Bukan satu dua kali gelanggang dakwah negeri kita diisi oleh seorang yang mengaku penceramah, tetapi ucapannya hanya membuat gerah. Kali ini Yahya Waloni, seorang mualaf yang mencoba peruntungan di panggung dakwah tersebut, tak hentinya memproduksi ceramah yang hanya menjadi bumerang bagi Islam. Dalam banyak videonya, ia kerap mengangkat tema tentang agama Kristen selaku kepercayaan lamanya. Bukan nuansa teduh yang dibangun untuk menjembatani kerukunan antaragama, ia malah habis-habisan menghina Kristen dan apa yang terkait dengannya.
Waloni menginterpretasikan ajaran Islam secara sembarangan. Tak nampak itikad luhur dalam ceramahnya seperti wajarnya seorang pembawa obor ilmu agama. Pola ‘dakwah’ penuh kebencian dan sarkasme semacam itu hanya akan memecah belah bangsa dan menjadi sumber pembodohan masyarakat luas. Selain juga akan merugikan Islam yang menjadi kendaraannya.
Kontroversi demi kontroversi ia tuai. Dengan mem-branding diri sebagai mantan pendeta yang mendapat hidayah untuk memeluk Islam, Waloni membuai pendengarnya dengan cerita-cerita misionaris dan misi kristenisasi yang mengintai. Isu semacam itu biasanya memantik heroisme masyarakat. Dalam psikologi mereka seolah terbentuk semacam tuntutan untuk melindungi agama dari indoktrinasi orang Kristen. Yang dibangun oleh Waloni semata-mata hanya kecurigaan, bukan narasi inspiratif yang bisa menguatkan persaudaraan antaragama.
Secara lantang ia merendahkan Kristen dan Protestan dengan menyebutnya pro-setan. Bahkan Isa al-Masih disebutnya sebagai Nabi yang gagal menuntun manusia ke jalan lurus, dan hanya Nabi Muhammad yang berhasil menunaikannya. Umat Kristiani tentu sakit hati mendengar ini, dan Islam pun menanggung malu atas kelakuan semacam ini. Rasulullah SAW sendiri jelas melarang umatnya membanding-bandingkan beliau dengan nabi-nabi yang lain, termasuk melebihkan Nabi Muhammad SAW atas nabi lainnya.
Jejak digital Waloni pun menorehkan fakta, bahwa ia juga sering mengeluarkan amukan verbal kepada banyak tokoh, seperti Cak Nur, TGB (mantan Gubernur NTB), mantan Ketua KPK Agus Raharjo, Ma’ruf Amin, serta Megawati. Yang tak kalah membuat geram adalah saat ia menceritakan pengalamannya sengaja menabrak anjing hingga pincang, dengan dalih bahwa binatang tersebut najis. Saya tidak habis pikir, ia dengan bangga melakukan kekejian terhadap makhluk Tuhan. Tanpa perlu dalil, kepada hewan sekalipun sudah semestinya kita tak menyakiti.
Saya tak hendak melansir satu per satu ocehan ngawur Yahya Waloni. Namun, dari sekian contoh yang diangkat, setidaknya kita dapat menyimpulkan bahwa ujarannya sama sekali tidak mencerminkan ajaran Islam dan amat membahayakan bagi relasi keumatan masyarakat. Ucapannya pun tak dapat dipercaya. Sebagai contoh, ia mengklaim diri sebagai pendiri dan mantan rektor UKIP (Universitas Kristen Indonesia Papua), tapi mengundurkan diri pada 2004. Padahal kampus tersebut baru berdiri pada April 2005. Dan masih banyak klaim-klaim lainnya yang beraroma bualan.
Ada tiga hal yang saya tangkap dari patron ceramah Waloni. Pertama, ia terlihat menggebu-gebu hendak memenangkan dan menonjolkan keunggulan Islam, tapi dengan cara menyerang identitas agama lain, yaitu Kristen. Melalui materi kebencian yang merendahkan Kristen, ia seolah ingin tampil menjadi pahlawan yang hendak mengesankan pendengarnya akan ajaran Islam yang disampaikan. Semua ini tak lain untuk menutupi kealpaannya dalam pengetahuan agama Islam itu sendiri.
