Politisi Partai Demokrat Rachland Nashidik melalui akun Twitternya menyebutkan, bahwa makam Gus Dur dibangun oleh negara. Dia mengatakan hal tersebut, karena buntut dari polemik pembangunan Museum SBY-Ani, yang banyak menuai kritik dari kalangan masyarakat. Di cuitannya itu, dia membanding-bandingkan pembangunan makam Gus Dur dengan Museum SBY-Ani. Tudingan Rachland tersebut, melahirkan kekecewaan masyarakat dan keluarga Gus Dur. Maka itu, sebagai manusia kita tidak boleh asbun dengan mempolitisasi makam Gus Dur, demi kepuasan dan kepentingan pribadi.
Perlu kita ketahui, selama ini makam Gus Dur itu dibiayai oleh keluarga, bukan negara. Putri Gus Dur, Alissa Wahid pun telah membantah hal itu. Dia mengatakan, bahwa makam Gus Dur, hingga saat ini dibiayai keluarga Ciganjur, termasuk prasasti. Pondok Pesantren Tebuireng juga menghormati ini. Lebih lanjut, Alissa Wahid pula menjelaskan, dana negara tersebut tidak untuk pembiayaan makam. Melainkan untuk pembangunan jalan raya, lahan berjualan warga, dan lainnya. Hal tersebut dilakukan, karena setiap tahunnya, makam Gus Dur didatangi 1,5 sampai 2 juta peziarah.
Pada masa sekarang, makam seseorang yang berpengaruh untuk negeri ini, telah menjadi tempat wisata religi, seperti makam Gus Dur. Biasanya tempat-tempat tersebut akan menghidupkan dan membangun perekonomian sekitar, karena banyak didatangi peziarah. Hal ini juga senada dengan Habib Luthfi bin Yahya terhadap Wali Songo. Habib Luthfi mengatakan, walaupun Wali Songo sudah tidak ada atau sudah meninggal dunia, tetapi mereka masih bisa menggerakkan perekonomian umat dan mampu menjadi perekat umat Islam.
Keberkahan makam Gus Dur telah membawa kemanfaatan warga sekitar. Bahkan mampu untuk menghidupkan perekonomian warga. Maka dari itu, tuduhan dengan membanding-bandingkan makam Gus Dur itu seharusnya tidak terjadi. Apalagi Gus Dur adalah seorang tokoh yang dicintai oleh seluruh golongan. Pasti, jika orang yang kita cintai dituduh dengan tudingan yang tidak benar, maka banyak masyarakat akan tersakiti oleh ucapannya. Untuk itu, sebaiknya Rachland Nashidik, meminta maaf secara terbuka kepada masyarakat dan keluarga Gus Dur, yang telah dia sakiti.
Blunder yang dilakukan Rachland Nashidik tersebut sangat memalukan. Lantaran, apa yang telah dikatakan Rachland tidak terbukti kebenarannya. Sangat kelihatan sekali, cuitannya di Twitter yang membanding-bandingkan makam Gus Dur itu, ingin merendahkan keluarga Gus Dur. Hasil dari ulahnya ini, Barisan Kader (Barikade) Gus Dur pun menyampaikan somasi untuk politikus Partai Demokrat Rachland Nashidik. Somasi merupakan sebuah tindakan yang tepat agar Rachland Nashidik tahu diri dan tidak mengulangi perbuatannya.
Kita tahu, bahwa Gus Dur merupakan tokoh Muslim Indonesia, sekaligus Presiden RI ke-4. Semasa hidup, Gus Dur adalah pahlawan dan pejuang hak-hak minoritas yang tertindas serta pejuang toleransi. Dia pula dijuluki sebagai Bapak Pluralisme dan Bapak Tionghoa Indonesia. Dia berhak mendapatkan julukan itu, karena perjuangannya yang tak pernah henti untuk membela kaum minoritas dan memperjuangkan perbedaan yang ada di negeri ini. Seharusnya, yang berhak dibuatkan museum khusus adalah Gus Dur, karena banyak sekali meninggalkan warisan berbentuk ilmu dan kebaikan.
Beberapa tahun setelah meninggalnya Gus Dur, tempat disemayamkannya pun banyak memberi manfaat untuk banyak orang. Dilansir dari kumparan.com, setiap bulan, kotak amal makam Gus Dur telah menghasilkan Rp. 150 Juta. Dana tersebut dikelola oleh Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng (LSPT) dan seluruh dana itu disalurkan untuk kegiatan sosial, seperti membantu fakir miskin serta anak yatim. Kemudian, setiap hari juga perekonomian warga sekitar hidup, karena di sekitar makam banyak masyarakat yang berjualan. Dan para peziarah yang mengunjungi makam, banyak membeli dagangan warga sekitar.
Dengan demikian, makam Gus Dur itu telah menjadi wisata religi yang banyak dikunjungi para peziarah dan pengunjung. Tempat tersebut juga menjadi pusat perekonomian, sehingga mempermudah kehidupan masyarakat sekitar. Belum tentu, mereka yang mempolitisasi makam Gus Dur tersebut semasa hidupnya bermanfaat bagi orang lain. Oleh karena itu, jangan sekali-kali mempolitisasi makam Gus Dur. Karena Gus Dur adalah pahlawan bangsa yang dicintai seluruh kalangan masyarakat. Semasa hidup dan wafatnya Gus Dur terbukti telah membawa manfaat bagi semua orang.