Kabar membanggakan datang dari Muhammadiyah. UMM (Universitas Muhammadiyah Malang) dinobatkan sebagai kampus Islam terbaik di dunia tahun 2021 versi uniRank. Lembaga pemeringkat perguruan tinggi internasional yang berbasis di Sydney, Australia tersebut merilisnya pada Rabu (17/02/21) lalu.
Di samping UMM yang bertengger di posisi pertama, dua universitas Muhammadiyah lain pun masuk dalam jajaran sepuluh besar, yaitu UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) di posisi ke-4, dan UMS (Universitas Muhammadiyah Solo) di peringkat ke-8. Pemeringkatan ini dilakukan di antara 408 kampus di seluruh dunia.
Pengakuan dunia internasional tersebut menarik untuk dicermati. Sebagai lembaga pendidikan yang bernaung di bawah payung Muhammadiyah, kampus ini tentu tak lepas dari aspek ideologis dan teologi Islam berkemajuan yang dipegang erat Muhammadiyah. Yang ketika dilacak genealogi pemikirannya akan bermuara pada gagasan pembaharuan sang reformis Mesir, Muhammad Abduh.
Dalam hemat saya, pencapaian kampus Muhammadiyah ini adalah sebentuk manifestasi nyata dari akurasi gagasan Abduh yang telah digarapnya sejak dua abad silam. Di mana landasan yang Abduh tanamkan adalah keterbukaan terhadap keilmuan apapun. Agama dan akal dibina seiring. Dengan bermodalkan keluwesan sikap dan cara pandang, Muslim akan terus maju dan piawai menyesuaikan diri dengan segala hentakan peradaban. Untuk itu, tiada alasan menolak warisan pembaharuan yang ditawarkan Abduh.
Terdapat tiga kriteria yang digunakan uniRank untuk menyusun pemeringkatan tersebut. Pertama, kampus terkait memeroleh akreditasi resmi serta lisensi dari organisasi terkait pendidikan tinggi di tiap negara. Kedua, menawarkan gelar sarjana atau pascasarjana (magister atau doktoral). Ketiga, memberikan kurikulum dalam format pendidikan tradisional dan tatap muka.
Kampus Muhammadiyah dengan kualitas yang dimiliki, hingga berhasil menyabet prestasi insternasional tersebut, sudah barang tentu tak lepas dari kerja-kerja ideologis yang mendasarinya. Hal itulah yang kemudian menjadi anak tangga pertama untuk meraih tujuan yang diidealkan. Langkah juang Muhammadiyah dengan cara pandangnya, kemudian dinilai kompatibel dengan kriteria yang diajukan untuk berpredikat kampus Islam terbaik.
Perhatian besar Muhammadiyah terhadap konsep pendidikan yang komprehensif serta berimbang antara ilmu keagamaan dan sains, bisa juga dimaknai sebagai faktor yang mampu membawa Muhammadiyah mewakilkan tiga lembaga pendidikannya.
Persinggungan Muhammadiyah dengan Muhammad Abduh tentu dapat dibaca dari KH. Ahmad Dahlan, tokoh sentral pendiri Muhammadiyah. Kiai Dahlan adalah ulama Nusantara yang bersentuhan kuat dengan pemikiran Abduh yang dibacanya melalui Tafsir al-Manar. Interaksinya dengan gagasan Abduh juga didapatinya ketika berguru kepada Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi saat pergi ke Mekkah.
Kantong-kantong segar ide pembaharuan itu kemudian dirangkai Kiai Dahlan menjadi gerakan keislaman, yakni Muhammadiyah. Sebagai rumusan untuk berdialektika dengan situasi sosial-keagamaan masyarakat Nusantara. Menjadikan Islam berkemajuan sebagai etos, nilai, dan spirit untuk menuju cita-cita ideal membentuk masyarakat Islam yang sebenar-benarnya dan maju.
Kemerosotan kondisi Islam yang telah menggejala sekian abad, sangat mengganggu pikiran dan hatinya. Itu yang melatari ide reformis-modernis Abduh. Dalam History of The Arabs, Phip K. Hitti menyebut, bahwa di antara gagasan yang diudarakan Abduh meliputi pembaruan intelektual dan politik agama.
Ia juga kuat menyatakan keselarasan antara Islam dengan ilmu pengetahuan. Mengingat sebelumnya, ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum dipersepsikan bertentangan oleh dunia Islam arus utama. Dengan kata lain, gagasan reformis Muhammad Abduh ialah antitesis dari keterasingan dunia Islam dari panggung peradaban.
Modernis Mesir ini memang layak dijadikan inspirasi. Dunia Islam yang dilanda kemandegan, diberinya wawasan untuk membuka diri, melawan taklid, dan menyambut baik reaktualisasi ajaran Islam. Dan reformasi pendidikan dinilai sebagai langkah efektif bagi masyarakat yang menginginkan peradaban berkemajuan. Pengelolaan intelektual dan spiritual yang matang dan beriring, diharapkan bisa melahirkan Muslim yang bermoral juga terbiasa berpikir.
Layaknya kita saksikan sekarang, patron pemikiran Abduh telah mengantarkan Muhammadiyah menjadi organisasi multibidang yang progresif. Singkatnya, ideologi adalah jiwa yang akan menggerakkan suatu komunitas untuk berproses dalam meraih tujuannya. Berangkat dari teologi Islam berkemajuan Muhammad Abduh, Muhammadiyah berhasil mengartikulasikannya dalam pelbagai lini pencapaian.
Jaringan epistemologi keilmuan serta ide pembaharuan dalam arena pendidikan yang diusung Abduh telah mendorong kampus berbasis Muhammadiyah menunjukkan taringnya. Prestasi UMM ini baru sepenggal sejarah yang menjadi bukti nyata ketepatan Abduh dalam melihat jalan keluar dari keterbelakangan umat Islam. Tanda bahwa gagasan Abduh bekerja. Percayalah, untuk meraih obor kemajuan, kita perlu restorasi pemahaman umat Islam secara mendasar. Dan gagasan Abduh dibutuhkan umat Islam untuk menata batu-bata kemajuan peradaban. Wallahu a’lam. []