Hampir semua wilayah di muka bumi ini menyandang identitas plural. Hal tersebut tidak hanya dapat dijelaskan oleh aspek historis-sosiologis kehidupan manusia. Namun, yang lebih asasi adalah keterangan doktrinal keagamaan Islam. Di mana teks agama itu memperlihatkan realitas mutlak akan keragaman umat manusia. Setidaknya termuat pada ayat-ayat berikut: (5: 48, 16: 93, 13: 31).
Bukan tanpa alasan. Kehendak Tuhan atas pluralitas membawa misi agar manusia memiliki rasa tanggung jawab dan daya saing untuk berlomba menerbitkan kebaikan demi kebaikan yang berlandaskan ketauhidan kepada Tuhan.
Bangsa ini adalah perwakilan dari kemajemukan berlapis. Mulai dari lini agama, budaya, suku, bahasa, hingga ras. Ribuan jumlahnya. Jika tidak dikelola dengan seksama, pijar warna keragaman ini akan menjadi bahan bakar konflik horizontal. Sebaliknya, apabila pluralitas dimaknai secara terbuka dan jujur, ia akan menjadi aset konstruktif dan menjadi energi sosial guna menata peradaban berkemajuan yang merangkul semua.
Kerjasama dalam keberagaman harus diawali dengan gelaran dialog antargolongan dalam konteks manapun. Sekat-sekat keagamaan, kesukuan dan perasaan sentimentil akan perbedaan perlu terlebih dahulu dijinakkan agar bisa tercapai titik pertemuan (common platform) yang akan menjadi modal dasar. Jika kalimah sawa sudah di tangan, pluralitas akan menjadi energi yang luar biasa berguna.
Yang tak kalah penting untuk diperhatikan, selaku insan beragama, tiap kita harus menghayati ajaran agama masing-masing. Mengingat tiap agama mengajarkan nilai dan jalan kebaikan, maka pemahaman atasnya akan menjadi pencegah konflik ketika berjumpa dengan umat lain server. Dari sini konflik pun dapat diantisipasi.
Percaturan sejarah masa Rasulullah SAW menghimpun begitu banyak contoh kolaborasi sinergis yang menunjukkan manfaat dari keberagaman. Dalam khazanah militer Islam, kita mengenal perang khandaq (parit). Nama perang tersebut merujuk pada strategi yang dimainkan saat perang berlangsung. Nabi Muhammad SAW merupakan sosok yang begitu inklusif, berkenan mengakomodir pendapat para sahabatnya.
Ketika itu Nabi SAW memutuskan sistem bertahan (defensif) dan akan menghadapi musuh di dalam kota Madinah. Adalah Salman al-Farisi yang kemudian mengajukan ide brilian penggalian parit di sekeliling kota Madinah untuk perang yang terjadi pada tahun 5 Hijriyah tersebut. Sebelumnya, siasat perang semacam ini belum pernah diterapkan oleh bangsa Arab. Apa yang diusulkan Salman adalah taktik perang yang berkembang di Persia, tanah kelahiran Salman al-Farisi. Pasukan Islam pun mengantongi kemenangan dari peperangan ini.
Status ‘ajam (bukan Arab) Salman tidak menghalangi Nabi Muhammad SAW untuk menerima usulannya. Perbedaan kebangsaan ini justru menghadirkan sinergi yang menguntungkan. Pengalaman kesejarahan Persia yang diketahui Salman mengisi kepentingan yang memperkaya dunia Arab. Secara implisit, Nabi mengajarkan kita untuk tidak antipati terhadap kebaruan selagi bermanfaat dan bernilai positif.
Lebih daripada kisah strategi perang khandaq tadi, memoar kejayaan dunia Islam adalah produk koalisi pula, tidak hanya dihasilkan dari keringat umat Islam saja. Kalangan Islamis (Islam politik) kontemporer keliru melihat perkembangan itu sebagai hasil dari gagasan ortodoksi Islam. Justru, mercusuar kejayaan Islam didapati dari kerjasama berbagai identitas.
Kejayaan peradaban Islam adalah bentukan dari konsep yang unik. Muslim menciptakan peradaban maju dengan menggabungkan kontribusi pendahulu peradaban serta orang-orang sezamannya yang non-Muslim. Dan melalui energi keberagaman tersebut, dunia Islam berhasil mencapai pembaruan sendiri yang khas. Michael Morony bahkan memetakan, bahwa batu-bata peradaban Islam adalah warisan dari lintas kebudayaan. Dan para pewaris itu adalah peradaban Yunani, Persia, Mesir, Khaldea, Arab, India, Turki, dan Tiongkok.
