Hasil laporan tahunan Microsoft tengah menampar netizen Indonesia. Pasalnya, netizen Indonesia dinilai paling tidak sopan se-Asia Tenggara oleh Microsoft dalam laporan yang bertajuk 2020 Digital Civility Index (DCI). Ini ironi bagi kita yang dikenal sebagai bangsa yang ramah dan santun serta kental dengan keagamaannya. Oleh karena itu, edukasi komunikasi media sosial mesti kembali digalakkan upaya mendidik bangsa yang sadar akan pentingnya etika sosial secara global dan menunjukkan masyarakat yang berbudaya.
Netizen Indonesia itu memang unik. Setelah mengeluarkan laporan survei, tak tunggu lama akun instagram resmi Microsoft langsung dibanjiri komentar berbahasa Indonesia karena merasa tidak terima. Lantaran serbuan tersebut, Microsoft memilih untuk menutup kolom komentarnya terhitung sejak Jumat pagi (26/2) sampai hari ini saya mengecek kolom komentar belum dibuka (03/03). Hal ini bukan karena Microsoft enggan mendengar ocehan netizen +62, melainkan untuk menghindari tersebarnya komunikasi yang tidak sehat. Laporan yang mestinya menjadi autokritik justru dengan adanya manuver yang dilakukan netizen Indonesia kepada akun Microsoft, alih-alih mengonfirmasi kuat hasil surveinya.
Menurut hasil survei dari Microsoft, Indonesia menempati urutan ke-29 dari 32 negara sebagai netizen yang memprihatinkan dalam menjalin komunikasi di media sosial. Adapun resiko tinggi hoaks 47 persen, ujaran kebencian 27 persen, dan perlakuan diskriminatif 13 persen. Dengan membaca data tersebut, dapat dilihat tingginya hoaks yang terjadi di Indonesia merupakan ketidaktelitian kita dalam memfilter bacaan. Banyaknya hoaks yang bertebaran di media sosial beruntun pada ujaran kebencian, karena media sosial yang dipenuhi dengan hoaks lazimnya bernuansa provokatif, hingga kerap memancing daya emosional yang tak terkendali.
Sebagai upaya edukasi komunikasi, Tom Nichols menawarkan rekomendasi yang ditulis dalam bukunya, Matinya Kepakaran (2020) bagi konsumen berita ketika memilih berita, yakni jadilah lebih rendah hati, bervariasi, kurangi sinis, dan jauh lebih selektif. Pertama, rendah hati. Dengan artian seorang yang rendah hati paling tidak yang diasumsikan, bahwa penulis berita mencoba untuk mengetahui dengan baik apa yang ditulisnya, meski tak luput kemungkinan salah akan tetap ada.
Belajar untuk lebih sadar dengan rendah hati, tentu akan membantu kita agar tidak merasa lebih tahu banyak informasi. Sebab bagaimanapun penulis lebih memakan banyak waktu untuk mencari satu berita, ketimbang pembaca yang bisa dihitung dalam menitan waktu. Merasa lebih tahu hanya akan menjadi berita yang diikuti sia-sia dan mempersempit pengetahuan.
Kedua, bervariasi. Buat pengetahuan keagamaanmu lebih beragam. Seseorang tidak akan mudah menyalahkan suatu paham, atas dasar selagi tidak menghakimi orang lain sebab merasa benar sendiri, hingga lebih menghargai keyakinan masing-masing. Max Muller salah seorang perintis Ilmu Perbandingan Agama di Barat pada salah satu karyanya, Introduction to The Science of Religion, seorang yang hanya mengetahui satu agama saja, sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang agama.
Itu sebabnya, keragaman paham yang ada di Indonesia mestinya mampu menempa masyarakatnya menjunjung tinggi toleransi, kecuali mereka yang mengganggu ketertiban publik. Mengonsumsi varian berita dari beberapa media, baik dalam negeri maupun luar negeri dengan satu tema yang sama akan membantu untuk tidak terjebak dalam pandangan yang kadang sama sekali tidak disadari warga Indonesia. Jangan katakan tidak punya waktu mencari, anda punya.
