BeritaKolom

Merayakan Vaksinasi, Merayakan Kesehatan

2 Mins read

Pada Rabu 13 Januari Presiden Joko Widodo terima dosis perdana vaksin Covid-19 Sinovac. Hal ini mestinya dapat menjadi penguat kepercayaan publik untuk bersedia divaksinasi. Terselenggaranya vaksinasi merupakan berita baik di awal tahun 2021 yang mesti dirayakan dengan sukacita. Demikian merayakan vaksinasi sama halnya dengan merayakan kesehatan, karena jika berkaca pada sejarah, maka ikhtiar vaksin adalah salah satu cara memutus mata rantai menghentikan pandemi.

Setelah pembukaan vaksinasi usai, perencanaan penyebaran dosis vaksin akan disebar secara serentak di beberapa daerah, seperti Jawa Barat, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sumatera Barat, Sulawesi Selatan dan daerah lainnya yang akan menyusul. Dalam rangka menyambut vaksinasi, pelbagai media sosial pun tengah dimeriahkan dengan Twibbon untuk siap divaksinasi.

Sambutan ini tentu menjadi optimisme masyarakat dalam menatap masa depan. Kendati demikian, mengutip Harian Kompas Kamis, 14 Januari pembagian vaksinasi diberikan dalam beberapa tahap. Tahap prioritas vaksinasi Januari-April diberikan kepada tenaga kesehatan, seperti dokter dan perawat dengan jumlah doksin vaksin 1,6 juta. Prioritas berikutnya petugas publik, misal TNI/Polri, aparatur sipil negara, petugas stasiun, bandara pelabuhan, dan pekerjaan lainnya yang berkenaan dengan masyarakat dengan estimasi doksin vaksin 17,4 juta.

Selanjutnya tahap vaksinasi April 2021-Maret 2022 dibagikan kepada warga lansia, masyarakat rentan atau daerah wilayah penularan tinggi dengan jumlah 63,9 juta. Terakhir masyarakat lainnya, berdasarkan sesuai ketersediaan vaksin dengan jumlah 77,1 juta. Demikian tahapan vaksinasi yang direncanakan memang membutuhkan rentan waktu yang tidak sebentar. Selain untuk menjaga kekondusifan selama vaksinasi, di lain hal produksi doksin vaksin yang tersedia memang terbatas, berikut dengan fasilitas medis yang tersedia di Tanah Air.

Sebagaimana rentan waktu vaksinasi di atas, masyarakat dihimbau untuk tetap menjaga protokol, yakni memakai masker, cuci tangan, dan jaga jarak. Protokol kesehatan harus tetap diperhatikan sampai waktu ditetapkannya oleh pemerintah, hingga situasi kondusif. Upaya lebih mengajak masyarakat vaksinasi, Presiden Joko Widodo juga turut menggandeng influencer vaksin Raffi Ahmad yang dinilai memiliki pengaruh bagi masyarakat luas. Para influencer diminta agar kooperatif mensosialisasikan vaksinasi aman dan bermanfaat dalam memutuskan mata rantai wabah Covid-19.

Namun, tak bisa dipungkiri meski vaksinasi kini merupakan hal yang urgen dalam mengentaskan wabah, tetapi tak sedikit masyarakat yang mengungkapkan penolakannya untuk divaksinasi. Berdasarkan penelusuran, penolakan ini diakibatkan dari misinformasi warga media yang kurang mengkonsumsi informasi dari sumber yang valid. Sementara akun media sosial yang menyebarkan hoaks, konspirasi atau kekhawatiran berlebihan tanpa alasan ilmiah, justru kerap kali dijadikan patokan dalam perkembangan masa pandemi, hingga penolakan vaksinasi mulai bergeming.

Menurut Ridwan Kamil, menolak vaksinasi memang hak, tetapi karena darurat, situasi perang, emergency, artinya menolak vaksinasi sama dengan membahayakan lingkungan sekitar sebagai penyebab sumber penyakit, hingga membahayakan keselamatan masyarakat dan negara (14/1). Beberapa penolakan vaksin tidak hanya di Indonesia, sejumlah negara besar, yakni Amerika Serikat, Australia, Swiss dan lainnya termasuk negara berkembang.

Demikian penolakan terhadap vaksinasi sejatinya mesti diwaspadai, terlebih tanpa ada bukti ilmiah yang valid. Masyarakat diupayakan patuh tentang program vaksinasi dari pemerintah, karena ini mencakup kemaslahatan bersama. Kebijakan pemerintah dalam mengentaskan wabah dilakukan dengan begitu cermat, berikut berdasarkan uji klinis dan panduan WHO, BPOM akhirnya memberikan afirmasi agar vaksin dapat didistribusikan.

Dalam tubuh yang sehat, ada jiwa bangsa yang kuat. Tentu kekuatan ini akan diberdayakan untuk kembali memulihkan kembali situasi kehidupan yang sempat terpuruk. Vaksinasi merupakan ikhtiar yang mapan beberapa abad ini dalam melawan virus.

Dengan ini, saya menyambut perayaan digelarnya vaksinasi sebagaimana saya merayakan kesehatan, baik bagi masyarakat Indonesia maupun masyarakat global. Angin segar kini menerpa dengan damai. Semoga kehadiran vaksin kini menjadi lembaran baru, catatan pilu di tahun lalu diubahnya menjadi catatan optimis yang penuh harap di tahun baru kini.

Related posts
Dunia IslamKolomNasihat

Proses Pengharman Minuman Keras dalam Al-Quran

Larangan minum Khamr atau minumam keras merupakan aturan makan minum yang paling terkenal dalam Islam. Sebagian besar Muslim, sangat aware dengan makanan…
Kolom

Penggiat Khilafah Adalah Penghancur Bangsa

Pasca-pembubaran HTI pada Tahun 2017 lalu, penggiat khilafah masih getol mengampanyekan sistem politik khilafahnya. Fakta itu bisa kita perhatikan ketika melihat hashtag…
Kolom

Kampanye Basi Pengusung Khilafah

Walaupun sudah dibubarkan pemerintah, kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) nampaknya belumlah berakhir. Pasalnya penyebaran ideologi dan penyebaran paham sistem khilafah kian terang-terang dengan menggunakan media sosial sebagai motor penggerak.