Ngopi

Menyuntikkan Vaksin Kebahagiaan

8 Mins read

Saat kau lakukan segala sesuatu dari jiwamu,

Kau rasakan sebuah sungai mengalir dalam dirimu,

suatu kebahagiaan

__Jalaluddin Rumi (1207-1273)

Muqadimah

Detik-detik menjelang tahun 2021 merekah, rasa kemanusiaan bangun meregangkan urat nadi dan urat otot-ototnya, mengucek-ngucek kedua bola matanya. Kembang-kembang tidur yang masih tersisa masih melayang-layang di pikirannya. Ada sesuatu yaitu rantai dan kawat berduri yang masih membelenggu manusia. Ah, semua itu hanya nightmare.

Lalu beranjak ke kamar mandi, kemanusiaan mencuci wajahnya, menyisir rambutnya dan memeriksa kerut-kerut di cermin kaca, menyeduh secangkir kopi, menyiapkan jajanan Nusantara dan membuka dengan khusyu’ sebuah diary. Marilah dengan rileks kita pandang apa yang ada dalam agenda hari ini.

Ada tiga masalah yang ribuan tahun jawaban pertanyaan ini setia tak berubah. Masalah umat manusia dari ujung negara China, India, Eropa, Timur Tengah, Afrika dan Amerika yakni kelaparan, wabah dan perang. Mereka dari generasi ke generasi sudah mencoba menghindari negatifitas zaman. Tetapi mereka terus-menerus meninggal karena ketiga problem kemanusiaan itu. Demikian paparan Yuval Noah Harari dalam buku barunya berjudul Homo Deus: Masa Depan Umat Manusia. Dunia saat ini dikarantina oleh wabah corona.

Barisan pemikir kaliber dunia dan orang-orang suci menyimpulkan bahwa kelaparan, wabah dan perang telah menjadi bagian integral dari rencana kosmis Tuhan. Atau karena fenomena alam, atau kita yang memang belum menggapai kesempurnaan. Dan dari awal dunia terbentuk, umat manusia dimana pun sampai akhir zaman pun tidak akan terbebas darinya, setia terbelenggu rantai dan kawat berduri. Takdir Tuhan sudah terjadi, kita tak mampu merubahnya. Sebagaimana dawuh filsuf Plato dalam pembuka film Black Hawk Down,”Hanya orang yang sudah meninggal, yang melihat perang sudah berakhir.”

Akankah kebanyakan orang memikirkan hal di atas? Menggapai matahari kesadaran untuk memperbaiki nasibnya bumi manusia. Banyak kalangan dari mulai Presiden, CEO, para jenderal militer dan orang-orang shaleh masih punya agenda baru dalam skala kosmis blok sejarah: mencipta perdamaian dunia. Kini, manusia dapat membuka mata dan mulai menatap cakrawala baru dalam agenda menghadang kaum teroris, kaum anarkis dan populis, sebagaimana bahasa kitab suci; kaum yang membuat kerusakan di atas bumi.

Dalam dunia yang sehat, makmur dan harmonis, apa yang menuntut tenaga, kemampuan dan perhatian kita menghadapi problem umat manusia. Apa yang kita lakukan untuk diri sendiri. Apa yang kita lakukan untuk merebut tanah yang dijanjikan di tengah gempuran alienasi (keterasingan) manusia yang menghamba materialisme, memuja kesenangan, memegang teguh konsumerisme dan bersekutu dengan siluman modern yakni operasi manusia abad ini yang dipuja, tak lain citra dan algoritma agama data. Semuanya dalam skema menghancurkan kebahagiaan. Kebahagiaan yang selalu kita cari dimana pun dan kapan pun sekalipun di ujung dunia, dengan harga berapa pun.

Sesungguhnya apa itu kebahagiaan bro?

Apa kita bahagia menjalani hari demi hari?

Keterasingan dan Kejenuhan

Kita saat ini masuk zaman Covid-19 yang mengerikan. Banyak korban nyawa di seluruh dunia, dari Indonesia sampai Amerika. Memunculkan keterasingan dan kesendirian. Suasana bathiniah yang disebabkan banyak faktor. Hilangnya sanak keluarga, tetangga, sahabat dan teman ngopi merupakan ujian yang cukup berat dalam revolusi wabah corona. Menambah serangkaian daftar panjang penderitaan hidup manusia. Sebab kita, tergolong sebagai makhluk sosial. Secara alamiah, manusia tidak akan suka dengan kesendirian, meskipun tinggal di istana megah dengan segala pernak-pernik kemewahannya.

