Nasionalisme Tionghoa

0
0
WhatsApp
Twitter

Jika ditanya capain membanggakan apa yang Indonesia lahirkan pascareformasi? Menurut saya, jawaban yang tepat adalah dijadikannya Konghucu sebagai salah satu agama resmi. Agama yang dianut oleh sebagian besar etnis Tionghoa ini, menarik untuk diperhatikan. Pasalnya, dengan legitimasi demikian dapat terlihat dengan jelas karakteristik bangsa kita, yakni kebhinnekaan. Di lain sisi, hal ini merupakan kado yang tidak berlebihan dari bangsa Indonesia terhadap masyarakat etnis Tionghoa. Sebab, dalam sejarah kebangsaan kita, kontribusi orang-orang Tionghoa, khususnya dalam masa perebutan kemerdekaan tidak dapat diragukan.

Dalam catatan sejarah, digambarkan dengan jelas bagaimana beberapa masyarakat etnis Tionghoa menentang kolonialisme Belanda. Mereka berada pada garda terdepan bersama golongan bumiputera meraih kemerdekaan Indonesia. Menolak kesewenang-wenangan, tindakan fasis dan rasis dari pemerintah kolonial. Kesadaran demikian tentu lahir tidak lain, karena kecintaan mereka terhadap tanah kelahiran dan yang menghidupinya.

Liem Koen Hian (1897-1952) merupakan satu dari sekian masyarakat etnis Tionghoa yang menentang keras kolonialisme Belanda. Ia pun merupakan salah satu anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia. latar belakangnya sebagai jurnalis dan politisi yang kemudian membawanya pada perlawanan yang lebih nyata. Ia mendirikan Partai Tionghoa Indonesia (PTI) pada tahun 1932 dan surat kabar Sin Tit PO pada tahun 1929. Baik Sin Tit Po maupun PTI, merupakan segmentasi politik lain yang lebih menjunjung tanah kelahiran sebagai dasar nasionalisme. Dan tanah kelahiran, serta tanah yang dipijak, kemudian menjadi landasan politik untuk memihak pergerakan nasional yang bercita-cita memerdekakan Hindia Belanda.

Namun, bagi orang Tionghoa, masuk dalam ranah pergerakan kemerdekaan nasional tidaklah mudah. Leo Suryadinata dalam Dilema Minoritas Tionghoa (1986), menggambarkan jika “Keberadaan dan eksistensi orang Tionghoa sedikit tersisih dalam pergerakan nasional karena perbedaan etnis dengan bumiputera”. Kendati demikian, tidaklah menyurutkan tokoh-tokoh kemerdekaan Tionghoa untuk menanggalkan semangat nasionalismenya. Dengan keterbatasan ruang dan gerak, terbukti Sin Tit PO menjadi salah satu surat kabar berpengaruh. Leo Suryadinata, sebagaimana mengatakan dalam Etnis Tionghoa dan Nasionalisme Indonesia: Sebuah Bunga Rampai, 1965-2008 (2010), “pelanggan koran ini tak hanya orang-orang Tionghoa, tapi juga kaum bumiputera. Dalam artian, pengaruh koran ini juga meluas di luar kaum peranakan.

Karena itu, persoalan panjang tentang keberadaan etnis Tionghoa di Indonesia yang dianggap bukan pribumi tidak dapat dibenarkan. Apalagi, jika ditilik dari perspektif sejarah dan kebangsaan. Banyak sekali masyarakat Tionghoa yang mencintai Tanah Air ini, memiliki semangat nasionalisme, dan berintegritas tinggi. Dikisahkan, Bung Karno yang menyukai budaya seni rupa mengangkat dua orang seniman Tionghoa menjadi pelukis Istana, yakni Lee Man Fong dan Lim Wasim pada tahun 1961. Keduanya bersama Lembaga Kesenian Yin Hua telah berkontribusi bagi dunia seni rupa, terutama seni lukis di Indonesia.

Nasionalisme Tionghoa dapat dilihat dari representasi Yin Hua. Dari arti nama sendiri, Yin mengandung arti Indonesia dan Hua berarti Tionghoa. Yin Hua menggambarkan relasi kultural antara Indonesia dan Tionghoa yang berkontribusi pada bangsa dan negara lewat kebudayaan. Lembaga seniman Yin Hua berkomitmen serta memiliki visi yang jelas, tegas, serta jernih yaitu “berusaha menghayati, menggali, dan mengembangkan segala potensi, baik teknis serta praktis bagi seniman Tionghoa.”

Di lain sisi, nasionalisme Yin Hua dapat dilihat dari AD/ART pasal 4 yang berbunyi, ”Orang-orang yang dapat diterima menjadi anggota ialah suku Tionghoa yang hidup dan bertempat tinggal di Indonesia, tidak dibedakan kewarganegaraannya dan kelamin”. Dari pasal ini kita dapat melihat Yin Hua memberi ruang dan kesempatan kepada masyarakat Tionghoa untuk berperan aktif dan pembangunan bangsa dan negara, dengan tanpa membeda-bedakan status kewarganegaraan.

Adanya beberapa tragedi diskriminasi terhadap etnis Tionghoa di negeri ini, cukuplah menjadi pelajaran dan sejarah kelam. Indonesia dulu, sekarang, dan nanti adalah Indonesia yang menjunjung tinggi kebhinekaan. Indonesia ada karena keberagamannya. Diakui atau tidak masyarakat Tionghoa juga memiliki peran penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan. Besar semangat nasionalismenya tidak dapat dipertanyakan. Karena itu, Tionghoa juga Indonesia. Gong Xi Fa Cai untuk masyarakat Tionghoa di Indonesia.