Berita bohong seputar vaksin Covid-19 kian lama kian menggila. Narasi yang mengada-ada memaparkan efek samping vaksin Covid-19 yang dapat membuat sakit, demam, kejang-kejang, pingsan, bahkan meninggal. Tidak hanya itu, ada pula narasi yang menggunakan cuplikan video penjelasan Ketua Tim Pelaksana Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, Erick Thohir terkait Barcode vaksin Covid-19, beserta cuplikan video lain yang menyebut vaksin Covid-19 mengandung microchip yang dapat melacak keberadaan setiap orang yang telah disuntikkan vaksin Covid-19.
Kampanye anti-vaksin tersebut masif memperalat hoaks dan menyebarkan narasinya di media sosial. Bukan hanya menimbulkan perpecahan antarkelompok, tetapi juga dapat memicu hilangnya kepercayaan publik terhadap vaksin Covid-19 yang sejatinya mampu menyelamatkan banyak jiwa. Tak dapat dipungkiri, skeptisisme vaksin, lama kelamaan akan membunuh kita.
Pertama, beredar video yang memperlihatkan warga bergelimpangan usai disuntik. Video tersebut disertai dengan narasi Ratusan Warga Bergelimpangan Menjadi Korban Usai Disuntik Vaksin. Hati-Hati! Usahakan menghindari suntikan vaksin. Jika ada yang bertanya/mengur, tunjukkan video ini sebagai bukti. Vaksin yang dimaksud adalah vaksin Sinovac.
Setelah ditelusuri Kominfo, faktanya klaim narasi pada unggahan video itu salah. Video yang digunakan adalah video lama. Video tersebut memperlihatkna suasana di Kawasan Kadur, Pamekasan, Jawa Timur. Kala itu, Minggu 11 Februari 2018, sejumlah santri dan santriwati mendapatkan imunisasi suntik Difteri. Namun, sejumlah santri tersebut diduga mengalami keracunan. Video itu sama sekali tidak berhubungan dengan vaksin Sinovac atau Covid-19.
Kedua, beredar foto yang menyebut Singapura menghentikan program vaksinasi, karena ada kasus orang yang meninggal dunia. Faktanya, klaim Singapura menghentikan vaksinasi setelah 48 orang meninggal dunia merupakan informasi yang salah. Hal tersebut merupakan pemberitaan pada 26 Oktober 2020 lalu, di mana kasus kematian di Korea Selatan terkait dengan Vaksin Influenza. Singapura juga sudah melanjutkan program vaksinasi pada 31 Oktober 2020 lalu, setelah tidak ada bukti yang kuat penyebab antara vaksin dengan kematian.
Selanjutnya, telah beredar sebuah video berdurasi 2.04 menit pada platform media sosial. Video tersebut menampilan cuplikan penjelasan Erick Thohir terkait Barcode vaksin Covid-19, beserta cuplikan video lain yang mengklaim, bahwa vaksin Covid-19 yang menjadi program Pemerintah Indonesia saat ini memiliki komponen manajemen system yang bisa melacak lokasi keberadaan setiap orang yang telah disuntikkan vaksin Covid-19.
Faktanya, klaim narasi pada video tersebut yang menyebutkan, bahwa orang yang telah disuntuk vaksin dapat dilacak keberadaannya adalah tidak benar. Juru Bicara Kementrian Komunikasi dan Informatika, Dedy Permadi menyatakan, bahwa informasi vaksin Covid-19 mengandung chip atau komponen yang mampu mendeteksi keberadaan orang setelah disuntikkan adalah berita bohong atau hoaks. Barcode yang ada di produk vaksin Covid-19 adalah kode untuk pelacakan distribusi produk vaksin dan tidak menempel di dalam orang yang menerima suntik vaksin tersebut.
Dari sekian banyak hoaks tentang narasi anti-vaksin, sudah seharusnya kita membuka mata menghadapi kenyataan, bukan terus-meneru berkhayal. Salah satu vaksin Covid-19, Sonovac telah teruji aman dan halal untuk digunakan di Tanah Air. Mengapa masih saja kita ragu untuk disuntik vaksin?
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) secara resmi telah mengeluarkan izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA) vaksin Covid-19 Sinovac. Izin dikeluarkan setelah melihat hasil evaluasi vaksin yang memiliki efikasi sebesar 65,3 persen. Adapun data yang mendukung terbitnya izin darurat adalah data keamanan subjek uji klinis yang diamati setelah dua kali penyuntikan, data imunogenisitas atau kemampuan vaksin membentuk antibody, dan data efikasi vaksin atau kemampuan vaksin melindungi orang yang terpapar virus menjadi tidak sakit.
Data di atas kian menguatkan kepercayaan kita terhadap vaksin sekaligus menangkal semua narasi anti-vaksin Covid-19 yang jelas-jelas tidak sesuai data konkret. Semakin kita mempercayai hoaks vaksin, semakin hal itu dapat membunuh kita, sebab kita tidak pernah tahu, bagaimana dan kapan Covid-19 akan menyerang kita.
Solusi pemberantasan berita bohong alias hoaks, dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, solusi jangka pendek, seperti hukum bagi penyebar dan produsen hoaks (penegakan hukum UU ITE Pasal 27), termasuk melaporkan hoaks dan peningkatan fact checkers (pengecek fakta). Sedangkan solusi jangka panjang, dapat diatasi dengan cara meningkatkan digital literacy (melakukan literasi digital untuk mengampanyekan gerakan anti-hoaks).
Dengan demikian, hoaks vaksin yang bertubi-tubi hadir di media sosial dapat kita atasi bersama, baik dengan solusi jangka pendek, maupun jangka panjang. Mari kita tutup ruang gerak hoaks vaksin. Dengan begitu, hoaks vaksin tersebut tidak akan mampu memengaruhi atau bahkan membunuh kita.[]