Kolom

FPI, Membantu itu dengan Hati, Bukan Atribut Organisasi

2 Mins read
Foto: jpnn/Dean Pahrevi

Front Pembela Islam (FPI), yang kini telah berubah menjadi Front Persaudaraan Islam, kembali mendapat sorotan publik. Hal ini tak lepas dari sejumlah orang beratribut FPI yang turut membantu evakuasi korban banjir di Cipinang Melayu, Makasar, Jakarta Timur (20/02/21). Namun, oleh polisi mereka diminta untuk menanggalkan atribut organisasi tersebut saat membantu evakuasi korban banjir, tetapi pada akhirnya mereka malah membubarkan diri.

Sepatutnya, kita perlu mengapresiasi upaya tersebut untuk membantu sesama saudara sebangsa. Namun, satu hal yang perlu ditekankan dalam membantu dan tolong-menolong adalah keikhlasan dan ketulusan hati. Tanpa keikhlasan dan ketulusan hati, bantuan yang diberikan pun tak memiliki arti, tetapi hanya sebatas ajang pamer, pencitraan, dan unjuk diri.

Budaya saling membantu, tolong-menolong, atau gotong royong merupakan salah satu karakteristik bangsa kita. Dalam hal ini, Bung Karno, sebagaimana disebut Cindy Adams dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat menegaskan bahwa gotong royong adalah salah satu ciri dan sifat bangsa Indonesia yang membedakan dengan bangsa lain. Dengan modal budaya tersebut, bangsa Indonesia selalu bahu membahu, tolong-menolong dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Bagi Bung Karno, budaya bantu-membantu, tolong menolong, atau gotong royong harus menjadi pandangan hidup atau ‘weltanschauung’. Pasalnya, budaya tersebut merupakan turunan dari ideologi kita, yaitu Pancasila. Karena itu, budaya tersebut sudah seharusnya menjadi kepribadian kita bersama, terlebih saat menghadapi musibah banjir seperti saat ini. Kita perlu menunjukkan rasa kepedulian yang lebih kepada saudara sebangsa kita.

Dalam al-Quran pun ditegaskan tentang pentingnya budaya saling membantu dan tolong-menolong di antara sesama manusia. Sebagaimana disebutkan QS. Al-Ma’idah [5]: 2, Dan tolong-menolong lah kamu dalam kebaikan dan ketakwaan. Ayat di atas secara jelas memerintahkan untuk tolong-menolong sebagai representasi kepedulian terhadap sesama. Karena itu, budaya tolong-menolong atau gotong royong tak hanya menjadi karakteristik bangsa kita, tetapi juga merupakan perintah agama.

Namun demikian, dalam bantu-membantu dan tolong-menolong perlu dilandasi keikhlasan yang tulus dari hati. Rasulullah bersabda, Jika engkau melakukan amal (ibadah), lakukanlah semata-mata karena Allah dengan ikhlas, karena tidak akan diterima amal ibadah dari hamba-Nya, kecuali yang dilakukan dengan ikhlas (HR. Bukhari). Hadis tersebut menegaskan bahwa ikhlas merupakan kunci diterimanya amal ibadah yang kita lakukan. Jika kita melakukan amal ibadah dengan niat agar orang lain mengetahui, dihormati, dan mencari simpati, maka amal ibadah kita tidak diterima oleh Allah SWT.

Dalam konteks ini, apa yang ditunjukkan oleh sejumlah orang yang secara eksplisit menonjolkan atribut FPI adalah sebuah bentuk pamer, pencitraan, dan unjuk diri semata. Pasalnya, FPI sudah resmi dilarang dan dibubarkan. Berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) enam pejabat tinggi negara, semua aktivitas, kegiatan, penggunaan simbol dan atribut FPI dilarang ditonjolkan di publik.

Namun, faktanya anggota FPI tetap menonjolkan atribut FPI—jaket pelampung, perahu, dan bendera—dalam proses evakuasi korban banjir tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa FPI tidak tulus dan setengah hati dalam membantu saudara-saudara kita yang terkena musibah. Itu artinya, bantuan yang diberikan oleh FPI tidak dilandasi dengan keikhlasan, tetapi sebatas mencari simpati dan hasrat untuk dihormati.

Seharusnya, membantu itu dilandasi dengan rasa keikhlasan dan ketulusan hati. Tak perlu menonjolkan identitas diri, seperti halnya atribut organisasi. Tidak elok bila di tengah bencana banjir seperti ini, FPI memanfaatkan hal itu sebagai ajang panjat sosial belaka. Mencitrakan diri sebagai kelompok yang sigap dan peduli terhadap korban bencana—dengan menonjolkan atribut FPI—untuk kemudian difoto dan disebarluaskan kepada khalayak.

Pendek kata, bantuan yang diberikan FPI kepada korban banjir di Cipinang Melayu, Jakarta Timur adalah bentuk pencitraan untuk mencari simpati semata. Bantu-menbantu, tolong-menolong, dan gotong royong yang telah menjadi ciri, sifat, dan karakteristik bangsa kita harusnya dilandasi rasa keikhlasan dan ketulusan hati. Karena itu, saya mengingatkan kepada FPI agar dalam membantu siapapun itu dengan hati, bukan atribut organisasi.

Related posts
Kolom

Demokrat Sudah Menjadi Partai Dinasti Bukan Demokrasi

Peralihan kekuasaan, posisi Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrat (PD) dari orang tua ke anak, menjadikan organisasi tersebut dicap sebagai partai dinasti. Pada umumnya di negeri ini, partai-partai menganut sistem demokrasi. Namun, apa yang dilakukan PD telah melukai sistem demokrasi partai. Awalnya hal itu terjadi, karena dipilihnya secara aklamasi Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) pada Kongres ke-V PD tanggal 15 Maret 2020. Maka itu, terlihat sekali bahwa PD sudah menjadi partai dinasti, bukan lagi demokrasi.
KolomNasihat

Diskursif Agama dan Negara Kontemporer

Gelombang populisme Islam menguat sejak kran reformasi dibuka. Berbagai arus aliran Islam transnasional masuk dan menginfiltrasi kaum Muslim Indonesia. Negara penganut Islam…
BeritaKolom

Zuhairi Misrawi, Jubir Arab Saudi

Tersebar berita, bahwa Kiai Zuhairi Misrawi atau yang akrab disapa Gus Mis ditunjuk oleh Presiden Jokowi sebagai Duta Besar Indonesia untuk Arab…