Dari sekian banyak orang yang menyukai kajian kritis filosofis, mungkin saya salah satunya menyukai juga gagasan kritis Rocky Gerung. Saya begitu mengagumi gagasan filosofis Rocky Gerung, apalagi ia salah satu kawan dekat Gus Dur, orang yang menjadi teladan negeri ini. Terutama daya kritisnya terhadap pemerintah melalui cuitannya, begitu tajam dalam menanggapi berbagai hal kebijakan yang dianggap kurang atau tidak tepat. Akan tetapi belakangan, cuitannya kian terjebak dalam kubangan post-truth. Kini, hampir seluruh cuitannya di Twitter, mengandung siaran kebencian, bahkan mencaci-maki.
Tidak hanya saya, mungkin banyak orang yang berharap ada pihak oposisi yang dapat mengimbangi pemerintahan saat ini yang penuh sesak, seperti terjadi penggemukan koalisi di dalamnya. Alternatif yang dapat ditempuh untuk mengimbangi hal tersebut adalah budaya kritik transformatif dari berbagai pihak, terutama akademisi dan intelektual.
Saya tidak hendak menyerang Rocky Gerung dalam tulisan ini. Tulisan ini juga bukan berupa strategi yang bertujuan dengan apa yang disebut orang sebagai pendukung pemerintah atau disebut buzzer. Saya hanya mengharap terjadi dinamika kritis yang konstruktif. Namun, ketika ruangan maya sedang lelah oleh ujaran kebencian (hate speech), hoaks, hasutan, dan makian, Rocky justru mengikuti pola itu dalam menyerang pemerintah. Saya pikir itu sangat tidak pantas dilakukan oleh seorang intelektual, siapapun. Setidaknya orang Indonesia merupakan orang-orang beragama yang seharusnya beradab.
Kemudian saya berkesimpulan, daya kritis Rocky telah hilang. Ia tidak lagi kompeten sebagai seorang intelektual. Ia sudah terlalu tinggi menilai kemampuannya sendiri. Seorang Rocky yang dikenal filsuf—kata kebanyakan orang—tidak menyadari kesalahannya sendiri dengan menyebut presiden sebagai “boneka mebel”. Bagi saya, ia telah hilang kepakarannya sebagai intelektual apapun dengan hianannya kepada simbol negara.
Benar yang dikatakan Imam Malik bin Anas (711-795 M) kepada seorang pemuda Quraisy, Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu. Dan seorang sufi kenamaan dari Iran, Syekh Abdul Qadir al-Jailani (1068-1166 M), mengatakan, Aku lebih menghargai orang yang beradab daripada berilmu. Rocky mungkin salah satu yang membutuhkan sentuhan etika.
Seorang penyanyi yang baik mengerti saat menyanyikan dengan nada sumbang; seorang pedagang sayur tahu tempat dan waktu yang tepat ketika harus berjualan; seorang sutradara film mengerti mana-mana akting yang tepat dan mana drama yang tidak tepat. Sementara Rocky yang merasa dirinya intelektual dan seorang filsuf, tidak memiliki kemampuan kritis semacam itu. Kurang kompeten dan merasa telah melakukan pekerjaan dengan baik.
Padahal hampir seluruh kontennya memuat pelecehan, hinaan, dan makian yang sebetulnya jika kita memiliki sedikit saja akal sehat, maka segera meninggalkannya. Bodoh, dungu, dan kata-kata yang sebenarnya tidak pantas terlontar dari mulut seorang filsuf atau intelektual, keluar dari jari-jari lembut Rocky dalam statusnya di ruang maya. Bagi saya, kredibilitas, ilmu pengetahuan, dan kemampuan akademis, sirna seketika ketika memaki. Siapapun! Apalagi yang ia maki adalah seorang presiden.
Hal itu akan menghasilkan lingkaran setan, yaitu ketika banyak orang tidak lagi kritis terhadap pemerintah dan jauh dari kemampuannya sehingga yang ada hanya perdebatan tidak sehat. Rocky terlibat perdebatan, tetapi ia tidak sadar bahwa ia sendiri sudah gagal membuat argumen logis. Yang ada hanya cacian yang ditepuk tangani oposisi yang gagal kritis konstruktif terhadap segala kebijakan pemerintah.
Celakanya, makian yang disuarakan Rocky, ia seperti senang diapresiasi oleh para orang-orang awam yang frustasi pengagum kebencian. Bukan intelektual atau pakar. Dengan kata lain, Rocky sama sekali tidak kompeten dalam memberikan argumen kritis konstruktif. Semakin ia merasa benar dengan penghinaannya dan orang lain salah—padahal telah melakukan hal yang benar misalnya—dan semakin ia dalam kepura-puraannya, maka semakin tidak mampu membangun budaya kritis konstruktif. Yang ada justru hal-hal destruktif, mengoyak persatuan dan kesatuan.
Secara umum, orang tidak suka atau tidak senang sering melukai orang lain. Di kantor tempat kita bekerja, bahkan para atasan kita enggan menegur dan mengoreksi anak buahnya, hanya karena alasan tidak enak. Aktivitas Rocky di media sosial dalam statusnya, adalah sebuah diksi yang disuguhkannya tentu akan merusak tatabahasa dan sintaksis tanpa ia sadari betapa buruk caranya menulis dan mengungkapkan sesuatu.
Dalam buku Matinya Kepakaran: Perlawanan terhadap Pengetahuan yang Telah Mapan dan Mudaratnya (2020), Tom Nichols menulis, Orang-orang cerdas saja tidak lepas dari kesalahan. Tidak mengherankan jika warga negara bisa menghadapi perangkap dan bias yang juga menimpa para pakar. Banyak yang menganggap dirinya pakar, Rocky semakin mengekspresikan emosi dan kebenciannya yang irasional berupa penghinaan.
Hasilnya adalah kekerasan, perlawanan, dan permusuhan di antara masyarakat awam. Satu waktu, menyebut Menteri Agama pakai otot bukan pake otak, serta menyerang presiden dengan makian. Di sisi lain membela mati-matian lawan politiknya seperti Anies Baswedan, atau SBY. Sama sekali jauh dari kata akademisi atau intelektual. Mestinya jika mau kritis, tanpa membeda-bedakan.
Kini kita dapat menyimpulkan bahwa ia memang bukan seorang kritikus. Menyebut pendukung pemerintah sebagai orang pengangguran, ia sendiri mungkin telah dimanfaatkan politisi demagog dengan cara memaki pemerintah, di sisi lain membela lawan-lawannya.
Untuk menjaga akal sehat, saya pun mungkin sudah dua tahun ini tidak mengikutinya semenjak isi timeline dari statusnya hampir seluruhnya berisi makian. Maka saya mengajak semua untuk menjauhi orang-orang semacam Rocky—yang suka menghujat dan menyebut dungu orang, seolah dia saja yang pintar dan semua yang di pihak pemerintah bodoh—agar otak kita juga selalu bersih sehat, dan hati jernih sehingga tidak terinfiltrasi kebiasaannya sekarang. Tukang maki mungkin lebih cocok disematkan oleh Rocky Gerung sekarang. []