Alkisah, sang filsuf Aristoteles pernah berkata,”Jika engkau hidup menyendiri, bisa jadi engkau adalah Tuhan atau hewan.” Beberapa abad selanjutnya, sang filsuf Jerman bernama Nietzsche berujar, menyempurnakan pernyataan Aristoteles: “… Atau bisa jadi engkau adalah kedua-duanya”. Tetapi, manusia hanya bisa jadi manusia. Ia membutuhkan tangan lembut orang lain, sebagaimana orang lain juga membutuhkan pikiran lembut dirinya.

Kita ingin memperhatikan orang lain, sebagaimana orang lain juga memperhatikan dirinya. Tanpa memperhatikan orang lain, kita tidak bisa mendapatkan perhatian adem ayem mereka. Sebab, satu-satunya jalan untuk mendapatkan teman dan sahabat yang tulus dan dapat menghibur kesendirian, keterasingan kita yang sekian lama menarik kuat gerbong kapitalisme yakni dengan memposisikan kita sendiri sebagai teman dan sahabat yang tulus bagi mereka. Pribadi yang tidak memperhatikan sesama oleh ahli jiwa, disebut sebagai orang yang paling pantas hidup menderita. Inilah yang disebut kegagalan manusia dalam pengertian yang luas, dan semakin jelas di muka bumi.

Adapun, jika memang lingkungan dan kesendirian kita, meskipun ada di tengah-tengah orang banyak, mengharamkan diri untuk bertegur sapa antar manusia. Berarti kita tak ubahnya seperti burung Elang yang meregang nyawa di puncak gunung es. Inilah neraka terbesar yang tiada bandingannya. Inilah tantangannya kita, umat manusia terkini sudah masuk dalam kubangan alienasi, sentimen keterasingan abad ini, manusia tanpa empati. Manusia sudah seperti mesin, tanpa hati.

Kadangkala kita sering tak bisa bedakan antara kesenangan dan kebahagiaan. Banyak di antara kita tak sanggup memisahkannya. Dalam kehidupan sehari-hari menggunakan kata “Bahagia” dan “senang” silih berganti seakan-akan keduanya itu padanan kata.

Untuk menggapai kebahagiaan memang kita memerlukan banyak kesenangan, tetapi orang yang sedang menikmati kesenangan belum tentu bahagia. Begitu banyak orang yang tertawa terbahak-bahak untuk menyembunyikan kemelut hatinya. Begitu juga banyak orang yang merasa senang jika menari di lantai dansa; padahal mereka menyimpan luka yang parah dalam hatinya.

Manusia yang bahagia pasti senang tetapi tidak semua yang senang pasti bahagia. Apa yang membedakan kesenangan dengan kebahagiaan. Kesenangan, kata Norman E Rosenthal dalam The Emotional Revolution,”adalah pengalaman sekilas, yang berkaitan dengan ganjaran tertentu. Kebahagiaan adalah keadaan yang berlangsung lebih lama, yang berhubungan dengan penilaian secara keseluruhan. Manusia yang bahagia mengalami kesenangan dalam kehidupannya sehari-hari. Dalam pada itu, kesenangan tidak membawa kepada kebahagiaan bila tidak sejalan dengan, atau bertentangan dengan, tujuan seseorang.”

Binatang seperti tikus dan monyet dapat merasakan kesenangan, tetapi tidak akan pernah mengalami kebahagiaan. Manusia seperti kita memerlukan berbagai kesenangan untuk meraih kebahagiaan. Karena manusia dianugerahi akal, ia harus memilih kesenangan mana yang dapat membawanya kepada kebahagiaan dan kesenangan mana yang justru akan membuatnya tidak bahagia.

