Kolom

Pandji Pragiwaksosno, Gagal Jadi Motivator, Beralih Jadi Provokator

3 Mins read

“Menghina tidak akan membuat elo menang pertarungan, hanya akan membuat keduanya makin marah” demikianlah, sepotong kata bijak dari seorang Pandji Pragiwaksono. Bila kita cermati, kata-kata itu sangat tepat disematkan pada dirinya, yang baru-baru ini menghebohkan publik dengan membanding-bandingkan antara FPI dengan Nahdlatul Ulama-Muhammadiyah. Pernyataan yang tidak seharusnya keluar dari seorang publik figur yang katanya berpendidikan. Dengan demikian, maka benarlah, seorang Pandji Pragiwaksono gagal menjadi motivator, kini malah beralih menjadi provokator.

Pernyatan kontroversial itu awalnya ia unggah melalui blog pribadinya dalam bentul artikel, tahun 2013. Lalu kemudian menjadi viral setelah ia kembali membahasnya bersama dua teman komikanya yang di unggah melalui Youtube dua minggu yang lalu dengan judul “FPI dibubari percuma?” Diketahui, dua komika tersebut bernama Afif Xavi dan Fikri Kuning. Keduanya merupakan mantan anggota FPI dan orang yang tinggal di lingkungan FPI di Petamburan.

Dalam video yang tayang Youtube tersebut, Pandji dan dua temannya membahas soal pembubaran FPI dan peran FPI di masyarakat. Pandji mengatakan, “Di beberapa bagian Jakarta, para ibu lebih rela anaknya dititipin ke FPI daripada mabuk ga jelas, ngaji aja sama FPI.” Pandji juga mengatakan, alasan kenapa FPI bisa dekat dengan masyarakat, namun tidak demikian dengan NU dan Muhammadiyah.

“Pintu rumahnya FPI kebuka untuk warga, jadi orang kalau mau dateng bisa, lu mau apa, lu ngobrol sama gua. Yang NU dan Muhammadiyah karena sudah terlalu tinggi dan elitis, warga tuh enggak ke situ, warga justru ke nama-nama besarnya FPI,” terang Pandji. Ucapan tersebut, diakuinya sebagai kutipan dari seseorang sosiolog bernama Tamrin Tamagola. Ucapan Pandji meski mengutip ucapan sesorang, sangat disayangkan. Sebagai seorang yang berpendidikan sama sekali dia bisa menyaring perkataan-perkataan yang kiranya memancing keributan dan menyakiti hati masyarakat, khususnya nahdliyin dan Muhammadiyah. Sangat tidak mungkin Pandji tidak mengetahui NU dan Muhammadiyah, keceuali memang dia tidak pernah belajar sejarah.

Dengan mengutip tanpa ia memberi pandangan, seolah Pandji juga membenarkan, mengamini, dan mendukung pernyataan Tamrin Tamagola, jika itu benar ucapan Tamrin Tamagola. Akan tetapi ini menjadi ganjil, karena kita semua tau Tamrin Tamagola adalah pihak yang selalu bersebrangan dengan FPI. Bahkan, dalam satu acara talkshow yang disiarkan oleh TVOne, yang ketika itu menghadirkan Tamrin Tamagola dan juru bicara FPI, yakni Munarman, Tamrin mendapat perlakuan yang sangat tidak terpuji. Saat dialog antar keduanya memanas, Munarman menyiramkan segelas teh ke wajah Tamrin Tamagola. Tentu peristiwa itu masih sangat diingat oleh semua orang. Oleh karenanya, akan aneh bila kemudian tiba-tiba Tamrin memuji-muji FPI.

Bukan kali ini saja Pandji membuat kontroversi yang melibatkan atau menghina pihak lain. Pada 1 April 2019, dalam video berdurasi 7 menit 22 detik yang diunggah di Youtube pribadinya, Pandji mengungkapkan dirinya membenci kucing, karena menurutnya, kucing termasuk hewan yang gembel, hewan yang kerjanya ngemis dan hidup dari sampah. Ini keterlaluan, sangat tidak mencerminkan seorang Muslim. Andai dia tau, dalam sejarah peradaban Islam, kucing merupakan huwan kesayangan Nabi. Sangat disayangkan seorang yang memiliki banyak penggemar memprovokasi dan menghinakan seekor kucing, hewan yang disayangi penghuni langit.