Pada abad ke-8, Muslim mengimpor teknik produksi kertas dari Tiongkok dan mulai memproduksi kertas pertama di sejumlah kota di Asia Tengah kemudian di Baghdad. Di samping itu, simbol intelektual kenamaan Islam; Baitul Hikmah, menggelar gerakan penerjemahan yang amat masif. Karya-karya berbahasa Yunani Kuno, Persia Tengah, Suriah, Sansekerta di bidang filsafat, matematika, psikologi, kedokteran, dan sejumlah bidang lain diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Di samping terjemahan karya asli juga berkembang.
Ketika pusat pemerintahan Islam bermukim di Damaskus (era dinasti Umayyah), dunia Islam banyak bersinggungan dengan kebudayaan Yunani-Romawi. Dalam History of The Arabs, Philip K. Hitti mengisahkan bagaimana tren Romawi memengaruhi pemerintahan dinasti Umayyah. Ketika memerintah, Muawiyah—khalifah pertama Umayyah—berangsur menghapus berbagai sistem pemerintahan tradisional dan selanjutnya mengadopsi kerangka pemerintahan Bizantium (Kekaisaran Romawi Timur).
Masih oleh Philip. Era khalifah Muawiyah mencatat sejarah di mana orang-orang Kristen menempati posisi-posisi strategis dalam pemerintahan. Pemberian jabatan kepada seseorang tentu tak lepas dari kepercayaan akan kemampuan dari orang tersebut, terlepas dari apa statusnya. Disebutkan bahwa keturunan Manshur bin Sarjun (keluarga Kristen terhormat) pernah menduduki posisi penting sebagai pengawas keuangan negara, sebuah jabatan prestisius setelah panglima tertinggi militer dalam pemerintahan Arab.
Orang Kristen lainnya adalah dokter khalifah, Ibn Utsal, yang selanjutnya diangkat oleh Muawiyah sebagai pengawas keuangan di provinsi Himsh. Penobatan seorang Kristen dalam jabatan penting merupakan peristiwa pertama dalam kesejarahan Islam. Muawiyah jeli memanfaatkan potensi dari pluralitas menjadi sinergi yang menguntungkan pemerintahannya.
Sedangkan, saat lokus pemerintahan bermigrasi ke Baghdad (masa Abbasiyah), peradaban Persia yang berganti menaruh pengaruh utama pada Islam. Satu gagasan besar mengenai relasi agama dan negara yang tak henti diperbincangkan dalam literatur keislaman, ternyata disadur dari pepatah-pepatah Sasaniyah (Persia).
Pernyataan al-Ghazali tentang persaudaraan antara agama dan negara bersumber dari teks Sasaniyah yang disebut wasiat Ardasyir I, bukan murni tercetus dari rahim Islam. Terlepas dialektika rumit yang dihasilkan dari gagasan persaudaraan antara agama-negara, bagaimanapun hal itu telah turut memperkaya khazanah perpolitikan Islam.
Ringkasnya, mercusuar peradaban Islam tidak dimainkan oleh aktor tunggal. Semua itu merupakan komposisi dari sumbangsih beragam pihak. Yakni kalangan intelektual yang merdeka berpikir, para borjuis yang independen, dan pemerintahan yang bersahabat. Dokumen sejarah di atas adalah bukti tak terbantahkan, bahwa pluralitas dapat menjelma menjadi energi sosial-kemasyarakatan yang bahkan mampu merintis laju peradaban unggul.
Dengan tesis demikian, negeri kita yang begitu berwarna berarti menyimpan potensi manfaat yang maha besar. Bilamana pluralitas dijiwai semangat persaudaraan kemanusiaan, maka tuahnya pun akan kembali pada manusia itu sendiri. Lebih dari itu, integrasi kutub-kutub yang berseberangan akan mengisi pelbagai sektor kehidupan yang menyeluruh. Beban pun menjadi lebih ringan.
Sekali lagi, pluralitas bukanlah batu sandungan. Bagaimanapun, keragaman menyimpan mutiara hitam yang bernilai tinggi. Sejarah telah membuktikannya. Pengibaratan klise tapi begitu bermakna, bahwa pelangi menjadi indah dan menyenangkan pandang karena ada unsur warna yang berbeda. Demikian halnya kehidupan umat manusia. Dalam keberagaman harus dibina kebersamaan untuk menghadirkan energi positif. Mari rayakan kebhinekaan dengan suka cita demi menata kehidupan umat manusia yang beradab dan maju. Wallahu a’lam. []