Permadi Arya atau lebih akrab dipanggil Abu Janda, kini tengah menjadi perbincangan publik. Hal ini tak lepas dari cuitannya di twitter yang disinyalir menghina Islam, karena mengatakan ‘Islam arogan’. Dalam keterangannya, ia melontarkan tweet ‘Islam arogan’ dalam posisi menjawab kicauan Tengku Zulkarnain.
Namun, bukan kali ini saja Abu Janda terjerat kasus. Sebelumnya, ia juga dilaporkan karena dianggap rasis dan menebar ujaran kebencian kepada mantan Komisioner Komnas HAM, Natalius Pigai. Ia juga pernah dilaporkan karena menyebut “teroris punya agama dan agamanya adalah Islam.” Karena hal itu, Ikatan Advokat Muslim Indonesia (IKAMI) melapor kepolisian dengan nomor STTL/572/XII/2019/BARESKRIM.
Tidak berhenti di situ saja, Soni Eranata alias Maheer Athualibi pun pernah mengadukan perbuatan Abu Janda ke polisi lantaran memfitnah dirinya sebagai guru para teroris di media sosial. Tim kuasa hukum pelapor juga mengadukan Abu Janda sebagai seorang penista agama. Abu Janda juga pernah dilaporkan oleh Muhammad Alatas dari Majelis Al Munawir ke Polda Metro Jaya pada 14 November 2018. Ia dianggap menghina bendera Tauhid, karena menyatakan bendera yang digantung di kediaman Muhammad Rizieq Shihab di Arab Saudi bukanlah panji Rasulullah, tapi bendera teroris.
Jika dilihat dari berbagai kasus yang pernah dialami oleh Abu Janda, maka saya bisa mengatakan bahwa apa yang dilakukan dan diucapkan oleh Abu Janda adalah sebuah upaya dan wujud cintanya dalam menjaga NKRI. Namun, cara dia mengungkapkan saja yang keliru dan terkesan serampangan. Kenapa demikian?
Kita ambil satu contoh kasus, terkait cuitan ‘Islam arogan’ misalnya. Dalam konteks itu, Abu Janda dianggap menghina Islam oleh sebagian orang. Namun, dalam klarifikasinya ia menyebut tweet tersebut hanya ditujukan kepada Tengku Zul. Terkait hal itu, pernyataannya yang viral tersebut lantaran bagian tweet Tengku Zul yang dibuang. Walhasil, Abu Janda merasa seolah dia mengeneralisasi Islam.
Sebelumnya, Tengku Zul lewat akun Twitter @ustadztengkuzul berbicara soal arogansi minoritas terhadap mayoritas di Afrika. Lalu, Tengku Zulkarnain menyebut tidak boleh ada arogansi, baik dari golongan mayoritas ke minoritas maupun sebaliknya. “Dulu minoritas arogan terhadap mayoritas di Afrika Selatan selama ratusan tahun, apartheid. Akhirnya tumbang juga. Di mana-mana negara normal tidak boleh mayoritas arogan terhadap minoritas. Apalagi jika yang arogan minoritas. Ngeri melihat betapa kini ulama dan Islam dihina di NKRI.” Cuitan tersebut dipublikasikan hari Minggu (24/1).
Lalu, Abu Janda membalas cuitan Tengku Zul dengan menyebut ada Islam yang ‘arogan’ karena mengharamkan kearifan lokal di Indonesia. “Yang arogan di Indonesia itu adalah Islam sebagai agama pendatang dari Arab kepada budaya asli kearifan lokal. Haram-haramkan ritual sedekah laut, sampai kebaya diharamkan dengan alasan aurat,” cuit Abu Janda lewat akun @permadiaktivis1.
Lebih lanjut, Abu Janda memberikan pandangannya terkait ‘Islam arogan’ kepada kearifan lokal. “Ritual tradisi asli dibubarin alasan syirik, pakai kebaya dibilang murtad, wayang kulit diharamin, dan masih banyak lagi upaya penggerusan pemusnahan budaya lokal dengan alasan syariat. Kurang bukti apa lagi Islam memang arogan terhadap kearifan lokal?,” cuit Abu Janda.
Dalam konteks ini, kita tak bisa mengatakan bahwa Abu Janda tengah menghina Islam. Pasalnya, hal itu tak lepas dari konteks menjawab tweet Tengku Zul. Meminjam istilah Cah Nun, bahwa ‘Islam arogan’ ini salah kaprah. Menurut Cak Nun, Islam bukan subjek yang bisa memiliki sifat-sifat yang kerap dimiliki manusia. Karenanya, tidak mungkin kalau Islam itu arogan, yang mungkin arogan itu Muslimnya, bukan Islamnya.
Dalam hal ini, maka Muslim arogan yang dimaksud Abu Janda adalah orang-orang yang kerap mengharam-haramkan kearifan lokal di Indonesia. Orang-orang Muslim yang anti-sedekah laut, anti-kebaya, anti-tradisi dan dan budaya lokal, bukan Islam sebagai agama. Karenanya, tidak tepat bila Abu Janda dianggap menghina Islam.
Dalam pandangan saya, sikap yang ditunjukkan Abu Janda ini adalah sikap seorang kesatria. Sikap seorang pemberani yang membela Tanah Air dan bangsanya. Bangsa yang menghargai perbedaan dan keragaman. Bangsa yang akomodatif terhadap kemajemukan dan kebinekaan. Abu Janda, dalam hal ini hanya menunjukkan kecintaannya dan ingin menjaga NKRI dari arogansi seorang Muslim intoleran yang tak menerima budaya dan tradisi lokal.
Lebih dari itu, jika kita melihat sepak terjang Abu Janda ke belakang, ia merupakan sosok pemberani dan terdepan dalam melawan kelompok-kelompok intoleran, radikal, ekstremis, bahkan teroris sekalipun. Hal ini menunjukkan bahwa Abu Janda memiliki komitmen yang kuat untuk terus menjaga NKRI dari kelompok-kelompok yang ingin memecah belah umat dan bangsa. Karena itu, keberanian yang ditunjukkan oleh Abu Janda sudah sepatutnya diapresiasi. Namun demikian, sikap Abu Janda yang terkesan serampangan juga perlu dikurangi. Abu Janda harus menyampaikan pesan dengan lebih bijak dan halus.
Walhasil, apa yang ditunjukkan oleh Abu Janda dari dulu hingga kini, sebenarnya adalah bentuk rasa cintanya kepada NKRI. Abu Janda yang selalu terdepan dalam melawan kelompok intoleran, radikal, ekstremis, bahkan teroris, membuktikan bahwa Abu Janda selalu berkomintmen untuk menjaga NKRI.