Bahkan ada sebuah pengalaman orang yang mencari kepuasan seks dengan berganti-ganti pasangan. Setiap pasangan baru memuaskan dia secara sekilas, tetapi membuat dia kecewa lagi. Ia mencari yang lebih baik. Standarnya ditingkatkan. Makin lama standarnya makin tinggi sehingga ia kehilangan kesenangan itu sama sekali. Pasa tingkat seperti itu, perasaannya menjadi tumpul. Tidak ada satu pun yang dapat membuatnya senang. Sampailah ia pada penyakit yang mengerikan dari para pengejar kesenangan indrawi yakni kejenuhan (acedia). Pada kebanyakan orang, tenggelam dalam kenikmatan sensual dapat menimbulkan perasaan sebaliknya: kesedihan! Seperti itulah kesenangan indrawi.”Watak keinginan (untuk mendapatkan kesenangan indrawi) tidak terbatas,” kata Aristoteles. Hamlet menegaskan keinginan yang tak terpuaskan itu dengan berkata:

As if increase of appetite had grown

By what it fed on

Seakan tambahan selera bertumbuh

Dengan apa yang dinikmati.

Jika kita hanya mengejar kesenangan duniawi misalnya harta, tahta dan nama, kita tidak akan merasa puas. Kita selalu merasa kurang. Ukuran kepuasan pun makin lama makin naik. Kesenangan makin lama makin sulit kita gapai seperti halnya menggapai matahari.

Vaksin Kebahagiaan

Sebuah kisah dari pujangga Leo Totstoy dalam otobiografinya yang berjudul A Confession layak kita renungkan bersama. Pangeran Tolstoy menderita perasaan kekosongan bathiniah pada saat ia disebut sebut complete good fortune yakni istri yang baik, anak-anak yang baik, kekayaan dan rumah yang sangat luas.

Jika kesenangan indrawi tidak menjamin kita untuk bisa meraih kebahagiaan, dan bahkan bisa melahirkan penderitaan. Lalu kesenangan apakah yang mesti kita cari? Menurut pakar psikologi, kesenangan indrawi ini berasal dari luar kita. Manisnya gula bukan datang dari kita, tetapi dari gula itu sendiri. Kenikmatan kita dipenuhi oleh ganjaran yang datang dari luar. Inilah yang disebut ganjaran ekstrinsik. Kebahagiaan jika mengandalkan kesenangan indrawi akan sangat rentan dan sulit untuk waktu yang lama. Kebahagiaan dan kaca, betapa mudahnya pecah!

Untuk mencari kesenangan yang tidak mudah pecah, suntikan berbagai macam vaksin kesenangan jiwa antara lain kesenangan estetik, kesenangan empatik atau kesenangan rohaniah. Misalnya di era pandemi yang melanda negeri tercinta ini, kita bisa memasukkan kebahagiaan kepada hati sesama manusia.

Seluruh ajaran Islam dapat disimpulkan dalam dua kalimat yaitu menyembah Allah Ta’ala untuk membuat ridha-Nya dan berbuat baik kepada makhluk-Nya untuk membuatnya bahagia. Garis besarnya adalah berbagi, memasukkan kebahagiaan kepada hati orang lain kepada manusia bukanlah kewajiban segelintir orang, tapi semua orang.

Setiap Muslim apapun jenis dan status sosialnya, mempunyai misi untuk memperlakukan orang lain dengan baik. Sebagaimana firman-firman Allah dalam Al-Qur’an, memperhatikan orang lain telah diperintahkan kepada umat-umat terdahulu hingga kini.”Dan ingatlah ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil, Janganlah kamu menyembah selain Allah dan berbaktilah kepada orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim dan orang-orang miskin serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia. Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu kecuali sebagian kecil dari kamu dan kamu selalu berpaling” (QS.Al-Baqarah 2:83).

Pada hari Kiamat nanti, Sang penguasa Raja Manusia Allah Ta’ala akan berkata kepada hamba-hambanya,”Hai, hamba-hamba-Ku, dahulu Aku lapar, engkau tidak memberi aku makan kepada-Ku. Dahulu Aku sakit, engkau tidak menjenguk-Ku. Dahulu Aku telanjang, engkau tidak memberikan pakaian kepada-Ku. Kemudian hamba-hamba-Nya bertanya,” Bagaimana mungkin aku melakukan itu semua sedangkan Engkau Tuhan penguasa alam semesta?” Tuhan menjawab,” Dahulu ada hamba-Ku yang sakit, sekiranya kau jenguk dia, engkau akan temukan Aku di situ. Dahulu ada hamba-hamba-Ku yang lapar, sekiranya kau beri makanan dan minuman pada dia, engkau akan temukan Aku di situ. Dahulu ada hamba-hamba-Ku yang telanjang, sekiranya kau berikan pakaian kepadanya, engkau akan menemukan Aku di situ.”

