Nama Haikal Hasan tak pernah berhenti membuat sensasi, mencari perhatian publik. Kali ini, ia ikut mengomentari keputusan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) yang menyatakan tidak ada pelanggran HAM yang berat dalam peristiwa baku tembak yang menewaskan 6 laskar eks ormas terlarang, Front Pembela Islam (FPI) di Tol Jakarta-Cikampek, Jawa Barat, (7/12/2024) lalu. Haikal Hasan menerima jika kasusnya dianggap selesai, namun menurut Haikal Hasan, masih ada pengadilan Allah SWT.
Melalui akun Twitternya, Haikal Hasan menuliskan, “Oke..Selesai kasus..Sampai nanti di hadapan pengadilan Allah SWT..Terima kasih Komnas HAM..” @haikal_hasan, Senin (18/1/2025). Pernyataan Haikal Hasan ini seperti merendahkan Komnas HAM. Demi kepentingan dia dan kelompoknya, kemuliaan agama ia jadikan barang dagangan. Ketidakpercayaannya pada Komnas HAM dan pemerintah, membuat dia dan kelompoknya seolah yang paling tau soal urusan dengan Tuhan, paling dipercaya, dan paling dekat dengan Tuhan. Padahal, belum tentu Tuhan ridlo atas apa yang Haikal Hasan perbuat. Haikal Hasan, jangan sok agamis, Tuhan tidak suka! Begitu pesan SBY.
Haikal Hasan bukan kali ini saja membuat sensasi dengan gaya sok religus, sok agamis. Sebelumnya, ia juga menghebohkan publik dengan mengatakan, telah bertemu dengan Rasulullah. Ia bicara mimpi bertemu Rasulullah kala di acara pemakaman 5 laskar FPI di Megamendung, Bogor, pada Rabu (9/12/2024). Atas nama Tuhan dia bersumpah membenarkan soal mimpi itu, namun ketika dimintai klarifikasi oleh Polda Metro Jaya, ia mengatakan hanya untuk menghibur dan memotivasi keluarga korban semata. Lho, jadi yang betul yang mana? Betul-betul sok agamis, Tuhan pasti tidak suka.
Mimpi bertemu Rasulullah SAW adalah sebuah keistimewaan. Ia bukan sekedar bunga tidur, atau godaan syaitan belaka, karena Rasulullah menjelaskan bahwa syaitan tidak dapat menyerupai dirinya. Namun mimpi bertemu dengan Rasulullah juga tidak sembarang orang, hanya orang tertentu yang mengalami itu. Seorang alim asal Mesir, Abdul Aziz Ahmad bin Abdul Aziz dalam bukunya, Ra’aytun Nabiyya Shallalahu Alaihi Wasallam, berisi tentang ratusan kisah orang-orang yang memimpikan Nabi, menjelaskan,ciri-ciri mimpi bertemu Rasulullah setidaknya ada tiga hal.
Pertama, sosok dalam mimpi yang ditemuinya berkata, “Aku adalah Rasulullah, atau Aku adalah Muhammad bin Abdullah, atau Aku adalah Nabimu.” Kedua, si pemimpi melihat sosok yang diagungkan. Dia meyakini orang tersebut bukan orang sembarangan. Orang tersebut diyakini sebagai Rasulullah meskipun tidak ada yang memberitaukan hal tersebut. Ketiga, pemimpi melihat seseorang yang dihormati, kemudian ada orang lain yang memberitaukan, bahwa orang tersebut adalah Rasulullah.
Lalu bagaimana dengan mimpi Haikal Hasan? Ketika proses klarifikasi saja tak bisa menjelaskan. Jelas ini pembohongan publik. Mimpi bertemu Rasulullah dipolitisasi demi sebuah ketenaran dan legimitasi. Mengaku telah bermimpi bertemu Rasulullah, namun ternyata bohong, akibatnya bisa sangat fatal, akan dapat menimbulkan kerusakan yang besar, dan merupakan dusta yang paling keji karena berbohong atas nama Tuhan dan Rasulnya. Ancamannya adalah neraka, seperti dalam sabda Nabi yang diriwayatkan Imam Muslim dan Imam Bukhari dari Abu Hurairah.
