Pernyataan mantan Presiden Republik Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kembali menjadi perbincangan jagat maya. Dalam sebuah acara “Doa untuk Indonesia” yang digelar secara virtual dan disiarkan oleh kanal Youtube Pemprov DKI pada Minggu (14/2/2025), SBY mengatakan, bahwa bencana yang terjadi akibat dari kesalahan dan keserakahan manusia. Serakah dalam menggunakan sumber daya kehidupan, sehingga mengubah ekosistem dan berakibat pada bencana.
Pernyataan ini jeas berlawanan dengan apa yang telah SBY lakukan selama 10 tahun berkuasa. Berdasarkan catatan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), data perkembangan Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH) dan Pelepasan kawasan Hutan era SBY dari 2004-2014 adalah yang terbanyak kedua setelah era Soeharto. Pada era SBY, IPPKH mencapai 322.167 ha dan Pelepasan Hutan sebanyak 2.312.603 ha. Tak hanya itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatatkan, selama 10 tahun SBY berkuasa, terjadi 12.820 bencana dengan korban meninggal dunia 181.045 orang. Sedangkan era Presiden Jokowi 2014-2018 tercatat 9.957 bencana dan 6.170 orang meninggal dunia.
Betapapun bencana selalu membuahkan kerugian dan membawa kepiluan, sangat tidak elok SBY memberikan pernyataan yang seolah semua bencana yang terjadi, pemerintah sekaranglah penyebabnya. Betul bahwa, disaat seperti ini kita dianjurkan bertaubat memohon ampunan Tuhan. Namun sebelum memberikan penilaian semacam itu, tidakkah SBY berkaca pada eranya dahulu. Tentu masih segar di ingatan kita, tsunami Aceh yang menewaskan sekitar 170.000 orang, menandai perjalanan 100 hari kepemimpinannya.
Sejatinya, bencana alam yang terjadi di negeri ini tidak bisa melulu dikaitkan dengan pemrintahan. Sebagian besar bencana itu akibat ulah manusia itu sendiri. Oleh karenanya, ketimbang terus mengkritik dan memberikan pernyataan yang tidak berfaedah, SBY sebaiknya ikut membantu pemerintah mengatasi bencana yang sdang terjadi. Bukan sebuah aib ketika seorang SBY kembali menyingsingkan lengan baju lalu terjun mengulurkan bantuan kemanusiaan. Meski tidak ada perwakilan Demokrat di pemerintahan.
Saya menantikan sosok yang SBY berani mengambil tindakan besar yang berguna bagi rakyat Indonesia pasca tak lagi menjadi Presiden. SBY yang tidak hanya sibuk berkeluh kesah dan kritik sana-sini ke pemerintah. Alih-alih membantu pemerintah, SBY justru membangun Museum SBY dan Galery ANI nan megah. Sementara rakyat tengah tercekik karena pandemi, SBY sibuk mendekor rumah dinasti pribadi. Oh, alangkah tidak serasi keadaan ini. Apalagi, menurut berita yang beredar, pembangunan museum tersebut hasil glontoran dana dari Pemerintah Kabupaten Pacitan melalui Yudhoyono Foundation. Tak tanggung-tanggung, dana itu senilai 9 milyar rupiah.
Sekali lagi langkah yang diambil SBY bertentangan dengan apa yang ia sampaikan ke publik. Ia mengatakan negara tengah dirundung bencana, tetapi yang dibangun muesem pribadi. Dalam kondisi bencana, tentu yang dibutuhkan adalah uluran tangan secara nyata, bukan kepedulian semu. Apakah dengan membangun sebuah museum pribadi dapat mengatasi rentetan bencana di negeri ini? Apa yang didapat rakyat dari sebuah museum pribadi? Ditambah di masa pandemi Covid 19 ini.
Meski dalih Wakil Sekertaris Jendral Partai Demokrat, Renanda Bachtar, pembangunan museum itu telah sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2015 Tentang Museum, namun melihat keadaan bumi pertiwi yang tengah menitikan air mata, pembangunan museum itu menambah derita jelata. Anggaran yang ada semestinya diutamakan untuk membantu kemanusiaan dahulu, yaitu para korban bencana. Toh pembangunan museum bukan sesuatu yang genting dan mendesak dan bisa dilakukan diwaktu yang tepat.
Adalah juga keliru, ketika Renada Bachtar menyamakan pembangunan museum dan galeri SBY-Ani dengan pembangunan Museum Keris Solo pada 2015. Tidak tepat pula menyetarakan Pemerintahan Kota Blitar yang meminta anggran dana APBN Jawa Timur untuk pembangunan Museum Bung Karno pada 2016. Alasanya, pertama, pada periode 2015-2017 ekonomi Indonesia terbilang sedang naik 4,79 persen, meski melambat dari tahun sebelumnya yang mencapai 5,02 persen. Namun secara gamblang saja semua orang tau pada periode itu sedang tidak ada pandemi Covid-19 yang menimpa hampir seluruh negara, berbeda dengan keadaan sekarang.
Kedua, secara fungsi, Museum Keris menjadi penting karena kita tau, keris adalah salah satu warisan leluhur yang mesti kita jaga. Yang oleh UNESCO dinobatkan sebagai bagian dari pusaka budaya kemanusiaan tak berwujud. Tujuan pembangunan museum tersebut adalah untuk melestarikan budaya keris agar tidak hilang tertelan budaya luar yang masuk. Kemudian Museum Bung Karno, kita tau Bung Karno adalah proklamator kemerdekaan Indonesia. Jasa dan pemikirannya untuk bangsa ini tidak diragukan lagi, bahkan diakui dunia, maka sangat pantas dengan adanya museum itu. Generasi kita perlu mengenal Putra Sang Fajar penggali Pancasila.
Lagipula pembangunan Museum Bung Karno adalah hasil persetujuan beberapa penyelenggra negara, lalu pembangunannya diketuai oleh arsitek ITB, yakni Pribadi Widodo dan Baskoro Tedjo. Lantas bagaiamana dengan Museum dan Galery SBY-Ani? Apa jasa besar SBY dan fungsi, makna, fungsi dan kontribusinya museum itu untuk negara? Membangun museum pribadi dengan anggaran negara sungguh keterlaluan. Jangan kemudian menjadikan PP Nomor 66 Tahun 2015 sebagai payung persembunyian. Sah-sah saja membangun museum, selagi menggunakan dana pribadi. Tetapi juga perlu diingat, kita hidup tidak sendiri, pastilah mempunyai tetangga kanan-kiri. Terlebih SBY adalah mantan Presiden RI, tentu dalam keadaan pandemi seperti ini, sumbangsihnya sangat berarti.
Saya berharap SBY tetap menjadi negarawan, yang dalam pikiran dan tindakannya mengutamakan kepentingan rakyat, bukan dinasti pribadi. Selanjutnya, SBY juga hendaknya berhenti membuat framing atau narasi-narasi yang berlawanan dengan keadaan diri sendiri. Narasi yang membuat publik terpecah belah. Berilah kritik yang membangun, konstruktif, dan solusi yang baik. Daripada terus-terusan menyalahkan dan mencari kambing hitam penyebab rakyat menderita , SBY sebaiknya bantu negara atasi bencana.