BeritaNasihat

PGI Baiknya Kedepankan Toleransi Beragama

3 Mins read

Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) menyurati Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, terkait buku pelajaran agama Islam terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pasalnya, buku tersebut dinilai telah menyinggung agama lain dan tengah menjadi perbincangan dalam masyarakat. Ketua Umum PGI Pendeta Gomar Gultom mengatakan, “Ini adalah mata pelajaran agama Islam. Dan tentu saja isinya adalah pemahaman dan ajaran Islam, termasuk mengenai agama Kristen dan Injil.” Karena itu, PGI meminta Menag agar buku itu dikaji ulang. Dalam konteks ini, PGI baiknya lebih mengedepankan toleransi beragama. Kenapa demikian?

Sebagaimana diketahui, setiap agama tentu memiliki keyakinan dan kepercayaan yang menjadi dasar akidah masing-masing, baik itu Yahudi, Kristen, maupun Islam sendiri. Dalam hal ini, apa yang dituliskan dalam buku pelajaran agama Islam dan Budi Pekerti kelas VIII (SMP) dan kelas XI (SMA) terbitan Kemendikbud adalah ajaran akidah untuk mereka yang beragama Islam. Artinya, materi tersebut bukan bermaksud menyinggung tentang ajaran agama lain, tetapi sekadar memposisikan ajaran agama lain dalam sudut pandang akidah agama Islam.

Karena itu, tidak semestinya PGI menganggap hal ini sebagai sebuah singgungan terhadap agama lain. Justru sebaliknya, PGI harusnya lebih menghargai keyakinan dan kepercayaan yang menjadi dasar akidah tiap-tiap agama. Saya pribadi meyakini, dalam buku pelajaran agama Islam tersebut tidak ada maksud untuk menyinggung agama tertentu, tetapi sebatas mengajarkan apa yang menjadi akidah dan ajaran dalam agama Islam. Lebih-lebih bila kita menilik sejarah panjang antara agama Kristen dan Islam, tidak mungkin terjadi persinggungan, justru yang terjadi adalah kesesuaian dan keselarasan ajaran agamanya, yaitu ketauhidan.

Secara historis, ajaran agama Islam adalah lanjutan dari ajaran-ajaran yang telah ada sebelumnya, termasuk di antaranya Yahudi dan Kristen. Zuhairi Misrawi dalam Mekkah: Kota Suci, Kekuasaan, dan Teladan Ibrahim (2018), menyebutkan bahwa Islam datang tidak dalam rangka menghadirkan sesuatu yang benar-benar baru bagi mereka, tetapi justru melanjutkan sejumlah tradisi yang berkembang di tanah Arab.

Dengan kata lain, Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW merupakan kelanjutan ajaran yang telah dibawa oleh Nabi-Nabi sebelumnya. Islam adalah evolusi dari perkembangan keagamaan dan keyakinan masyarakat Arab pada masa sebelumnya. Bahkan, bisa dibilang bahwa Islam merupakan revolusi dari apa yang sudah pernah eksis sebelumnya.

Dalam hal ini, Philip K. Hitti menegaskan dalam History of Arabs (2018), bahwa seruan dan risalah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW adalah seruan kenabian seperti yang disampaikan oleh Nabi-Nabi Ibrani lainnya yang disebutkan dalam Perjanjian Lama. Yang pada intinya membawa ajaran ketauhidan atau monoteisme, sebagaimana yang pernah dibawa oleh Nabi Ibrahim jauh sebelum itu. Menurut Reza Aslan (2006), Ibrahim adalah titik temu di antara berbagai agama samawi tersebut.

Jika kita potret dari sejarah di atas, maka sebenarnya tidak akan pernah kita temukan persinggungan antara agama Kristen dengan Islam. Yang ada justru kesesuaian dan keselarasan ajaran agamanya. Yang ada justru titik temu, bukan titik seteru, apalagi titik tengkar. Islam dan Kristen adalah dua agama yang memiliki kedekatan lebih dibanding dengan agama manapun. Kedekatan seperti apa? Yaitu kedekatan sebagai agama samawi yang membawa ajaran monoteisme atau ketauhidan.

Maka dari itu, dalam kasus di atas, baiknya PGI lebih mengedepankan sikap toleransi beragama. Artinya, PGI jangan mencurigai hal tersebut sebagai upaya untuk mencampuri urusan ataupun menyinggung teologi agama lain, tetapi memandang hal tersebut sebagai sebuah akidah dan ajaran agama Islam yang perlu dihargai dan dihormati, bukan dipersoalkan. Selama guru yang mengajarkan materi tersebut tidak secara sengaja mengolok-olok ataupun menyalah-nyalahkan ajaran agama Kristen, maka hal itu tidak perlu dipermasalahkan lebih jauh lagi.

Berdasarkan poin-poin tersebut, maka dapat kita simpulkan, kenapa PGI baiknya mengedepankan toleransi dalam kasus di atas? Pertama, PGI harus menghargai dan menghormati keyakinan dan kepercayaan yang menjadi dasar akidah tiap-tiap agama. Kedua, baik agama Islam dan Kristen adalah dua agama samawi yang mengajarkan ajaran monoteisme atau ketauhidan. Karena itu, tidak perlu mencari titik seteru, tetapi baiknya mencari titik temu.

Sekali lagi, yang perlu dikedepankan adalah sikap toleransi kita terhadap apa yang menjadi keyakinan dan kepercayaan orang lain, lebih-lebih dalam beragama. Tanpa adanya sikap toleransi dalam beragama, maka kita hanya akan terjebak dalam kubangan pertikaian dan perseteruan yang tiada habisnya. Dalam hal ini, saya menitipkan pesan agar PGI baiknya mengedepankan toleransi beragama, yaitu menghargai dan menghormati ajaran agama lain.

Related posts
Berita

Banjir Surut, tapi Melanggar Sunnatullah?

Jakarta kembali terendam banjir. Genangan air memenuhi di setiap pelosok sudut kota, bahkan meluber pada daerah yang sebelumnya tersentuh banjir. Gubernur Anies…
Berita

Akar Masalah Dari Terorisme

Penangkapan kelompok teroris di Jawa Timur, membuat publik semakin tidak nyaman akan keberadaan kelompok yang mencurigakan. Terlebih kelompok teroris seperti ini belum bisa diungkapkan apa tujuan serta masalahnya sehingga mau menjadi marti kelompok teroris?
KolomNasihat

Paradoks Kaum Khilafah

Pada Tahun 2017, pemerintah mengesahkan Peraturan Pengganti Undang-undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017. Dikeluarkannya Perppu tentang Organisasi Masyarakat (Ormas) No. 2/2017 tersebut…