Kedua, pada tahun 2018, Pandji berstand up comedy dengan membawa materi tentang FPI. Ia mengatakan, FPI jangan pernah dibubarin dan harus tetap ada. Biar kita tau kalo orang yang gak pernah sekolah jadinya kayak apa. Ini adalah ciri omongan seorang provokator yang tidak pernah merasa atau bahkan tidak mau tau tindakan kriminal FPI yang selama ini meresahkan dan mengganggu ketertiban negara.

Selanjutnya yang ketiga, Pandji juga pernah mengkritik penyalahgunaan toa masjid. Dalam video itu ia menirukan sebuah pengumuman dengan menggunakan toa masjid yang tanpa aba-aba. Menurut saya, kritik ini malah justru melebihi kaum intoleran kadrun. Yang disuarakan di toa masjid adalah suara adzan, pengajian, pengumuman orang meninggal, dan hal-hal manfaat lainnya. Lalu salahnya dimana? Sedang dirinya pernah mengatakan, perbedaan tidak hanya merupakan pilihan, tetapi keadan yang diciptakan Tuhan. Bukan urusan kita membuat seisi bumi seragam. Lalu mengapa Pandji mempermasalahkan toa masjid? Sekali lagi, Pandji memperlihatkan dirinya seorang provokator.

Keempat, pada 2011 Pandji juga memancing emosi warganet karena dalam lawakannya dianggap menghina MUI dan Islam. Bukan hanya MUI yang dikritik, namun juga kata “takbir” yang kita tau adalah seruan umat Islam, pun ia kritisi, padahal ia sendiri seorang Muslim. Sedang dalam quotesnya ia mengatakan, surga dunia adalah ketika kita bisa hidup dari karya kita, dari apa yang kita cintai. Lalu apa artinya berkarya apa artinya hidup, bila dalam berkaryanya menghina dan merendahkan pihak lain? Silakan sampaikan fakta dan kebenaran yang sulit dalam bentuk komedi, namun jangan pernah menghina siapapun.

Dari sekian kasus kontroversinya, tak lain adalah berlawanan dengan kata-kata bijak yang pernah ia lontarkan. Pandji sebagai publik figur harusnya lebih hati-hati dalam berbicara. Jangan lantas kemudian gagal jadi motivator lalu beralih jadi provokator. Silakan fanatik, silakan mendukung suatu kelompok, tetapi jangan kemudian menghina dan merendahkan kelompok lain. Sangat tidak elok. Saya menulis ini karena jelas Pandji bersalah, dan dengan sombongnya ia tak meminta maaf, hanya klarifikasi.

Pandji Pragiwaksosno pernah mengatakan, “Kalau kita tidak protes terhadap kesalahan yang kita lihat, maka kita tidak bisa berharap pada perubahan.” Dengan demikian, saya ingin katakan, Pandji Pragiwaksono, kamu boleh gagal jadi motivator, namun jangan lantas jadi provokator.

Related posts
Kolom

Demokrat Sudah Menjadi Partai Dinasti Bukan Demokrasi

Peralihan kekuasaan, posisi Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrat (PD) dari orang tua ke anak, menjadikan organisasi tersebut dicap sebagai partai dinasti. Pada umumnya di negeri ini, partai-partai menganut sistem demokrasi. Namun, apa yang dilakukan PD telah melukai sistem demokrasi partai. Awalnya hal itu terjadi, karena dipilihnya secara aklamasi Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) pada Kongres ke-V PD tanggal 15 Maret 2020. Maka itu, terlihat sekali bahwa PD sudah menjadi partai dinasti, bukan lagi demokrasi.
KolomNasihat

Diskursif Agama dan Negara Kontemporer

Gelombang populisme Islam menguat sejak kran reformasi dibuka. Berbagai arus aliran Islam transnasional masuk dan menginfiltrasi kaum Muslim Indonesia. Negara penganut Islam…
BeritaKolom

Zuhairi Misrawi, Jubir Arab Saudi

Tersebar berita, bahwa Kiai Zuhairi Misrawi atau yang akrab disapa Gus Mis ditunjuk oleh Presiden Jokowi sebagai Duta Besar Indonesia untuk Arab…