Semua anak bangsa harus saling membantu, saling menolong, berkasih sayang dan saling memperhatikan adalah misi setiap manusia. Kenang-kenanglah Sabda Muhammad Sang Nabi,” Memperoleh pertolongan adalah hak setiap orang, setiap Muslim berhak memperoleh tujuh hal: penghargaan akan kehormatannya, kecintaan yang tulus dalam hatinya, saling berbagi dalam kekayaannya, tidak boleh dipergunjingkan, ketika sakit harus dikunjungi, setelah meninggal jenazahnya harus diantarkan dan tidak boleh disebut-sebut keburukannya apapun setelah kematiannya.”

Mudah-mudahan kisah dari penyair celurit emas KH. Zamawi Imran, bisa membuat kita menemukan kebahagiaan yang abadi, yang kita cari-cari selama ini. Kiai keren ini menasehati semua orang yang materialis yang sudah kehilangan kebahagiaan hidupnya.

Seorang lelaki datang kepada seorang ustadz, mengadukan persoalan keluarganya.” Saya bosan di rumah sekarang.”

“Mengapa?”

“Tidak ada yang menarik.”

“Lalu engkau jarang di rumah?”

“Iya tentu.”

“Anakmu berapa?”

“Dua. Satu laki-laki berumur lima tahun, satunya perempuan, tiga tahun.”

“Pernahkah engkau memperhatikan anakmu ketika sedang makan?”

“Tidak.”

“Ketika sedang bermain-main?”

“Juga tidak.”

“Ketika tidur saat tengah malam?”

“Tidak”

“Coba lakukan itu. Ketika engkau sedang memperhatikan, rasakanlah bahwa ia adalah anakmu, pelanjut denyut hidupmu, yang harus kau curahi cinta dan kasih sayang. Anak-anakmu itu adalah karunia Allah untuk menyenangkan hatimu. Ketika ia makan, perhatikanlah bagaimana ia mengunyah rezeki yang dikirim Allah lewat tanganmu yang bekerja. Ketika ia tidur, perhatikanlah hidungnya yang mirip engkau, bibirnya yang mungkin mirip ibunya. Dan perhatikan pula bagaimana desah nafasnya ketika menghirup dan menghembuskan udara. Itu semua film indah yang disuguhkan Allah untukmu.

Kalau engkau membiasakan melakukan ini sambil mengingat Allah, engkau akan mendapatkan nikmat ruhani tiada tara. Di antara orang yang sangat malang, ialah orang yang tidak bisa menikmati keindahan yang dipancarkan Allah lewat gerak dan tingkah laku anak-anaknya sendiri.

Akhirul Kalam

Ala kulli hal, waliyullah Syaikh Al-Akbar Ibn Arabi dari Sevilla Spanyol, menjadikan kebaikan sebagai titik point yang keren sebanyak satu jilid dalam Maha karyanya, Al-Futuhat Al-Makkiyyah. Dalam pembahasan tentang penampakan Tuhan di bumi manusia, ia memaparkan bahwa kita bisa menemukan Tuhan melalui pengorbanan, pengkhidmatan dan infiltrasi kebahagiaan, kebaikan kepada sesama hamba-Nya. Kita semua adalah hamba-hamba Allah dan kita semua adalah anggota keluarga Allah.

Jalan mendekati Allah sebanyak bilangan nafas para pencari Allah. Tetapi jalan yang paling dekat kepada Allah adalah menyuntikan membahagiakan orang lain di sekitarmu. Berbuat baiklah kepada mereka. Semua itu dalam kerangka menjawab, merespons tiga masalah abad 21 yakni kelaparan, wabah corona dan peperangan global. Walaupun katanya Vino Bastian alias Jarot dalam adegan film Serigala Terakhir, dia pernah berkata: Perang takkan pernah selesai, dendam harus dibalas dan darah harus dibayar. Naudzubillah mindzalik bro!

Bahkan yang lebih mengerikan adalah menjawab satu kesimpulan yang mendebarkan sepanjang sejarah, dari Charles Reith dalam bukunya The Blind Eye of History (1942) yaitu,”Banyak masyarakat yang bubar, hilang dan lenyap dalam reruntuhan puing-puing sejarah, bukan disebabkan oleh perang atau wabah penyakit. Tetapi ketidakmampuan kita menjaga dan memelihara ketertiban umum.”

