Nama Rafi Ahmad ramai di perbincangkan usai menerima vaksin Covid-19. Ia masuk dalam jajaran salah satu penerima vaksin pertama bersama Presiden Jokowi dan sejumlah tokoh negara lainnya pada Rabu (13/1/2025). Namun, pasca menerima vaksin, masyarakat dibuat marah dan kecewa, lantaran Rafi Ahmad terciduk sedang berpesta bersama teman-teman artisnya tanpa mematuhi protokol kesehatan.
Atas kejadian itu, nama Rafi Ahmad pun menjadi trending topik pada laman Twitter. Banyak warganet mengecam perilaku artis ibukota tersebut. Tidak sedikit pula yang membandingkan dengan kasus kerumunan di Petamburan, yang melibatkan Mohammad Rizieq Syihab (MRS). Para netizen juga meminta agar kasus pelanggaran protokol kesehatan yang dilakukan Rafi Ahmad cs ditindaklanjuti secara adil.
Perilaku Rafi Ahmad sebagai figur yang dikenal dan digandrungi banyak orang sangat tidak terpuji dan sangat disayangkan. Seolah dalam pikirannya, setelah dia menerima vaksin dapat bebas kemana pergi tanpa mematuhi protokol kesehatan. Direktur Esekutif Program Darurat Oranisasi Kesehatan Dunia (WHO), Mike Ryan, mengatakan, bahwa vaksin bukanlah akhir dari Covid-19. Ia menilai, perlu adanya sinergi semua pihak, agar virus tersebut bisa benar-benar dihilangkan.
Rafi Ahmad adalah seorang artis papas atas yang hampir setiap lelakunya, sebagian besar masyarakat ikuti khususnya kalangan muda. Seharusnya, sebagai publik figur ia dapat mengedukasi dan member contoh yang baik dalam menegakkan protokol kesehatan. Jika sudah begini, masih pantaskah artis Rafi Ahmad mewakili kalangan milenial?
Meskipun pada akhirnya Rafi Ahmad telah membuat klarifikasi dan meminta maaf, tidak berarti perkara selesai begitu saja. Rakyat tetap menginginkan tindakkan tegas dan transparansi terhadap siapa saja yang melanggar prtokol kesehatan, termasuk Rafi Ahmad. Ditambah dalam postingan foto yang beredar, sejumlah artis papan atas lainnya juga hadir disitu, seperti Gading Marten, Fachri Albar, Anya Geraldine, Uus, Once Mekel, dan juga Komisaris Pertamina, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.
Sebagai seorang influencer, Rafi Ahmad seharusnya dapat menjadi sumber kekuatan bagi masyarakat dalam mempresentasikan sikap politik masyarakat. Dengan kekuatan dalam membangun opini dan mempenaruhi sikap pengikutnya yang besar, menjadi penghubung terjadinya komunikasi antara masyarakat dan pemerintah agar agenda atau kebijakan pemerintah menjadi lebih mudah diterima dan dipahami.
Rafi Ahmad yang dinilai dapat mewakili generasi muda dalam kampanye ikhtiar pemerintah yakni vaksinasi, nyatanya tidak mampu mengemban tugas itu dengan baik. Ia yang seharusnya menjadi inisiator, magnet bagi generasi muda untuk tidak ragu di vaksin, tetapi ia sendiri terjebak pelanggaran perotokol kesehatan.
Sangat wajar masyarakat kemudian melempar kritik pedas pada mereka, utamanya Rafi Ahmad, karena rakyat kecewa dan marah. Saat kondisi pandemi Covid-19 tak juga menunjukkan kondisi membaik, mereka malah berpesta tanpa protokol kesehatan. Berdasarkan laporan harian Satuan Tugas Penanganan Covid-19 pada Jumat, (16/1/2025) jumlahnya mengalami kenaikan yang melampauai rekor sebelumnya, yakni mencapai 11.557, sehingga keseluruhan total 869.600 kasus positif. Angka kematian pun bertambah 295, total menjadi 25.246 orang.
Penanganan pelanggar protokol kesehatan memang masih terlihat belum merata, ditambah kesadaran publik yang mulai berkurang. Kemungkinan masyarakat juga jengah, melihat petugas yang menindak pelanggar protokol kesehatan hanya masih ditekankan pada golongan tertentu, atau masih tebang pilih. Pada akhirnya masyarakat mulai mengabaikan protokol kesehatan dengan sengaja. Secara nasional, seperti dilansir Kompas.id, yang memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak (3M), hanya sekitar 55 persen. Artinya, anjuran dan kampanye pemerintah dalam menerapkan 3M tersebut masih tidak mendapat respon yang cukup baik.
Untuk itu, perlu ada ketegasan yang bisa sekaligus menggugah hati masyarakat agar tidak abai pada protokol kesehatan 3M ini. Mengingat proses vaksinasi juga memerlukan proses panjang untuk bisa menjangkau seluruh masyarakat Indonesia. Penggunaan masker, sebagai hal yang paling murah dan ringan dilakukan, tidak hanya diwajibkan pada aturannya belaka, namun tindakan nyata. Hal ini menjadi penting, mengingat masyarakat kita masih terbilang bandel dan keras kepala pada aturan memakai masker.
Padahal, menurut salah satu penelitian yang dipublikasikan jurna PNAS of USA menyimpulkan, 20 hari setelah penggunaan masker terbukti dapat mengurangi infeksi baru sekitar 45 persen. Bahkan WHO menegaskan, masker harus digunakan sebagai bagian dari strategi tindakan komperhensif untuk menekan penularan dan menyelamatakan nyawa. Persoalan menggunakan masker ini harus terus disosialisaikan, sampai vaksinasi selesai dan Covid-19 benar-benar pergi dari bumi pertiwi.
Oleh karenanya, Intruksi Presiden (Inpres) No 6 Tahun 2020 tentang Peningkatan Disiplin dan Penegakkan Hukum Protokol Kesehatan dalam Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 harus dijalankan dengan benar dan tepat. Dalam Inpres itu pula telah dijelaskan secara detail, tentang siapa saja yang memiliki tugas dan bagaimana tugas-tugas itu dijalankan, maka tindakan selanjutnya adalah menjaga konsistensi dan kordinasi secara matang. Kita saksikan di lapangan, persoalan subtansial dalam menekan angka penyebaran Covid-19 juga belum berjalan efektif. Karenanya, kordinasi dan sinkronisasi semua pihak terkait pelaksanaan peningkatan disiplin dan penegakkan hukum terhadap pelanggaran protokol kesehatan harus terus ditingkatkan.
Jika semua pihak, mulai dari pemerintahan pusat dan daerah, aparat penegak hukum, para publik figur, influencer, dan masyarakat bersama-sama memastikan untuk menjalankan protokol kesehatan secara konsekuen, maka pelanggaran-pelanggaran dapat terhindarkan. Utamanya aparat pemerintah, harus memastikan bekerja secara konsisten dan melakukan penegakkan hukum secara tegas dan adil, agar realisasi hukum tidak berhenti hanya di secarik kertas.
Namun kita mendapati Rafi Ahmad, publik figur dan influencer yang menjadi tumpuan, menjadi idaman, dan contoh generasi muda, telah abai pada tanggung jawabnya. Pada akhirnya, generasi muda yang seharusnya bersemangat menyambut ikhtiar pemerintah berupa vaksinasi, menjadi berbalik membuly. Rafi Ahmad, kau telah buat rakyat kecewa.