkembangnya media sosial akan memperlancar siapa saja membuat berita, entah berita palsu atau fakta. Banyaknya situs informasi yang tidak jelas asal-usulnya menjadi salah satu penyebab tersebarnya berita palsu. Hoaks adalah berita dusta atau informasi bohong yang menyesatkan semua umat. Maka itu, perlu perhatian khusus untuk menghentikan penyebaran hoaks.

Seiring berkembangnya Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (TIK), hoaks pula ikut berkembang. Hoaks sendiri banyak tersebar di sejumlah media elektronik, khususnya media sosial. Alat digital dan media sosial digunakan, karena sebuah informasi yang akan dipublikasikan memiliki kecepatan akses yang lebih tinggi, apabila dibandingkan dengan media konvensional. Kemudahan tersebut memiliki sisi negatif dan dimanfaatkan oleh beberapa orang tak bertanggung jawab untuk menyebar informasi palsu.

Seseorang yang terpapar hoaks, akibatnya sangat fatal. Dilansir dari Kompas.com (08/10/2024), dalam sebuah studi para psikolog sepakat, bahwa berita hoaks bisa memberikan dampak buruk pada kesehatan mental, seperti post-traumatic stress syndrome (PTSD), menimbulkan kecemasan, sampai kekerasan. Tidak hanya itu, psikolog percaya, orang yang terpapar hoaks juga akan membutuhkan terapi, karena diselimuti kecemasan, stres, dan merasa kesepian. Dampak buruk korban hoaks tersebut menimbulkan kekhawatiran banyak masyarakat.

Sementara itu, salah satu contoh dampak mengerikan hoaks ini telah terjadi di negara besar, seperti Prancis. Siapa yang tidak tahu dengan kasus pemenggalan kepala seorang guru sejarah di Prancis yang menggemparkan publik beberapa waktu lalu? Akhir-akhir ini, peristiwa tersebut naik kembali, karena kepolisian setempat menemukan fakta, kesaksian dan bukti baru. Ternyata, pembunuhan sadis tersebut berawal dari kebohongan seorang siswi berusia 13 tahun yang takut membuat ayahnya marah, sebab dia diskors dari sekolahnya karena sering membolos.

Karena tidak ingin mengecewakan orang tuanya, siswi itu mengarang cerita untuk disampaikan kepada ayahnya. Siswi tersebut bercerita, bahwa gurunya Samuel Paty menginstruksikan murid Muslim untuk meninggalkan kelasnya agar sang guru bisa menunjukkan karikatur Nabi yang telanjang. Singkat cerita, karena kemarahan ayahnya terhadap Samuel Paty semakin meninggi, lalu ayahnya itu membuat sejumlah video provokasi yang tersebar luas hingga sampai ke seorang yang radikal, dan pada akhirnya membunuh sang guru malang itu.

Dari kasus tersebut membuktikan, bahwa hoaks benar-benar sangat berbahaya sekali. Kemudian, hoaks adalah persoalan yang amat serius. Pasalnya seseorang yang tidak tahu-menahu menjadi korban pembunuhan yang sangat sadis. Hoaks menjadi salah satu pemicu timbulnya fenomena gesekan, permusuhan, kebencian, yang merugikan semua orang. Saat ini, hoaks merupakan ancaman nyata bagi siapapun, termasuk masyarakat yang tidak mengerti apa-apa.

Oleh karena itu, kita harus membendungnya. Menurut saya, untuk mencegah penyebaran hoaks harus dimulai melalui keluarga, lingkungan sekitar, dan sekolah atau kantor. Kita yang memahami akan bahaya penyebaran hoaks harus mensosialisasikan dampak buruknya, dari satu tempat ke tempat lain. Kemudian, jika kita mendapatkan suatu informasi atau berita, maka kita harus memastikan kembali kebenarannya serta aktif untuk bertanya langsung kepada ahlinya. Selain itu, kita juga bisa memanfaatkan situs-situs yang menyediakan layanan pengecekan data dan fakta, agar berita hoaks dapat dihindarkan.

Dengan demikian, dari sekian banyaknya kasus hoaks, tidak ada satupun yang memiliki manfaat. Justru, hoaks menimbulkan huru hara yang meruntuhkan keharmonian dan kerukunan rumah tangga Ibu Pertiwi. Di samping itu, untuk membendung penyebaran berita bohong dan apabila kita menerima informasi, jangan langsung diteruskan ke pihak mana pun. Untuk kenyamanan bersama, kita sebagai anak bangsa harus cerdas dalam menyaring informasi.

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2024)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…