Jejak Gus Dur Perjuangkan Minoritas Tionghoa

0
0
WhatsApp
Twitter

Gus Dur adalah pahlawan yang dijuluki sebagai bapak pluralisme. Pria yang memiliki nama asli Abdurrahman Wahid, sangat peduli dengan keberagaman dalam berbagai hal di negeri ini. Salah satunya, saat menjadi Presiden RI keempat, dia berani mendobrak diskriminasi pada warga Tionghoa. Melalui perjuangannya yang membela warga minoritas Tionghoa, dia pun dijuluki sebagai bapak Tionghoa Indonesia. Dengan sendirinya, sejarah akan mencatat perjuangan Gus Dur dalam membela kaum minoritas, utamanya warga Tionghoa yang saat itu kerap kali mengalami diskriminasi.

Selama era Orde Baru, identitas kebudayaan masyarakat Tionghoa terbelenggu, karena adanya Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14 Tahun 1967 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina. Melalui Inpres tersebut, Presiden Soeharto memerintahkan agar perayaan pesta agama atau adat istiadat etnis Tionghoa dilakukan dalam lingkungan keluarga dan tidak mencolok di depan umum. Hal ini yang membuat etnis Tionghoa menjadi tertindas. Mereka seperti dikurung dan tidak bisa bebas dalam beragama, karena Inpres tersebut.

Namun, untungnya pada 17 Januari tahun 2000, Gus Dur mencabut Inpres yang merugikan itu dan mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) tentang Pencabutan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 Tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Cina. Dari keputusan tersebut, dia menjadi orang pertama yang menyelesaikan masalah diskriminasi terhadap etnis Tionghoa di negeri ini. Setelah pencabutan Inpres Nomor 14 Tahun 1967, akhirnya mereka bisa merayakan kemeriahan Imlek secara bebas dan terbuka serta bisa dirasakan seluruh kalangan masyarakat.

Saat ini, perayaan Tahun Baru Imlek tidak bisa lepas dari sosok Gus Dur. Karena dia memiliki andil cukup besar dalam memperjuangkan dan membela etnis Tionghoa, hingga pada akhirnya mereka dapat merayakan Imlek secara bebas di negeri ini. Gus Dur berpendapat, bahwa etnis Tionghoa adalah bagian dari bangsa Indonesia. Karena itu, mereka harus mendapatkan hak-hak yang sama, termasuk dalam menjalankan ibadah keagamaan. Dia juga menganggap Muslim Tionghoa itu boleh merayakan Tahun Baru Imlek, sehingga tidak dianggap lagi sebagai tindakan yang musyrik. Baginya, perayaan ini adalah bagian dari tradisi dan budaya, tapi bukan bagian dari agama.

Sementara itu, walau Gus Dur sudah tiada, dia telah banyak sekali meninggalkan warisan. Peninggalan tersebut bukan berbentuk kekayaan finansial, tetapi berupa warisan kebaikan yang selalu diingat oleh semua orang. Ajaran-ajarannya selalu mewarnai sejarah pemikiran dan peradaban masyarakat Indonesia, bahkan dunia. Kiprah dan perjuangan Gus Dur yang berpihak kepada kaum minoritas Tionghoa inilah yang menjadi warisan sesungguhnya. Kita harus banyak berterima kasih terhadap Gus Dur, karenanya kita mendapatkan kesegaran pluralisme dan toleransi.

Di samping itu, karena sangat cintanya kaum minoritas Tionghoa terhadap Gus Dur, mereka sampai memberinya gelar, bapak Tionghoa Indonesia. Selain itu, nama Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid diabadikan di salah satu sinci di sebuah gedung pertemuan yang berada di jalan Gang Pinggir 31, Semarang. Di sana ada dua altar abu yang ada di tengah aula gedung lantai satu dan dua. Di atas altar tersebut ada patung dewa-dewa. Sementara di altar lantai satu terdapat 25 sinci. Perlu kita ketahui, sinci adalah papan kayu bertuliskan nama leluhur yang sudah meninggal dan diletakkan pada altar penghormatan. Nama-nama yang tercantum dalam sinci akan selalu didoakan oleh warga pecinan Semarang.

Begitu istimewanya Gus Dur, sehingga dia sangat dicintai oleh semua kalangan masyarakat. Atas keberanian dan kebijakannya, Gus Dur sangat pantas sekali mendapatkan itu semua. Gus Dur dinilai sangat berjasa bagi negara ini, karena dia telah membawa kesetaraan pada masyarakat Indonesia. Kehidupan Gus Dur selalu membawa sisi positif bagi sesamanya. Masyarakat yang mengingat kebaikan Gus Dur, akan menganggap jiwa Gus Dur masih bersamanya. Saat ini, bapak pluralisme itu seakan-akan masih hidup menemani kita untuk memperjuangkan toleransi di negeri ini.

Dengan demikian, jejak Gus Dur perjuangkan minoritas Tionghoa sangat indah sekali. Masih banyak kebaikan Gus Dur yang tidak bisa disebutkan satu per satu. Mulai dari membela kelompok minoritas sampai memperjuangkan pula hak-hak manusia lainnya yang tertindas. Gus Dur memiliki cita-cita ingin membangun Indonesia baru yang damai tanpa prasangka dan bebas dari kebencian melalui toleransi dan pluralismenya. Berkat jihad nasionalismenya, Gus Dur akan selalu diingat dan dikenang oleh semua golongan. Semoga kebaikan Gus Dur mendapatkan ganjaran besar di akhirat kelak. Aamiin.