Kolom

Bijak Memilih Media Massa

2 Mins read

Di Twitter, sedang ramai perbincangan mengenai media massa Tempo, yang menunjukan kalimat, “Tempo Media Kafir dan Stop Iklan Tempo.” Saat ini, masyarakat mulai bisa menilai media massa mana yang memang benar-benar menyuguhkan informasi provokasi dan pemersatu. Komentar negatif pun dibanjiri warganet, ada yang mengatakan media penyebar hoax, adu domba, bahkan ada juga yang berkomentar media yang memutar balikkan fakta. Maka itu, melihat kasus tersebut, kita harus pandai dalam memilih media massa untuk mencari informasi.

Sebelumnya, sejumlah perkara pencemaran nama baik pernah diterima media massa Tempo. Salah satunya, yaitu kasus pencemaran nama baik Tomy Winata. Kasusnya melawan Tomy Winata akibat pemberitaan Majalah Tempo pada edisi 3 Maret 2003, yang menyebutkan adanya keterlibatan Tomy Winata dalam kasus kebakaran pasar Tanah Abang, karena memiliki kepentingan dengan pemugaran pasar. Saat itu, majelis hakim yang dipimpin Zoeber Djayadi, menghukum Koran Tempo dengan membayar ganti rugi sebesar US$ 1 juta kepada Tomy Winata. Majelis hakim menilai pemberitaan Koran Tempo tersebut mencemarkan nama baik dan menghina Tomy Winata.

Selain itu, Majalah Tempo pula pernah merugikan umat Kristiani, dalam pemilihan gambar sampul. Terlihat pada edisi 4 Februari 2008, dengan tema Perjamuan Terakhir, yang menunjukkan gambar anggota keluarga Presiden Soeharto. Padahal itu adalah lukisan Leonardo da Vinci, tentang perjamuan Kudus Yesus. Hal tersebut tentu menyakiti hati umat Kristiani. Ketidak hati-hatian Tempo, terpaksa membuatnya meminta maaf terhadap seluruh umat Kristiani atas pemilihan sampul tersebut.

Lagi-lagi sampul Majalah Tempo menyinggung seseorang. Kali ini yang dia singgung adalah Presiden Joko Widodo. Pada edisi Senin (16/9/2024), sampul Majalah Tempo menampakkan gambar Presiden Jokowi dengan bayangannya yang berhidung panjang. Tak puas dengan hal tersebut, sejumlah orang yang mengatasnamakan Jokowi Mania, mendatangi Dewan Pers untuk melaporkan Majalah Tempo. Ketua Umum Jokowi Mania, Immanuel Ebenezer mengatakan, sampul Majalah Tempo diduga telah menghina Presiden, karena memuat gambar Jokowi dengan bayangan hidung panjang, seperti tokoh Pinokio.

Melihat dari beberapa kasus tersebut, Tempo nampaknya tidak belajar dari pengalaman. Di Twitter, banyak sekali akun yang membicarakan Tempo. Mereka menyimpulkan, bahwa media tersebut bisa dibeli atau disebut sebagai media bayaran. Bahkan di salah satu akun Twitter mengatakan, Tempo selalu melakukan penggiringan opini masyarakat, dengan isi berita yang sangat menyerang dan merugikan, tanpa adanya kebenaran. Dalam hal ini, Tempo sangat kelihatan sekali menjadi media informasi oposisi.

Seharusnya media massa itu membangun informasi yang sesuai dengan data serta fakta, dan tidak mengadu domba antara dua belah pihak yang saling kontra. Di samping itu, penggunaan media massa tidak hanya untuk hiburan semata, tetapi juga berfungsi sebagai alat pendidikan. Contohnya, ketika kita mencari sesuatu yang membantu meningkatkan wawasan kita agar lebih luas untuk belajar. Maka itu, bermedia massa menggunakan etika itu penting. Jangan sampai kita menyalahgunakan media massa. Perlu kita ketahui, etika merupakan suatu perilaku yang mencerminkan itikad baik untuk melakukan suatu tugas dengan kesadaran, kebebasan yang dilandasi kemampuan.

Sementara itu, pengertian media massa menurut Hafied Cangara, media massa adalah alat yang digunakan dalam penyampaian pesan dari sumber kepada khalayak dengan menggunakan alat-alat komunikasi seperti surat kabar, film, radio dan televisi. Sedangkan media merupakan alat atau sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari komunikator kepada khalayak. Maka itu, kita harus bijak dalam menggunakan media massa. Jika kita menyalahgunakan media massa, maka akan berdampak buruk bagi seseorang. Karena media massa adalah alat yang sangat efektif dalam melakukan komunikasi, lantaran dapat mengubah sikap, pendapat dan perilaku individu.

Dengan demikian, media massa harus menyajikan pemberitaan atau informasi yang komprehensif, benar, dan cerdas. Media massa dituntut untuk selalu akurat dan tidak berbohong dalam menyebarkan berita. Lalu, fakta harus disajikan secara nyata dengan data yang kuat. Karena itu, media massa memiliki pengaruh yang kuat dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, kita diharuskan pandai dan bijak dalam memilih media massa.

Related posts
Dunia IslamKolom

Sektarianisme Sunni-Syiah Sudah Usang

Nabi Muhammad SAW. dengan ajarannya yang spektakuler, sama sekali tidak mengenal istilah Syiah maupun Sunni. Gagasan besar Nabi adalah perdamaian, kasih sayang,…
Kolom

Waspada, Buzzer PKS Lebih Berbahaya

Memasuki bulan kedua tahun 2021, fenomena buzzer memang masih terus menguat menjadi perbincangan hangat publik maya dan nyata. Hal itu didukung oleh…
Kolom

Kita Perlu Pembinaan terhadap Ustadz Mualaf

Maraknya ustadz Mualaf yang berceramah dengan ujaran kebencian dan intoleran patut menjadi perhatian kita bersama. Salah satunya yaitu ceramah kontroversial yang disampaikan…