Angka penyebaran berita bohong atau hoaks masih terus tumbuh dengan pesatnya. Hoaks telah banyak menguasai media-media sosial, meracuni akal sehat pikiran manusia modern. Menurut catatan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), pihaknya telah menemukan sebanyak 1.436 isu hoaks terkait Covid-19 dan vaksin. Dari jumlah angka tersebut, tersebar ke dalam 2.456 unggahan beberapa platform media sosial, seperti Facebook sebanyak 1.892 uanggahan, Twitter 496 unggahan, Youtube 44 unggahan, dan Instagram 24 unggahan yang mengandung hoaks. Data tersebut diperoleh hingga 15 Februari 2021.
Kita mesti memberikan perhatian khusus terhadap hoaks, sebab kita tau hoaks dapat merusak akal sehat, merusak persahabatan, menyebabkan orang mudah marah, membuat orang sulit membedakan mana dunia maya-mana dunia nyata, dan menimbulkan kesan buruk suatu lingkungan. Selain daripada itu, efek yang ditimbulkan yang kita sering abai, yakni tercabiknya Bhinka Tunggal Ika, yang mana ini adalah merupakan inspektrum untuk menciptakan persatuan dan kesatuan. Namun akibat hoaks, benteng perdamian itu perlahan retak dan hancur. Kohesi kehidupan nasional nan toleran itu terputus, dan rambu-rambu peraturan bernama Pancasila itu roboh, akibat hoaks.
Bangsa yang tengah bangkit akibat pandemi Covid-19 ini, harus menerima kenyataan, bahwa untuk pulih dari belenggu ini yang mesti dimusnahkan bukan hanya virus Corona, tetapi juga virus-virus hoaks yang terus menggrogoti hati nurani dan akal sehat. Hoaks masih menjadi tantangan bagi pengendalian pandemi Covid-19 bukan saja di Indonesia, tapi juga diseluruh dunia. Itulah sebabnya peran masyarakat sangat vital untuk memerangi hoaks ini, sehingga penanganan Covid-19 bisa berjalan lebih cepat.
Menurut catatan Satgas Penanganan Covid-19, kasus positif Covid-19 di Indonesia bertambah 7.264 orang pada Kamis (4/3/2025). Dan kabar baiknya, kasus sembuh dan kasus meninggal mengalami penurunan dibanding hari sebelumnya. Secara kumulatif, hingga Kamis (4/3/2025), kasus konfirmasi positif mencapai 1.361.098 orang, kasus sembuh 1.176.356 orang, dan kasus meninggal 36.897 orang. Wabah pendemi yang tak kunjung usai, bahkan telah berumur satu tahun lebih di negara ini, ditambah rentetan bencana alam lainnya, diiringi edaran berita hoaks yang tinggi,menjadikan suasana bangsa semakin pelik. Namun memang, diantara hoaks-hoaks yang beredar, hoaks tentang vaksin inilah yang paling sering terjadi tahun 2020 dan 2021 ini, dengan aneka jenis pemberitaan.
Untuk itu, kampanye-kampanye vaksin dan vaksinasi mesti terus digalakkan, utamanya di media sosial, serta melibatkan seluruh pihak. Adalah tidak benar berita yang mengatakan vaksin bertujuan mengurangi jumlah popolasi penduduk, atau berita yang menyebutkan vaksin dapat menyebabkan meninggal dunia, dan hoaks-hoaks vaksin tidak aman, tidak halal, adanya alat pelacak barcode di vaksin Covid-19, dan isu-isu konspirasi lainnya. BPOM telah menguji, MUI sudah memfatwakan halal, Presiden, tokoh-tokoh nasional, artis, influencer dan sebagian masyarakat telah divaksin pula, apalagi yang perlu didebatkan.
Sudahi hoaks-hoaks semacam ini. Bangsa ini ingin sembuh, ingin bangkit dan ingin terus berkembang maju. Sudah cukup menderita rakyat kita akibat Covid-19, maka hendaknya jangan persulit keadaan. Saya meyakini, Indonesia akan lebih sehat tanpa hoaks. Dengan demikian, gerakan melawan hoaks harus terus dilakukan bersama-sama, oleh pemerintah, masyarakat, media massa, dan para ahli. Peran literasi digital, literasi media sosial mesti terus berlanjut tanpa lelah, jika bangsa ini tak ingin kalah oleh hoaks.
Selain itu, mengingat kondisi masyarakat tidak sepenuhnya memahami dan mengenal media sosial, listerasi digital harus menyeluruh pada kalangan terididik maupun tidak, agar hoaks tidak mudah merasuki jiwa-jiwa insan awam. Pada akhirnya kita mesti sadar, dalam menghimpun informasi baiknya dapat bijak menyaring sebelum sharing. Gerakan melawan hoaks harus terus digaungkan, agar Indonesia sehat badan, akal dan pikiranya.