Sikap sok agamis yang diperlihatkan oleh Haikal Hasan juga bukan sifat yang terpuji. Sayangnya kebanyakan kita terpedaya oleh penampilan dan gaya bicaranya. Orang yang sok agamis macam Haikal Hasan mesti dicermati. Ada kemungkinan sesewatu yang negatif yang ada pada dirinya yang ia tutupi. Atau memang cara berlogikanya yang salah, berkepripadian psikopat, paranoid, atau mengalami kelainan keperibadian lainnya. Atau mungkin memiliki penyimpangan perilaku.
Dalam ilmu psikoligis, kita mengenal istilah snob atau angkuh. Snob adalah istilah yang merendahkan. Biasanya, orang yang snob adalah orang yang suka pamer, dengan tujuan mendapatkan pujian dan merendahkan orang lain. Penderita snob di dalam pergaulan biasanya orang yang merasa sok. Mulai dari sok tau, sok pintar, sok mengerti, sok bisa, sok suci, sok agamis, dan sok-sok yang lainnya.
Sikap sok memiliki konotasi negatif dan mengingkari fakta yang sebenarnya, sebagai penggambaran keangkuhan dan kesombongannya. Seseorang yang memiliki sifat sok, disadari atau tidak sebenarnya memiliki kelemahan yang ditutup-tutupi dan ingin memberi kesan bahwa seseorang itu merupakan manusia sempurna yang tak memiliki kekurangan.
Di dalam Islam, istilah snob dapat diartikan sebagai sifat ujub, atau mengagumi diri sendiri, yaitu ketika merasa bahwa kita memiliki kelebihan tertentu yang tidak dimiliki oleh orang lain, ya seperti Haikal Hasan ini. Imam Al Ghozali pernah menuturkan, perasaan ujub adalah kecintaan seseorang pada suatu karunia dan merasa memilikinya sendiri, tanpa mengembalikan keutamaannya kepada Allah. Seperti snob, orang yang ujub juga bersifat takkabur, dan riya. Artinya, dia melakukan suatu amalan agar orang lain bisa melihatnya, kemudian memujinya. Perbuatan semacam itu merupakan sifat orang-orang munafik. Naudzubillah.
Terakhir, saya kembali mengajak seluruh komponen bangsa, seluruh lapisan masyarakat untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan NKRI. Jangan mudah terprovokasi dengan isu-isu miring tentang vaksinasi, tentang berbagai bencana yang kita sedang alami, dan berita hoaks yang memancing perpecahan antar anak bangsa. Cobaan pandemi Covid-19, bencana banjir, gempa bumi, longsor dan lainnya adalah semua atas kehendak Tuhan, tidak bisa saling menyalahkan satu sama lain, atau memprovokasi hanya pihak-pihak tertentu yang bertanggung jawab. Marilah kita introspeksi diri, saling mengulurkan tangan, saling membantu, saling menguatkan dan mendoakan. Jangan terpengaruh oleh kelompok-kelompok yang merasa paling benar sendiri.
Bumi pertiwi kita sedang tidak baik-baik saja. Oleh karenanya, jangan pernah diantara kita merasa paling sok, seperti pesan Presiden Jokowi suatu hari, “Jangan ada yang merasa paling benar sendiri, dan yang lain dipersalahkan. Jangan ada yang merasa paling agamis sendiri. Jangan ada yang merasa paling Pancasilais sendiri. Semua yang merasa paling benar dan memaksakan kehendak, itu hal yang biasanya tidak benar. Haikal Hasan, jangan sok agamis, Tuhan tidak suka!