Menurut pandangannya, orang Kristen adalah bodoh, sesat, gila, bebal, dan sinting. Apapun yang ada dalam Kristen dilihatnya sebagai kesalahan, sehingga cacian membabi-buta ia umbar. Dalam ilmu logika, dikenal istilah argumentum ad hominem yang masuk pada kategori sesat logika. Dan perilaku Waloni tersebut menjadi bagian dari logical fallacy ini. Lebih dari itu, al-Quran terang menyatakan, bahwa mencaci sesembahan agama lain akan berakibat fatal. Di mana Islam dapat dihina dengan ejekan yang jauh lebih buruk karena sakit hati yang mereka rasakan.
Kedua, Yahya Waloni ini merupakan tipikal seseorang yang sedang mabuk agama. Dalam mensyiarkan ajaran Islam ia telah mengabaikan akal sehat. Persis seperti seseorang yang sedang mabuk dan kehilangan kesadaran. Pada taraf yang parah, orang mabuk agama akan mengesampingkan kemanusiaan demi menjalankan sesuatu yang dianggapnya sebagai ajaran Islam. Kejadian di mana ia sengaja menabrak anjing hanya karena dinilai najis, adalah bukti konkret dari hilangnya rasa kemanusiaan sebagai seorang manusia yang mengaku beragama. Ia membungkus perilaku keji seolah menjadi bagian dari ajaran Islam.
Sikap Waloni yang kontraproduktif dengan ajaran Islam adalah karena kedangkalannya atas pemahaman Islam. Islam akan selalu membawa pada alur kedamaian, etika luhur, dan cinta kasih kepada semua makhluk. Jika seorang pencermah tidak mencerminkan hal demikian, maka pasti ada yang salah dengan pemahaman keislamannya.
Ketiga, ia seperti sengaja mereproduksi ceramah yang frontal dan kontroversial untuk menjaring jemaah serta menaikkan pamornya di mata umat Islam. Padahal, tata katanya belum tentu memiliki dasar yang bisa dipertanggungjawabkan. Mengaku telah menjadi mualaf sejak 2006 dan langsung meniti jalan dakwah. Ini adalah waktu yang panjang untuk menelaah ajaran Islam. Jika benar belajar, minimal semestinya ia bisa membedakan mana sikap penuh etika dan mana sikap amoral. Atas dasar ini, bukan tidak mungkin jika ceramahnya hanya untuk motif popularitas, bahkan ekonomi.
Syarat mutlak pendakwah adalah berilmu. Karena ilmu adalah cahaya. Dan tugas pendakwah adalah menggandeng serta umat menuju jalan terang. Tanpa ilmu, penceramah hanya akan menggiring umat pada lorong gelap.
Firman Tuhan surat an-Nahl ayat 125 jelas menginstruksikan agar seruan dakwah disampaikan dengan bijak dan pengajaran yang baik. Bahkan jika harus berdebat, juga harus dilakukan dengan cara yang elok. Demikian pula yang Rasulullah SAW ajarkan. Jika dakwah disampaikan dengan paksaan maupun kekerasan wacana, yang ada hanya antipati masyarakat.
Klaim atas Islam sebagai jalan keselamatan tunggal, membuat Waloni tak segan merendahkan umat Kristiani. Selain berisiko menyuburkan kebencian antaragama, ceramah seperti itu adalah pembodohan bagi masyarakat, karena sang komunikator berujar hanya berdasar asumsi, bukan ilmu. Masyarakat terkonstruk nalar dikotomis yang tak menghargai dan tak mengapresiasi pemeluk agama lain.
Sudah saatnya pemerintah dan otoritas keagamaan yang berwenang menindak para penceramah provokatif yang hanya memelihara narasi kasar. Mereka harus dibimbing dan dididik. Lebih lanjut, untuk fenomena semacam ini, sertifikasi pendakwah pun menemukan relevansinya. Tak lain untuk membendung dai-dai karbitan yang mensyiarkan Islam secara serampangan, tanpa keilmuan yang memadai. Di samping itu, masyarakat pun harus selektif dalam memilih pendakwah. Jika sudah kasar, nir-etika, dan tak manusiawi, maka jangan ikuti.
Menjadi pemeluk Islam itu harus dipertanggungjawabkan dengan proses belajar yang berkelanjutan agar membuahkan kebajikan juga kebijakan perilaku. Muslim seutuhnya adalah seseorang yang mana orang lain merasa damai dan aman dari kejahatan lisan dan tangannya. Karena Islam akan dinilai dari bagaimana akhlak pemeluknya. Wallahu a’lam. []