Ketiga, kurangi sinis atau jangan terlalu sinis. Ketika saya memuat tulisan di website kadrun.id ini sebagian orang merasa langsung sinis dalam respons komentarnya, tak peduli meski esensi tulisannya begitu ciamik dan mengedukasi. Kendati beberapa kali saya menulis tak ada hubungannya dengan politik atau menjadi penengah dalam berpandangaan, sikap sinis para netizen lebih didahulukan sebelum usai membaca, tanpa terkecuali yang sekadar membaca judul.
Ini fakta. Saya menyajikan tulisan dengan sajian referensi dan bumbu analisis, tetapi pertentangan tak terelakkan oleh mereka yang merasa kalah dalam argumen. Mafhumnya, mereka yang radikal dalam berpandangan, dominan berkomentar kasar alias tidak sopan. Kejanggalan yang dilakukan penulis atau pembuat konten kemungkinan ada, akan tetapi dengan kesadaran mengurangi sinis menjadikan komunikasi tetap berjalan baik dan menempatkan media sosial sebagai sarana kritik yang membangun.
Terakhir, lebih selektif. Mulai kini mari kita melatih diri untuk belajar mencari pilihan kata yang baik dalam berkomentar dan mengonsumsi konten media sosial. Kehadiran media sosial sebagai wadah komunikasi bebas tidak bisa digunakan secara bablas untuk menghujat atau mengintimidasi orang lain. Kendati media sosial itu dunia maya, tetapi pengguna akun media sosial bukan manusia fiktif. Ia nyata.
Oleh karena itu, dalam menjalin komunikasi sosial etika mesti digunakan sebab tutur kata seseorang, baik secara lisan maupun tulisan mencerminkan kepribadian dirinya sendiri. Sudah selayaknya, kita menghormati, menghargai seseorang bukan semata ia orangs terpandang, berpendidikan tinggi, melainkan karena ia patut menjadi teladan karena tindak tanduk dan tutur katanya yang baik, tidak kasar dan menjatuhkan orang lain.
Beberapa fenomena bunuh diri karena perundungan patutnya menjadi bagi pengguna media sosial agar bijak dan baik dalam menuliskan pesan. Jangan dibiasakan melampiaskan emosi berlebihan di media sosial, karena itu akan menjadi kelainan psikis yang berpotensi memicu stres dan depresi. Gunakan media sosial untuk hal yang positif dengan lebih banyak mengapresiasi karya-karya yang berbakat, bukan sekadar nyinyir atau mencari-cari kesalahan yang mempermalukan lawan.
Dari keempat rekomendasi yang ditawarkan, penulis harap dapat membantu agar kita sebagai bangsa lebih baik lagi dalam berkomunikasi. Sebab ketidaksadaran kita dalam merespons sebuah berita secara spontan itu tidak lain karena kurangnya persiapan sebelum memilih atau mengadopsi bacaan. Adapun hasil riset yang dikeluarkan Microsoft tidak perlu diambil hati alias baper, tetapi bisa menjadi koreksi agar terus memperbaiki sikap dalam bermedia sosial.
Sebenarnya diyakini, bahwa bangsa Indonesia merupakan orang-orang yang berbudaya dan ramah. Sebab saya masih bisa melihat banyak orang-orang di sekeliling saling bertegur sapa dan melempar senyuman dengan tulus. Namun, tampaknya kegagapan dalam bermedia sosial kerap membuat kesadaran kita tidak imbang dalam mengeluarkan kalimat yang negatif atau disalahpahami. Edukasi komunikasi ini menjadi penting sebagai upaya mendidik netizen Indonesia lebih berkualitas dan akseptabel dalam menjalin komunikasi.