Kolom

Jangan Politisasi Bencana

2 Mins read

Bertubi-tubi bangsa ini tertimpa bencana alam. Di awal tahun ini, bencana banjir besar melanda Kalimantan Selatan. Kemudian disusul dengan bencana alam lainnya, seperti gempa bumi, tanah longsor, dan erupsi gunung. Kejadian ini, seharusnya menumbuhkan rasa empati kita terhadap korban bencana. Bukan malah mempolitisasinya dengan mengatakan bahwa bencana ini merupakan sebagian dari azab karena dipimpin oleh pemimpin zalim. Dalam situasi berduka seperti ini, bencana semestinya menyatukan kita, bukan memecah belah dengan cara mempolitisasinya.

Indonesia sering disebut sebagai negara yang rawan mengalami bencana. Pasalnya, Indonesia merupakan kepulauan terbesar di dunia, juga memiliki kurang lebih 17.491 pulau, yang terletak diantara dua benua yaitu Asia dan Australia, serta di antara dua lautan yaitu Hindia dan Pasifik.

Selain itu, Indonesia berada pada pertemuan tiga lempeng dunia, yakni lempeng Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik, yang berpotensi menimbulkan gempa bumi apabila lempeng-lempeng tersebut bertumbukan. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), data menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kegempaan yang tinggi di dunia, lebih dari 10 kali lipat tingkat kegempaan di Amerika Serikat.

Bukan hanya itu, Indonesia juga memiliki 127 gunung aktif, 76 diantaranya berbahaya. Bencana lain yang seringkali melanda Indonesia adalah tsunami, banjir, tanah longsor, dan lain sebagainya. Secara keseluruhan, dampak dari bencana tersebut mengakibatkan kerugian harta benda dan korban jiwa.

Dengan begitu, tindakan para oknum yang mempolitisasi bencana untuk menghujat pemerintah, merupakan tindakan yang tidak memiliki rasa kemanusiaan atau bahkan sebagai bentuk matinya hati nurani. Padahal, seharusnya, mereka berempati terhadap korban, bekerja sama atau bahu membahu bersama pemerintah untuk meringankan beban korban. Bukan malah menambah duka dengan mengatakan bahwa bencana ini sebagai bagian dari azab Tuhan.

Hal ini sudah menjadi pola pikir lama, yang kemudian dicampur dengan politik kebencian. Sejak dahulu, bencana selalu dikaitkan dengan kemarahan Tuhan atas kezaliman pemerintah. Pihak-pihak yang anti-pemerintah, selalu menggunakan isu bencana sebagai jalan untuk menjatuhkan citra pemerintah.

Lebih parahnya lagi, jika yang menilai bahwa bencana ini merupakan azab Tuhan merupakan seorang pemuka agama. Sebab, seharusnya, seorang pemuka agama, dapat memberikan contoh yang baik dalam menyikapi bencana yang tengah dialami oleh saudara kita, seperti mendoakan untuk keselamatan korban.

Sangat disayangkan, ketika akal sehat dan nurani kemanusiaan tumpul dan visi kebangsaan menjadi buram akibat kebenciannya tehadap pemerintah, yang akhirnya membutakan hati nuraninya. Semestinya, bencana ini disambut dengan empati, kemudian introspeksi, evaluasi, dan sampai pada solusi, bukan malah dipolitisasi.

Indonesia sebagai bangsa yang religius, harus dapat memahami musibah sebagai ujian, bukan azab. Ujian untuk kesabaran dan sekaligus gotong royong antar anak bangsa, juga membangun solidaritas di tengah bencana, bukan malah saling menjatuhan dan memaki, bahkan sampai menyebarkan kebencian yang berlebihan.

Gus Dur pernah mengatakan, bahwa dalam beragama yang dikedepankan adalah agama yang ramah, bukan agama marah. Jika ada orang yang mengaku beragama, tetapi suka marah-marah, maka perlu dikoreksi dalam memahami agama. kesantunan dan keramahan menjadi jantung dalam beragama yang harus dikedepankan. Maka dari itu, agama penghakiman harus berubah menjadi agama cinta, simpati dan empati kepada seluruh umat manusia.

Bukan hanya itu, kehadiran pemerintah di tengah korban bencana, kerap kali dipolitisasi. Narasi yang berkembang di publik kerap menyatakan bahwa kehadiran pemerintah dinilai hanya sekadar pencitraan. Padahal, pemerintah hadir di tempat bencana untuk meninjau lokasi yang terdampak. Hal ini penting dilakukan agar pemerintah dapat segera mengatasinya dengan proses pembangunan.

Namun, di media sosial sering saya temukan komentar-komentar dari netizen yang mengatakan kedatangan Presiden Jokowi ke lokasi bencana, hanya sekedar pencitraan. Komentar tersebut merupakan komentar buruk di tengah musibah yang saat ini menimpa korban di beberapa wilayah di Indonesia. Sebab, pernyataan-pernyataan yang bersifat politis hanya akan membuat situasi semakin gaduh.

Dengan demikian, dalam situasi berduka ini, bencana seharusnya dapat menjadi momen bagi kita merekatkan kembali aksi solidaritas dan kemanusiaan. Mendoakan yang terbaik untuk kebaikan korban, bukan malah mempolitisasinya.

Related posts
Dunia IslamKolomNasihat

Proses Pengharman Minuman Keras dalam Al-Quran

Larangan minum Khamr atau minumam keras merupakan aturan makan minum yang paling terkenal dalam Islam. Sebagian besar Muslim, sangat aware dengan makanan…
Kolom

Penggiat Khilafah Adalah Penghancur Bangsa

Pasca-pembubaran HTI pada Tahun 2017 lalu, penggiat khilafah masih getol mengampanyekan sistem politik khilafahnya. Fakta itu bisa kita perhatikan ketika melihat hashtag…
Kolom

Kampanye Basi Pengusung Khilafah

Walaupun sudah dibubarkan pemerintah, kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) nampaknya belumlah berakhir. Pasalnya penyebaran ideologi dan penyebaran paham sistem khilafah kian terang-terang dengan menggunakan media sosial sebagai motor penggerak.