Anggota Komisi I DPR RI, Fadli Zon, kembali mendapat sorotan publik. Hal ini lantaran sikap dan pernyataanya yang kerap menuai kontroversi dan polemik di media sosial. Karenanya, sebagian warganet menganggap Fadli Zon sebagai tukang nyinyir. Pun begitu, penulis secara pribadi menilai Fadli Zon bukanlah wakil rakyat, tetapi tukang nyinyir. Kenapa demikian?
Sebagaimana diketahui, Fadli Zon adalah anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang sudah menjabat selama tiga periode. Sebagai wakil rakyat, seharusnya dia lebih banyak menyuarakan aspirasi rakyat dan turut membantu permasalahan-permasalahan pelik yang ada di masyarakat. Namun demikian, jika kita melihat sepak terjang Fadli Zon belakangan ini, ia jauh dari kata wakil rakyat, yang menyerap aspirasi rakyat, dan membantu rakyat. Fadli Zon tak lebih dari seorang tukang nyinyir.
Pernyataan ini memang tidak belebihan. Faktanya, Fadli Zon sebagai wakil rakyat tidak mencerminkan sebagai seorang wakil rakyat, justru sebaliknya ia malah kerap mengutarakan narasi nyinyir di twitternya. Mulai dari pembelaannya terhadap ormas terlarang FPI hingga puisi yang berjudul ‘Negeri di Tepi Jurang’ yang ditulisnya. Semua pernyataan yang ditulisnya bersifat tendensius, menyudutkan pihak tertentu, dan terkesan nyinyiran belaka. Tak ada gagasan yang sifatnya membangun, apalagi memberikan solusi.
Pembelaan terhadap FPI misalnya, Fadli Zon menganggap sebuah pelarangan organisasi tanpa proses pengadilan adalah praktik otoritarianisme. Bagi Fadli Zon, ini merupakan pembunuhan terhadap demokrasi dan telah menyelewengkan konstitusi. Dalam hal ini, Fadli Zon lantang menyerukan pembelaannya terhadap FPI. Bahkan, ia menyebut “Emangnya FPI teroris”, “Pendukung MRS cinta damai”. Tentu saja hal ini tidak benar. Kenyataannya, data-data yang ada menunjukkan FPI adalah ormas yang mendukung kelompok teroris dan ormas intoleran. Karena itu, tidak semestinya Fadli Zon membela dan mendukung ormas yang telah dilarang ini.
Dalam konteks ini, Fadli Zon terkesan bukan lagi menjadi wakil rakyat, melainkan menjadi wakil FPI. Pasalnya, Fadli Zon secara eksplisit telah membela dan mendukung FPI. Ormas yang telah banyak meresahkan masyarakat, ormas yang mendukung kelompok teroris, ormas anti-Pancasila, dan ormas yang kerap melakukan kekerasan dalam tiap aksinya.
Lebih dari itu, puisi Fadli Zon yang berjudul ‘Negeri di Tepi Jurang’ tak lebih dari sekadar nyinyiran saja. Sebagaimana diketahui, Fadli Zon menulis puisi tersebut di saat negeri ini tengah dilanda banyak bencana. Mulai dari pandemi Covid-19, tanah longsor di Sumedang, bencana alam di Sulawesi Barat, hingga banjir bandang yang meluluhlantakkan Kalimantan Selantan. Banyak rakyat yang berduka, kehilangan rumah, kehilangan saudara, mata pencaharian, bahkan kehilangan kebahagiaan dan semangat hidup menatap masa depan. Rakyat yang terkena musibah tersebut membutuhkan uluran tangan dan bantuan kita semua. Mulai dari masyarakat, pemerintah, TNI-Polri, BNPB, bahkan anggota dewan sekalipun. Semua sangat dibutuhkan bentuk kepeduliannya yang nyata terhadap saudara-saudara kita yang tertimpa musibah tersebut.
Namun demikian, Fadli Zon yang notabene merupakan anggota dewan wakil rakyat, bukannya memberikan uluran tangan dan bantuan kepada para korban bencana, malah membuat puisi nyinyir. Dalam puisi itu, ia menyinggung soal pemenjaraan karena kata-kata hingga utang. Ia juga bicara soal bencana yang kata dia di mana-mana, mulai dari di darat, laut dan udara. Ia juga bicara tentang kebengisan dan kesombongan. Di akhir bait puisinya, Waketum Gerindra itu menuliskan kalimat memohon keselamatan kepada Allah SWT. Pertanyaannya, apakah dengan membuat puisi tersebut masalah bencana dapat terselesaikan?
Tentu saja jawabannya tidak. Seharusnya, di tengah musibah dan bencana yang menimpa negeri ini, Fadli Zon bisa lebih menunjukkan rasa kepeduliannya kepada rakyat. Fadli Zon harus menunjukkan keberadaannya di samping rakyat. Fadli Zon harus terjun langsung ke lokasi bencana, memberi bantuan, dan menyantuni rakyat yang menjadi korban bencana. Membuat puisi nyinyir tak akan menyelesaikan masalah, justru sebaliknya, hanya akan menambah masalah kian pelik.
Berdasarkan poin-poin di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Fadli Zon tidaklah tepat di sebut sebagai wakil rakyat, ia lebih tepat disebut sebagai tukang nyinyir. Sedikitnya, ada tiga alasan yang dapat disebutkan. Pertama, Fadli Zon kerap melontarkan pernyataan yang kerap menuai kontroversi dan polemik. Kedua, Fadli Zon lebih menyerap aspirasi dan membela FPI daripada menyerap aspirasi dan membela rakyat. Ketiga, di tengah situasi musibah dan bencana, Fadli Zon malah menulis puisi nyinyir.
Atas dasar itu semua, kiranya tidak salah jika kita menyebut Fadli Zon bukanlah wakil rakyat, tetapi tukang nyinyir. Pembelaan Fadli Zon terhadap FPI dan puisinya yang berjudul ‘Negeri di Tepi Jurang’ telah membuktikan itu semua. Karenanya, jangan salahkan publik jika mereka mengatakan hal serupa.