Pada peringatan Hari Lahir Nahdlatul Ulama (NU) ke-95 yang digelar oleh PDI Perjuangan (31/01/21), mantan Presiden Republik Indonesia, Ibu Megawati Soekarno Putri, berpesan agar NU terus menyebarkan Islam yang damai dan rahmatan lil alamin dan terus meneguhkan komitmen kebangsaannya. Karenanya, kaum nasionalis dan religius harus berjalan beriringan. Pasalnya, Presiden pertama RI, Bung Karno, sejak dulu sangat dekat dengan para penggerak dan pendiri NU, seperti KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Abdul Wahab Hasbullah. Pertanyaannya, bagaimana kisah keakraban Bung Karno dan NU?
Kisah keakraban Bung Karno dan NU bukanlah isapan jempol belaka. Banyak kisah manis yang telah diukir keduanya untuk negeri kita tercinta. Kedekatan Bung Karno dengan para tokoh NU misalnya, menjadi simbol keakraban Sang Proklamator dengan ormas Islam terbesar tersebut. Baik Bung Karno maupun NU sedari awal memang akrab dikarenakan beberapa hal.
Pertama, visi kebangsaan yang sama. Kebangsaan yang diusung Bung Karno adalah sebuah upaya untuk melahirkan pemikiran kebangsaan Indonesia yang baru, yang relevan dengan konteks zaman saat itu. Pemikiran kebangsaan Bung Karno yang berhasil memadukan antara keindonesiaan, keislaman, dan kemanusiaan tentu sejalan dengan konsep kebangsaan yang digagas oleh NU, yaitu mengintegrasikan keislaman ke dalam bingkai nasionalisme.
Dalam hal ini, Zainal Abidin dan Imam Anshori dalam Soekarno dan NU: Titik Temu Nasionalisme (2013), menyebut nasionalisme menjadi titik temu antara Bung Karno dan NU. Keduanya sama-sama mengobarkan spirit membela Tanah Air. Bung Karno menempatkan nasionalisme sebagai api pembakar perjuangan melawan kolonialisme. Sementara NU, memaknai nasionalisme dalam bingkai hubbul wathan minal iman (cinta Tanah Air sebagian dari iman).
Di sinilah alasan pertama, kenapa Bung Karno dan NU sangat akrab. Kedekatan dan kesamaan spirit, pikiran, perjuangan, serta visi antara Bung Karno dan NU dalam konteks nasionalisme tak bisa dipungkiri. Dari keduanya lahir sebuah visi kebangsaan yang hingga kini menjadi pijakan utama kita dalam berbangsa dan bernegara. Jasa terbesar Bung Karno dan NU adalah sama-sama menjadi pelopor bagi tonggak keindonesiaan bangsa ini, yaitu sikap toleransinya yang tinggi terhadap keragaman agama, suku, dan budaya.
Kedua, kedekatan Bung Karno dengan beberapa tokoh NU. Kedekatan Bung Karno dengan Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari misalnya, menjadi bukti bahwa Bung Karno akrab dengan NU. Kedekatan keduanya bisa kita lihat ketika Bung Karno mengirim utusan kepada Mbah Hasyim untuk mengonsultasikan tentang hari baik memproklamasikan kemerdekaan. Lebih dari itu, saat meletus Agresi Militer Belanda di Surabaya, Bung Karno juga mengutus orang untuk meminta fatwa Mbah Hasyim soal membela Tanah Air, hingga akhirnya muncul seruan jihad atau dikenal dengan istilah Resolusi Jihad.
Sebagaimana disebut oleh Zuhairi Misrawi dalam Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari: Moderasi, Keumatan, dan Kebangsaan (2010), pada tanggal 22 Oktober 1945, Mbah Hasyim bersama sejumlah ulama di kantor NU di Jawa Timur mengeluarkan sebuah resolusi jihad untuk melawan pasukan gabungan Belanda dan Inggris. Seluruh umat Islam terbakar semangatnya untuk melakukan perlawanan pada tanggal 10 November 1945. Peristiwa tersebut akhirnya dikenal dengan Hari Pahlawan Nasional.
Selain itu, kedekatan Bung Karno dengan KH. Abdul Wahid Hasyim juga menjadi simbol keakraban Bung Karno dengan NU. Bersama Bung Karno, Wahid Hasyim berjuang bersama menyiapkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Bersama Bung Karno, ia duduk sebagai Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Dalam hal ini, Wahid Hasyim berperan penting dalam kompromi kebangsaan dengan pencoretan tujuh kata pada Piagam Jakarta. Saat Bung Karno menjadi presiden pun, Wahid Hasyim terus bersama dengan duduk sebagai Menteri Agama (Rahmad Sahid, 2019: 147).
Selain dekat dengan Mbah Hasyim dan KH. Wahid Hasyim, Bung Karno juga dekat dengan banyak tokoh NU lainnya, termasuk KH. Wahab Hasbullah. Kedekatan Bung Karno dengan para tokoh NU di masa itu, membuktikan bahwa Bung Karno sangat akrab, bahkan bisa dibilang mesra dengan NU. Kedekatan keduanya, menjadi inspirasi bagi kalangan nasionalis dan religius bergandengan tangan untuk terus menjaga spirit keindonesiaan dan kebangsaan yang telah dibangun Bung karno bersama NU di masa lalu.
Ketiga, kecintaan Bung Karno kepada NU. Pada Muktamar NU ke-23 tahun 1962, Bung Karno mengatakan, Saya sangat cinta sekali kepada NU. Saya sangat gelisah jika ada orang yang mengatakan bahwa ia tidak cinta kepada NU. Meski harus merayap, saya akan tetap datang ke muktamar ini agar orang tidak meragukan kecintaan saya kepada NU!”
Pernyataan Bung Karno di atas, bukan saja menjadikan Bung Karno akrab dengan NU, tetapi NU sudah menjadi seperti bagian dari kehidupan Bung Karno. Bahkan, kecintaannya kepada NU membuat Bung Karno berani mengatakan rela merayap untuk menghadiri muktamar NU pada saat itu.
Lebih dari itu, pengangkatan Bung Karno sebagai waliy al-amri al-dlaruri bi al-syaukah, yakni menetapkan Bung Karno sebagai pemimpin nasional dalam keadaan darurat. Keputusan tersebut diambil saat Munas Alim Ulama tahun 1954 agar syariat Islam bisa ditegakkan karena pemerintahan Bung Karno sah secara syar’i. Dari sini terlihat jelas bahwa Bung Karno dan NU tampak nyata kisah keakrabannya.
Kisah-kisah antara Bung Karno dan NU di atas, pada akhirnya membuka cakrawala kita bersama bahwa Bung Karno dan NU memang memiliki keakraban tersendiri. Karena itu, di tengah momentum Hari Lahir NU ke-95 ini, sudah seharusnya kita menjadikan kisah keakraban tersebut sebagai teladan kita bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Teladan seperti apa? Yaitu teladan menjaga kebangsaan, keindonesiaan, dan keislaman. Selamat Hari Lahir NU ke-95.