Simpang siur mengenai siapa bos yang membiayai pergerakan Front Pembela Islam (FPI) selama ini kian ramai diperbincangkan publik maya. Nama tersebut menguat pada salah satu partai berlogo bintang bersinar tiga arah, yakni Demokrat. Viralnya Demokrat bos kadrun, kemudian menjadi trending di laman Twitter baru-baru ini, meski tak sempat menduduki trending posisi pertama.
Viralnya Demokrat bos kadrun bukan tanpa alasan, banyak hal yang kemudian menyeret para netizen untuk mengangkat isu kedekatan khusus Demokrat dengan para kelompok kadrun. Dilaman Instagram dan Twitter misalnya, bertebaran meme dan foto-foto yang diedit sedemkian rupa. Ada SBY disandingakn dengan Muhammad Rizieq Syihab (MRS), ada SBY dengan latar belakang para anggota FPI, dan bendera Demokrat membingkai kelompok FPI kala sedang aksi, dan foto FPI-Demokrat seperti sedang dibuat wayang dan dalang, serta masih banyak lainnya. Meme-meme itu juga yang disertai tulisan-tulisan.
Diantaranya bertuliskan seperti ini : Partai Demokrat dalang ulah kadrun, SBY pemberi uang bagi kelompok yang tujunnya menghancurkan Indonesia, ingat..siapa bohir kalian? Demokrattt.., Ormas radikal dibubarin, Demokrat yang kebakaran, bohir gemetaran tau rekening FPI diblokir, takut ketauan nyalurin dana buat aksi teror dan kerusuhan, dan masih banyak lainnya. Terlepas itu benar atau tidak, saya tidak bisa memastikan, namun bila itu benar, sungguh sangat disayangkan. Bagi para pembaca, bisa menemukan meme-meme tersebut pada akun @pancasila_sakti.id atau dikolom pencarian Twitter, #DemokratBosKadrun.
Selain meme-meme yang bertebaran di Instagram dan Twitter, terdapat pula beberapa statement dari politikus Demokrat menyikapi keputusan pemerintah membubarkan dan melarang kegiatan FPI, yang hampir semua bernada protes tanda ketidaksetujuannya pada keputusan tersebut. Secara tidak langsung, itu bisa semakin menggiring opini publik untuk berasumsi Demokrat memang bosnya kadrun.
Kedekatan dan kemesraan Demokrat pada kelompok intoleran seperti kadrun, diawali ketika Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi orang nomor satu di negari ini (2004-2014). Ketika masa pemerintahannya, SBY membiarkan dan memberi ruang seluas-luasnya terhadap kelompok-kelompok kadrun seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), FPI, dan bermacam kelompok intoleran lainnya. Bahkan, hanya di eranya, acara ormas radikal HTI diperbolehkan disiarkan di tv nasional TVRI, yakni saat Muktamar Khilafah 2013 yang dilaksanakan di Gelora Bung Karno (GBK).
Era SBY, demokrasi dijalankan tanpa batasan, termasuk pembiaran kelompok intoleran. Dengan mengusung prinsip Friends, Thousand Zero Enemies, SBY seperti ingin berdamai dengan siapa saja, termasuk musuh dalam selimut. Akibatnya, kelompok-kelompok ekstrim nan radikal tersebut berkembang dan tumbus subur dengan leluasa. Efeknya, kita bisa rasa dan saksikan sekarang ini, mereka dengan terang-terangan ingin mengganti sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan menantang Pancasila sebagai ideologi negara yang telah final. Mereka dengan segala cara ingin menggulingkan pemerintah yang sah, mempropaganda, menghalalkan kekerasan, memusuhi kelompok lain yang tak sejalan.
Setelah tak lagi memimpin, kita disadarkan, bahwa dalam praktiknya, prinsip SBY di atas hanya untuk melindungi kekuasaannya, agar tidak ada kelompok yang mengusik dan menentang kedaulatannya. SBY tak memperhitungkan akibat yang ditimbulkan dari prinsip itu.
Demokrat yang digadang-gadang sebagai bos kadrun, memang secara jelas belum terbukti kebenarannya. Namun, melihat kegigihan para petinggi Demokrat menentang pembubaran FPI, patut dipertanyakan. Kita semua tau, seperti apa pergerakan FPI, jelas meresahkan masyarakat, aksi sweeping sepihak, menghalalkan kekerasan, visi misi organisasinya bertentangan dengan Pancasila, cita-citanya ingin mendirikan khilafah, dan berbaiat pada kelompok teroris ISIS. Tentu ormas seperti ini sangat berbahaya, karena akan mengancam kedaulatan dan keutuhan NKRI.
Akan tetapi, Demokrat tidak pernah menyinggung semua itu, malahan terus membela dan membenarkan FPI. Pemerintah membubarkan dan melarang kegiatan ormas tertentu seperti FPI dan HTI karena alasanya jelas, bukan karena soal suka atau tidak suka. Pembubaran FPI dan HTI menyangkut keberlangsungan hidup berbangsa dan bernegara yang aman, damai, dan terkendali tanpa adanya premanisme yang mengganggu ketertiban umum. Terlihat membela mati-matian pada FPI inilah yang kemudian membuat Demokrat menjadi sasaran tembak. Kendati demikian, kita masih akan menunggu pihak kepolisian menguak secara terang, siapa pemain di balik kadrun ini sebenarnya. Bukan tugas saya mengungkap seluruh tabir misteri ini, namun pihak berwajib.
Secara normal kita bisa menilai dan menduga-duga, tidak mungkin suatu ormas dengan sengaja membuat gangguan, merusak kedamaian negara, keceuali memang ormas radikal yang terafiliasi teroris atau memang ada pesanan dan kepentingan kelompok elite tertentu. Tidak mungkin FPI begitu keras mengganggu pemerintah dengan sangat vokal, sangat berani, jika tanpa bekingan yang kuat di belakangnya. Pada akhirnya, ketika FPI mulai diredam, Demokratlah yang paling keras menentang sampai detik ini, tentulah semua ini ada kaitanya. Itulah yang membuat nama Demokrat sebagai bos kadrun menjadi viral.
Terahir, penulis ingin sampaikan, prinsip Friends, Thousand Zero Enemies ala SBY tidak berlaku pada kelompok-kelompok intoleransi yang ingin memecah belah bangsa, mengganggu ketertiban umum, dan mengotak-atik ideologi Pancasila. Cinta perdamaian bukan berarti membiarkan musuh membangun kekuatan untuk menghancurkan negeri ini, sebab, yang dirugikan adalah generasi selanjutnya, yakni era Jokowi.
Viralnya Demokrat bos kadrun memang belum dapat menjawab rasa penasaran publik, namun setidaknya memberi sedikit pencerahan dan gambaran mengenai peran Demokrat atas kadrun. Dengan demikian, publiklah yang akan menilai, kira-kira siapa partai atau elite politik yang mendukung serta menjadi bos bagi kelompok intoleran kadrun? Demokratkah?
Mari sama-sama tunggu penyelidikan pihak kepolisian.