Kolom

Menyoal Artis Hijrah Pendukung Khilafah

3 Mins read
Foto: Instagram/@pengajianmusawarah

Ken Setiawan, pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center, menyatakan bahwa fenomena artis hijrah yang terpapar paham radikal dan mendukung khilafah tidak terjadi saat ini saja. Jauh sebelum itu, sejak tahun 2000 sudah banyak artis yang bergabung dengan kelompok tersebut. Bahkan, tidak hanya menjadi jemaah, tetapi mereka juga berperan sebagai leader atau perekrut anggota baru di kalangan artis. Untuk itulah, di sini kita perlu menyoal dan mempertanyakan kembali sikap para artis hijrah yang mendukung khilafah.

Fenomena artis hijrah pendukung khilafah ini bukan isapan jempol belaka. Hal ini bisa kita lihat dari kedekatan artis hijrah dengan ustadz-ustadz pro-khilafah. Sebut saja Arie Utung, Teuku Wisnu, Irwansyah, Dimas Seto, Hari Moekti, dan lain-lain. Menurut Ken Setiawan, pada tahun 2019, setidaknya ada 15 artis yang tergabung dengan kelompok radikal. Secara eksplisit, ia menyebut artis berinisial DS dan AS telah berbaiat kepada kelompok radikal dan negara Islam dan menjadi pelopor bagi artis-artis lainnya.

Salah satu artis yang secara terang-terangan pernah mendukung khilafah adalah Hari Moekti. Pada Mei 2015 misalnya, di Stadion Gelora Bung Karno, ia dengan lantang menyerukan tegaknya khilafah di bumi Nusantara. “Hanya insan mulia yang selalu dapat bersama dalam satu tujuan menegakkan khalifah dan khilafah. Allahu Akbar”, kata Hari Moekti. Hal ini menunjukkan bahwa kalangan artis pun benar-benar sudah tergabung dengan kelompok radikal yang mengusung khilafah.

Padahal, sebagaimana kita ketahui, sistem khilafah adalah sistem yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. Dalam hal ini, Gus Nadirsyah Hosen dalam Islam Yes, Khilafah No (2018) menjelaskan bahwa pandangan ulama Nusantara dengan membentuk Republik Indonesia adalah hasil ijtihad yang sah. Karena itu, diterimanya Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar negara tak perlu dipersoalkan lagi. Itu artinya, sistem khilafah tidak boleh didukung dan dipaksakan di negeri ini secara radikal dan ekstrem oleh siapapun, termasuk artis sekalipun.

Dalam konteks ini, fenomena artis hijrah tersebut, kiranya perlu mendapat perhatian serius. Pasalnya, mereka tidak hanya berubah secara ideologi saja, tetapi juga berubah haluan dengan mendukung didirikannya negara Islam atau sistem khilafah. Inilah pokok persoalannya yang perlu kita soal bersama. Kenapa seorang artis, publik figur, punya popularitas tinggi, malah memilih jalan radikal dan ekstrem dengan mendukung khilafah?

Sikap yang diambil oleh para artis hijrah tersebut tentu berbahaya. Pasalnya, sebagai seorang artis dan publik figur, mereka memiliki pengikut di media sosial yang cukup banyak, bahkan jutaan. Hal yang dikhawatirkan adalah, bila yang mereka lakukan diikuti oleh para pengikutnya, yaitu turut mendukung didirikannya negara Islam berbasis khilafah. Hal ini tentu tidak hanya bertentangan dengan Pancasila, tetapi juga mengkhianati sejarah perjuangan pahlawan yang telah berdarah-darah untuk memerdekakan bangsa ini.

Maka dari itu, para artis itu harus segera menyadari bahwa sikap yang mereka ambil dengan mendukung khilafah adalah keliru. Hijrah harusnya dimaknai sebagai sarana memperbaiki diri, baik secara personal maupun sosial. Hijrah harusnya dijadikan langkah progresif untuk mengembangkan wawasan keagamaan yang berkemajuan dan berkeadaban. Jangan jadikan hijrah sebagai sarana untuk memantik perpecahan dan permusuhan di antara sesama anak bangsa dengan mengusung dan mendukung negara Islam ala khilafah.

Dalam hal ini, memilih guru atau ustadz untuk membimbing dan membina mereka menjadi sebuh hal yang penting. Mereka harus belajar dan mendalami agama dari ustadz yang memiliki banyak wawasan keilmuan. Tidak hanya wawasan keagamaan yang mendalam, tetapi juga wawasan kebangsaan yang moderat. Untuk itu, mereka bisa belajar dari ustadz-ustadz NU dan Muhammadiyah yang jelas-jelas lebih moderat, baik dari segi pemahaman agamanya maupun kebangsaannya, seperti Gus Baha, Gus Nadirsyah Hosen, Gus Miftah, dan lainnya.

Gus Miftah misalnya. Ia adalah seorang ustadz nyentrik yang dekat dengan semua kalangan, termasuk kalangan artis. Ia dikenal sebagai ulama muda Nahdlatul Ulama yang fokus berdakwah bagi kaum marjinal, baik melalui dakwah di dalam maupun di luar pesantren. Bahkan, berkat dakwahnya yang nyentrik tersebut, salah satu artis beken ibukota, Deddy Corbuzier, memutuskan menjadi mualaf. Ustadz seperti Gus Miftah inilah yang seharusnya dijadikan panutan dan pembimbing spiritual mereka, bukan ustadz pop yang kerap mendengungkan negara Islam dan khilafah.

Pada akhirnya, kita harus menegaskan sekali lagi bahwa sikap para artis hijrah yang secara eksplisit mendukung khilafah adalah sebuah tindakan yang salah dan keliru. Karena itu, mereka harus segera berubah dan berbenah diri. Jangan lagi mendukung khilafah sebagai unjuk kesalehan diri, tetapi setialah dengan Pancasila dan NKRI sebagai bakti cinta pada negeri.

Related posts
Dunia IslamKolomNasihat

Proses Pengharman Minuman Keras dalam Al-Quran

Larangan minum Khamr atau minumam keras merupakan aturan makan minum yang paling terkenal dalam Islam. Sebagian besar Muslim, sangat aware dengan makanan…
Kolom

Penggiat Khilafah Adalah Penghancur Bangsa

Pasca-pembubaran HTI pada Tahun 2017 lalu, penggiat khilafah masih getol mengampanyekan sistem politik khilafahnya. Fakta itu bisa kita perhatikan ketika melihat hashtag…
Kolom

Kampanye Basi Pengusung Khilafah

Walaupun sudah dibubarkan pemerintah, kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) nampaknya belumlah berakhir. Pasalnya penyebaran ideologi dan penyebaran paham sistem khilafah kian terang-terang dengan menggunakan media sosial sebagai motor penggerak.