Banyak mimbar atau podium, dimanfaatkan untuk memprovokasi, mencaci-maki, menghina, mengadu domba, ujaran kebencian, dan menggunjing orang-orang yang tidak satu paham, tidak satu warna. Lebih-lebih terkait persoalan politik. Tidak sedikit, para mubaligh atau dai yang menyuarakan jihad dengan konotasi dan pemahaman perang—membasmi kaum kafir. Mimbar dakwah Nabi, tidak segan-segan mereka gunakan hal-hal negatif. Layaknya setan, mereka menghasut para jamaah yang sedang mencari kesejukan agama, ketenangan, kebersihan, dan keteduhan hati dari kebisingan dunia.
Padahal Rasulullah SAW. mengajarkan kita tentang pentingnya perdamaian dan menghindari perbedaan tajam, apalagi sampai konflik antarsesama. Maka dai yang berdakwah dengan karakter moderat, dianggap tidak menarik dan tidak banyak digandrungi sebagian umat, karena tidak gahar mengecam seseorang. Mereka lebih menyukai dai mendobrak, berteriak lantang dalam kegaduhan, dan mencela hal-hal yang dianggap tidak berdasarkan syariat pemahaman mereka.
Dai moderat yang ditinggalkan banyak jamaah karena dakwahnya tidak keras, hampir pasti dimusuhi oleh banyak pihak. Namun para dai moderat tidak surut dan berkecil hati. Hanya mencari ridho Allah SWT tanpa memedulikan cacian, makian, diskriminasi, dan hinaan. Oleh karenanya, para dai moderat sudah berada pada jalan Allah SWT dan bukannya jalan setan.
Dakwah dengan provokasi, mengejek, dan mengolok-olok adalah hal yang batil, dan tentunya bukan ajaran Rasululullah SAW. Sebab yang sering kita lihat situasi saat ini, secara terang-terangan para dai provokatif kian meningkat intensitasnya, terlebih tepat saat momen politik berlangsung—Pemilu dan Pilkada—hampir pasti mengalami penurunan moralitas dan ketidakseimbangan secara psikologis di tengah masyarakat sipil.
Tak ayal, isu-isu sektarian dan kesenjangan menggema di ruang maya dengan banyak benturan dan perdebatan yang tidak sehat. Betul, salah satu penyebab memburuknya keadaan ini tidak lain adalah para dai dan pemuka agama. Narasi sumbang yang bahkan tidak memenuhi standar kompetensi sebagai penceramah. Bahkan tidak sedikit, suara yang mereka dakwahkan, bertolak belakang dengan ajaran Nabi Muhammad SAW.
Celakanya, para dai keras kontemporer itu kerap kali melegitimasi penyimpangan dengan menukil dalil yang telah diubah konteksnya serta kefatalan memahami makna, atau salah menafsiri teks. Dengan berbagai penyimpangan yang mereka lakukan, sama sekali tidak peduli akan dampak yang ditimbulkannya oleh generasi milenial, yang keyakinan, keimanan, dan ketakwaannya cenderung lamban.
Keterbatasan yang juga merupakan kelemahan ini bersumber dari penyepelean esensi risalah Nabi. Yakni menjunjung tinggi perdamaian dan kemanusiaan. Apa yang mereka bagi kepada para jamaahnya bukan hanya berdasarkan kepentingan secara politis, melainkan narsisme absolut kekuasaan untuk dikagumi dan di wow-kan.
Yahya Waloni misalnya, dengan mencaci agama Kristen—penganut agama sebelumnya—memperoleh nilai plus di mata Muslim awam karena penghinaannya terhadap penyimpangan kelompok kafir. Padahal, dengan mengolok-olok sesembahan agama lain, sama sekali tidak meningkatkan keimanan dan keyakinan kita kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Justru, hal itu tidak dibenarkan dan menyesatkan. Rasulullah SAW. sendiri menghormati keyakinan agama lain.
Jelas-jelas Rasulullah SAW. telah bersabda: Ingatlah, siapa yang menzalimi seorang non-Muslim yang berada di bawah perlindungan kaum Muslim, merendahkannya, membebaninya di atas kemampuannya, atau mengambil sesuatu darinya tanpa kerelaan darinya, maka saya adalah lawannya pada Hari Kiamat (HR. Abu Daud).
Terkait hal ini, Habib Ali Al-Jufri menanggapi dalam bukunya Kemanusiaan Sebelum Keberagamaan (2019), Mimbar Nabi Muhammad SAW. seharusnya menyediakan bimbingan untuk semua orang, bukan hanya dari sisi spiritualitas, tetapi juga sisi praksis dalam bidang politik, ekonomi, dan sosial. Itu adalah usaha terakhir penceramah untuk mengembalikan ketenangan. Kekacauan yang terjadi di ruang-ruang dakwah yang semakin menggema. Sang dai tidak menyadari bahwa ceramahnya telah merusak tali persaudaraan sesama umat Islam.
Terkadang, para dai juga mengaitkannya dalam isu-isu politik mutakhir dengan mensakralkan pilihan politiknya. Kemudian dikesankan tidak islami jika suatu pendapat atau pilihan di luar pilihannya. Hal inilah yang membuat tergerusnya pertumbuhan spiritual dalam hati para jamaah seandainya dai terus memprovokasi melalui ceramah-ceramahnya yang konfrontatif.
Dakwah para dai manapun dapat kita terima atau kita tolak, sebab kebenaran hanyalah ajaran Nabi. Dai dapat mendakwahkan ajaran Nabi dengan segala upaya mengajak jamaahnya untuk mematuhi perintah Allah SWT. dan menjauhi segala larangan-Nya. Otoritas moral jamaah tentu menjadi tanggung jawab para dai, apakah menuju jalan Tuhan, atau jalan setan.
Dengan demikian, para dai, mubaligh, penceramah, dan pengkhutbah, perlu berhati-hati agar terus mengontrol hawa nafsunya sendiri. Karena jika dalam materi dakwahnya terus melakukan manuver dan konfrontasi yang destruktif bagi hubungan antarsesama, maka secara tidak langsung sudah menjerumuskan jamaah ke dalam lubang kesesatan setan.
Tidak hanya itu, Islam yang agung, terus dinodai oleh dakwah provokatif pemuja hawa nafsu yang sebetulnya timbul dari suatu keresahan yang tertahankan, yakni setan. []