Kurangnya etika berdakwah para ustadz hari ini cukup marak terjadi. Belakangan, beredar video viral di media sosial terkait ceramah Ustadz Yahya Waloni yang mengatakan pernah menabrak anjing dengan sengaja dijalan. Ia mengaku alasan menabrak anjing lantaran binatang tersebut memiliki najis. Pada Minggu (14/02). Dengan adanya ujaran dakwah semacam itu, sepantasnya tidak keluar dari mulut seorang penceramah yang notabene-nya memiliki pemahaman agama dan etika dakwah yang baik, bukan bermodal panjat sosial (pansos) dengan perilaku kontroversialnya.
Laiknya seorang artis newbie yang sedang cari nama dengan perilaku kontroversialnya. Ustadz-ustadz yang bermodal ujaran yang tak pantas dan kebencian kini menjadi demam tersendiri. Bagaimana tidak? Ustadz pansos semacam itu harus membuat diferensiasi dalam ceramahnya. Karena itu, dia selalu keluarkan ujaran sakti, seperti kebencian, menghina, berkata kasar dan semacamnya, yang tentu bertujuan agar ia bisa terlihat beda dari ustadz lainnya.
Barangkali, itulah jualannya ustadz pansos hari ini, seperti Yahya Waloni misalnya, yang mengaku mantan pendeta dan rektor itu sekaligus seorang mualaf. Anehnya, ketika ia sebagai seorang mualaf yang seharusnya masih belajar tentang Islam yang lebih dalam lagi, justru kini ia mengambil posisi sebagai ustadz atau guru yang seolah paham betul dengan ajaran yang dibawakan oleh Nabi Muhammad SAW. Entah dari mana ilmu agama yang dia dapatkan.
Kiranya, begitulah para ceramah penjual agama yang besar atas nama kontroversinya. Dengan ujaran kebencian, hinaan, cacian, dan makian yang dilontarkannya untuk sekadar menaikkan ratingnya, tak jarang ustadz-ustadz pansos ini juga sering menyerang pemerintah, tokoh agama dalam ceramahnya. Tujuannya tentu untuk bisa terkenal.
Padahal, jika kita dicermati lebih dalam lagi, hakikat sebenarnya dakwah adalah mengajak, bukan memaksakan kehendak untuk merusak. Menyampaikan ajaran agama yang penuh cinta, bukan cacian hingga kebencian. Menyampaikan ajaran Nabi Muhammad SAW yang penuh dengan rahmat, bukan mudharat. Karena basis dari dakwah adalah sebagai perantara untuk mencapai kebenaran-Nya yang penuh cinta dan kasih sayang. Bukan kekejian dan kezhaliman apalagi melaknatnya.
Jika berkaca pada kisah dakwah Nabi Muhammad SAW. Semestinya, para ustadz-ustadz pansos itu dapat belajar dari cerita Rasullulah SAW. Misalnya saja, ketika nabi yang pernah datang ke Thaif untuk berdakwah. Alih-alih pesan dan nasihatnya didengar, nabi malah mendapatkan lemparan batu yang akhirnya melukai wajah dan tubuhnya.
Lalu datanglah bantuan dari Allah dengan diturunkannya Malaikat Jibril AS. Jibril menawarkan ‘jasa pelayanan’ untuk beliau guna membalas apa yang sudah dilakukan oleh bangsa Thaif yang tidak menghormati nabi sama sekali. Jibril menawarkan kepada nabi untuk menghancurkan kaum Thaif tersebut dengan gunung yang siap diangkat.
Bagi orang yang sedang dalam keadaan terdesak dan dalam posisi lemah, tentu tawaran tersebut sangat baik untuk diterima. Agar mereka orang-orang zalim tahu bahwa apa yang mereka lakukan itu akan berbalik kepada mereka berupa penderitaan. Itu watak manusia biasa yang maunya jika dizalimi akan balas menzalimi juga.
Namun berbeda dengan nabi, bukannya mengamini apa yang ditawarkan oleh Jibril AS, beliau justru menolak dan memilih untuk mendoakan kaum Thaif tersebut. Darah akibat luka masih mengalir di wajaj Rasullulah dan mengangkat tangan lalu mengatakan, Allah tidak mengutusku untuk menjadi orang yang merusak dan juga tidak untuk menjadi orang yang melaknat. Akan tetapi Allah mengutusku untuk menjadi penyeru doa dan pembawa rahmat. Ya Allah, berilah hidayah untuk kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui. (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman).
Adapun, ada dua hal penting yang harus dikaji terutama dalam konteks dakwah sekarang ini, yakni soal gaya bahasa dakwah dan tentang perubahan lingkup ruang atau media dakwah yang bisa diakses di mana dan kapan saja. Kedua poin ini penting, sebab manusia hidup dengan latar belakang yang berbeda, agama, budaya, dan tradisi masing-masing.
Namun, Bila ada pertanyaan, apa yang hilang dari dakwah agama, khususnya pada era saat ini? Maka jawabannya tentu adalah kesantunan. Rasa untuk menghargai perasaan, menjaga hati agama lain agar tidak tersakiti rasa-rasanya mulai memudar dikalangan para penceramah. Mereka hanya mengandalkan ujaran-ujaran kebencian dan bermodal pansos yang kontroversial.
Dengan demikian, fenomena ustadz pansos seringkali bermodal ujaran kebencian untuk dapat menaikkan pamor dakwahnya dengan cara yang berbeda. Barangkali hanya bedanya adalah urusan subscriber dan dompet panggilan ceramah yang Insyaallah tebal.