Berita

Tengku Zulkarnain, Sebaiknya Belajar Islam lagi

2 Mins read

Mantan Wakil Sekertaris Jendral (Wasekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI), Tengku Zulkarnain, tikdak henti-hentinya menyampaikan statement-statement yang mengandung provokasi tentang keadaan terkini. Melalui cuitan-cuitannya di Twitter, Zulkarnain kerap menyampaikan pandangan terhadap suatu peristiwa, dengan menyelipkan ayat al-Quran dan hadist sebagai penguatnya. Sayangnya, pandangannya yang membawa ayat al-Quran dan hadist sering keliru, tidak tepat, bahkan salah dan menyesatkan. Ini berbahaya, sebagai orang yang mengaku dirinya sebagai ustadz atau pendakwah. Oleh karenanya, Tengku Zulkarnain sebaiknya belajar Islam lagi.


Masih hangat dalam ingatan kita, sewaktu Zulkarnain bermaksud mengomentari Munas Nahdlatul Ulama (NU) soal kafir. Dalam sebuah video yang beredar, Zulkarnain terlihat mentasrif lafad “kafir” Menurutnya lafadz kafir itu jika ditasrifkan menjadi “kafaro-yukaffiru-kuffron” yang jelas-jelas itu keliru, karena lafadz kafir merupakan isim fail tsulasi mujarod dari madzi kafaro, jika ditasrif menjadi “kafaro-yakfuru-kufron”. Sedangkan lafadz “mukaffir” adalah isim fail tsulasi mazid dari madzi “kaffaro”, jika ditasrif menjadi “kaffaro-yukaffiru-takfiiron”. Seharusnya kekeliruan ini menjadi catatan penting bagi Zulkarnain, agar kemudian ia berlapang dada berkemauan belajar lagi soal ilmu alat ini, dan belajar Islam seluruhnya secara benar.


Bagaimana mungkin seorang yang disebut ustadz atau ulama yang dalam ceramah dan cuit-cuitanya di media sosial dengan membawa ayat al-Quran dan hadist, tetapi ilmu tasrif sebagai alat untuk memahami kitab-kitab, memahami al-Quran dan hadist saja ia tidak menguasai. Seharusnya, orang seperti Zulkarnain tidak muncul di publik, dan jika Zulkarnain sebagai orang yang tidak gila penghormatan, ia mestinya sadar diri akan keilmuannya yang belum mumpuni untuk menaungi umat.


Tak hanya soal tasrifan lafadz “kafir” yang salah, sederat kasus-kasus lainnya yang ramai diperbincangkan publik, tak luput dari komentar Zulkarnain dengan pandangan sepihak, masih dipamerkan Zulkarnain melalui cuitanya di Twitter. Beberapa yang muncul baru-baru ini, Zulkarnain mengomentari soal larangan jilbab yang ia kaitkan dengan surat al-Ahzab ayat 59, kemudian ia menyinggung alat tukar jual beli menggunakan dinar yang terjadi di Depok, juga soal wakaf uang yang telah diresmikan pemerintah pada Senin (25/1/2025).


Dalam menangapi semua persoalan itu, Zulkarnain tidak menjelaskan secara detail permaslahan, juga sekaligus tidak memberi solusi yang baik, selayaknya orang yang berilmu, selayaknya ustadz. Ia tidak memberikan pandangan yang bisa mewakili masyarakat, pandangan yang berdasar hukum yang kuat, yang bisa menjadi rujukan. Alangkah lebih baik, Zulkarnain diam saja ketika persoalan baru datang di negeri ini, ketimbang ia bersuara tetapi dengan suara sumbang, rasis dan yinyiran.

Setidaknya, seorang ustadz kalau toh tidak menawarkan solusi, ia memberi pesan damai bukan mencerai berai, menampilkan Islam yang ramah bukan yang rasis dan marah-marah. Amat disayangkan, alih-alih memberi pencerahan dan pemahaman pada publik, komentar-komentar Zulkarnain justru malah mengarah pada ujaran kebencian dan provokasi untuk menyerang pemerintah dan pihak-pihak lain.

Zulkarnain yang kadang bersikap seolah dia yang paling mengerti Islam, mesti diingatkan. Memahami Islam jangan hanya kulitnya, atau secara tekstual saja, tetapi harus masuk pada wilayah isi agama (kontekstual), sehingga pemahaman agama Islam itu menjadi komperhensif dan keseluruhan. Ini penting, terlebih Zulkarnain menyampaikannya ke pada publik luas melalui media sosial. Jangan lantas menggunakan ayat al-Quran dan hadist yang dipahamai secara dangkal dan maknanya diputarbalikkan untuk membenarkan hal yang salah.

Sesuai kaidahnya, agama Islam terutama ayat-ayat al-Quran dan hadist, pemahamannya harus lurus dan tidak seenaknya. Artinya, ada kaidah yang mengarahkan kepada kebaikkan dan membawa kemaslahatan umat. Dengan demikian, hendaknya Zulkarnain jangan lagi mempolitisasi agama untuk kepentingan diri dan kelompok. Jangan baru hafal satu dua ayat dan hadist lantas menghakimi sendiri, mencaci, dan mengobarkan kebencian, serta provokasi. Apabila Zulkarnain masih ingin atau merasa dirinya layak disebut ustadz, sebaiknya Zulkarnain belajar Islam lagi.

Related posts
BeritaKolomNasihat

Diskursus Politik Kebencian

Dalam dasawarsa terakhir, masyarakat kita disibukkan kemelut politik bernuansa kebencian. Demokrasi sekarang ini mengalami ketegangan politik yang tiada henti menghunuskan pedang kebencian…
Berita

Jangan Salahgunakan UU PNPS

Polemik memandikan jenazah yang terkena covid-19 oleh tenaga kesehatan (Nakes), tampaknya berbuntut panjang dan berujung pada meja Kepolisian. Pasalnya, laporan terhadap Nakes tersebut menggunakan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1965 Tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan Penistaan Agama, yang tidak masuk akal dan cenderung disalahgunakan.
BeritaKolomNgopi

Kunjungan ke NTT, Bukti Presiden Jokowi Dicintai Rakyat

Saat Presiden Joko Widodo berkunjung ke Nusa Tenggara Timur (NTT), warga benar-benar antusias menyambut kedatangan rombongan mobil kepresidenan. Terlihat dalam sejumlah video di media sosial, masyarakat banyak yang bersukacita. Sambutan yang luar biasa menandakan kerinduan warga NTT terhadap Presiden Jokowi. Tak hanya itu, kehadiran Presiden Jokowi ke tempat lain juga senantiasa disambut dengan animo baik warga. Maka dari itu, kunjungannya ke NTT, membuktikan bahwa Presiden Jokowi sangat dicintai rakyat.