Kolom

Ideologi Terorisme Bukan Representasi Islam

2 Mins read

Setiap aksi yang dilakukan oleh kelompok teroris baik pengeboman maupun perekrutan, kepercayaan (agama) memiliki tempat tersendiri. Selain menggunakan agama sebagai legitimasi atas perbuatannya, sehingga wujud jihad fisabilillah menjadi suatu perjuangan yang dibenarkan.

Sejak peristiwa September 2001 yang menggemparkan dunia, di Amerika Serikat, ada kecenderungan mereduksi pengertian terorisme, seakan identik dengan agama Islam. Setiap orang yang menyebut kata teroris, maka yang ada di benak kita adalah sosok Osama bin Laden atau “para teroris muslim” lainnya.

Indonesia sebagai suatu negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam, dan sekaligus merupakan negara yang berpenduduk Islam terbesar di dunia telah mendapat label sebagai negara sarang para terorisme. Hal ini akibat terjadinya rentetan peristiwa teror bom bunuh diri yang menyasar ruang publik, antara lain pemboman di Legian Kuta Bali. Dimana peristiwa ini menelan korban ratusan orang meninggal dunia serta luka-luka. Hal tersebut mendapatkan kecaman dari berbagai pihak serta negara-negara lainnya.

Selain itu peristiwa ini mendorong dewan keamanan PBB, mengeluarkan resolusi yang menyatakan bahwa serangan di Bali ini sebagai ancaman bagi perdamaian dan keamanan Internasional. Oleh karena itu, semua anggota PBB harus bekerja sama untuk memerangi terorisme serta menanggulangi. Fakta dan kenyataannya menunjukkan, bahwa pelaku terorisme di Indonesia bukan hanya warga negara Indonesia. Namun terdapat beberapa diantaranya orang asing seperti Nurdin M Top, Hambali, dan beberapa orang lainnya. Dimana dengan keahliannya merekrut pemuda-pemuda Indonesia untuk meledakkan bom di tanah airnya sendiri, dan menimbulkan korban yang tidak sedikit.

Akan tetapi, tidak sedikit bagi pengamat terorisme dan penulis mendeskripsikan bahwa Islam merupakan muara semua tindakan tersebut. Perbedaan diksi ini membuat Islam menjadi bulan-bulanan dimana dituntut untuk mempertanggungjawabkan serta kembali membenahi pemahamannya. Secara garis besar, hal tersebut tentunya tidak salah dan tidak bisa juga dibenarkan, terlebih kelompok teroris bukan hanya beranggotakan kelompok Islam garis keras.

Setidaknya ada tiga ideologi pergerakan kelompok teroris seperti kekuasaan, ekonomi, dan kepercayaan yang masih harus dipertimbangkan oleh pemerhati dan pengamat teroris. Hal tersebut menjadikan Islam bukan satu-satunya yang harus bertanggung jawab dalam hal Ideologi, faktanya kelompok Islamic State Iraq and Syria (ISIS/ISIL) memiliki anggota baik dari Benua Amerika, Eropa hingga ASEAN.

Sebagai contoh kelompok ISIS/ISIL, hanya mengedepankan penaklukan kota-kota di Irak dan Suriah untuk menjadikan negara versi ISIS, selain itu motif ekonomi menjadi penghubung mutlak untuk bergabung dengan kelompok teroris seperti yang diungkapkan oleh penulis buku ‘300 Hari di Bumi Syam’. Selain itu, pelaku bom di Indonesia memiliki motif yang sama dimana ekonomi dan keingintahuannya ikut bergabung dalam beberapa kelompok teroris, hal tersebut sama seperti apa yang diceritakan dalam buku “Teroris Indonesia”.

Motif lainnya yang harus dipertimbangkan menurut penulis adalah seperti balas dendam dan mencari jati diri. Hal tersebut disebabkan oleh pelaku martir yang masih berusia remaja, di Indonesia sendiri tidak sedikit pelaku yang masih remaja menjadi eksekutor bagi kelompok teroris. Terlebih diusia tersebut memiliki rasa keingintahuan terhadap sebuah kelompok ataupun jati diri yang mendalam, mengakibatkan sangat mudah disusupi paham-paham radikalisme yang berujung pada keterikatan serta ketertarikan melakukan bom bunuh diri.

Dalam buku homo deus, menggambarkan setidaknya kelom teroris bisa meluluh lantahkan sebuah negara, terlebih jika pemerintahnya abai terhadap isu-isu radikalisme dan terorisme. Tentunya tantangan ini berlaku bagi setiap negara di seluruh penjuru dunia, tidak terkecuali Indonesia. Singkatnya, dalam pergerakan teroris tidak bisa hanya mengandalkan ideologi kepercayaan atau agama. Hal tersebut tidak akan bisa digunakan jika terdapat anggota yang berlainan keyakinan, namun motif ekonomi serta kekuasaan bisa menyakinkan ataupun mempertahankan setiap anggotanya, didalam Islam perilaku teroris yang menghakimi agama lain sangatlah tidak didukung untuk kebenarannya, selain itu kelompok tersebut tidak mencerminkan Islam yang damai atau tidak merepresentasikan Islam yang sebenarnya.

Related posts
KolomNasihat

Cara Berpikir Kritis ala Ibnu Khaldun

Menjadi Muslim, bukan berarti pasif menerima kehendak ilahi, melainkan berada dalam keadaan kritis yang konstan. Berpikir kritis adalah bagian penting dari warisan…
Kolom

Covid-19, Kegentingan yang Semakin Nyata

Kasus positif Covid-19 di Indonesia kembali mencetak rekor tertinggi sejak pandemi karena pertama kalinya menembus angka 20.574 kasus perhari pada Kamis (24/6/2024)….
Dunia IslamKolomNasihat

Demokrasi Pancasila itu Islami

Demokrasi memang telah mengantarkan Dunia Barat mencapai kemajuan menuju kemakmuran bagi rakyatnya. Namun, bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah sistem pembangunan negara belum mencapai…