Akhirnya, jangan biarkan usia kita datang percuma sia-sia. Andai saja kita tahu dan paham akan hal itu, pasti tidak akan ada seseorang yang bersikap kasar, kejam, bengis dan jancok pada sanak keluarga, menjauhi teman, sahabat, tetangga dan mengajak bertengkar, memutus silaturrahim dalam hidup bermasyarakat, bersosial. Puluhan tahun usia kita sekali lagi janganlah dibiarkan hampa, dan hambar, percuma tanpa arah. Dan kita semua tidak akan menyia-nyiakan waktu, meniti hari tanpa memperoleh sahabat baru, teman hidup yang suatu hari menjadi perisai bagi keterasingan, kesendirian jiwa dan kesedihan di bumi manusia. Akan tetapi, siapa yang tahu dan ngerti ini sebelum waktu berlalu?

Sekali lagi, marilah kita suntikan vaksin kebahagiaan bagi sesama. Inti kehidupan kita dihadirkan dari anugerah Allah Ta’ala adalah berbuat kebaikan kepada sesama manusia di dunia, kepada makhluk-Nya. Suami tercinta Sayyidah Khadijah Al-Kubro pernah bersabda,” Wahai manusia! Siapa pun yang membaguskan akhlaknya, ia akan berhasil melewati Shirath pada hari ketika kaki-kaki tergelincir.”

Berbuat baik adalah samudera kesadaran, berkasih sayang dan menginfiltrasi rasa bahagia di era wabah corona, percayalah akan berbuah di taman syurga. Berbahagialah, karena Allah Ta’ala akan memasukkanmu dalam syurga-Nya. Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya. Ya Allah, karuniakanlah hamba, kecintaan terhadap kebaikan. Rasa benci kepada kefasikan dan kemaksiatan. Jauhkan hamba dari murka-Mu dan siksa api neraka. Dengan pertolongan-Mu, Wahai Penolong para pencari pertolongan.

Kehidupan berlalu bersama waktu

Peristiwa terjadi setiap hari

Puaskan dirimu dengan hidupmu

Kamu pasti bahagia,

Tinggalkan hawa nafsumu

Kamu pasti hidup merdeka

Betapa banyak kematian

Diantarkan emas, perak dan permata

Demikian dawuh keren dan aduhai dari Al-Ghazali Imam terbesar kita untuk meniti hari demi hari melawan pandemi.

Salam ngopi senja, tetap bahagia.[]

Related posts
BeritaKolomNasihatNgopi

Tepat Sekali, Presiden Jokowi Pilih Zuhairi Misrawi Jadi Dubes RI Untuk Arab Saudi

Zuhairi Misrawi atau yang akrab dipanggil Gus Mis, dikabarkan dalam waktu dekat, akan menjadi Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi. Hal ini diketahui, karena sejumlah daftar nama calon Dubes tersebar di media-media. Selain itu, beredar kabar, bahwa Pimpinan DPR RI sudah mengkonfirmasi telah menerima Surat Presiden (Surpres) yang berisi nama-nama calon Dubes RI. Menurut saya, Presiden Jokowi sangat tepat memilih Gus Mis sebagai Duta Besar Arab Saudi.
BeritaKolomNgopi

Kunjungan ke NTT, Bukti Presiden Jokowi Dicintai Rakyat

Saat Presiden Joko Widodo berkunjung ke Nusa Tenggara Timur (NTT), warga benar-benar antusias menyambut kedatangan rombongan mobil kepresidenan. Terlihat dalam sejumlah video di media sosial, masyarakat banyak yang bersukacita. Sambutan yang luar biasa menandakan kerinduan warga NTT terhadap Presiden Jokowi. Tak hanya itu, kehadiran Presiden Jokowi ke tempat lain juga senantiasa disambut dengan animo baik warga. Maka dari itu, kunjungannya ke NTT, membuktikan bahwa Presiden Jokowi sangat dicintai rakyat.
Ngopi

Tentang Kita, Indonesia Tercinta

Satu buat semua, semua buat Satu—Bung Karno, Proklamator Humanity’s next target are likely to be immortality,happiness and divinity—Yuval Noah Harari, Homo Deus…