Tan Malaka Pelopor Nasionalisme Kita

0
0
WhatsApp
Twitter

Wakil Sekretaris Jendral PA 212, Novel Bamukmin, menolak usulan peran Tan Malaka diulas lebih banyak dalam buku pelajaran sejarah di sekolah. Novel menolak karena Tan Malaka merupakan tokoh komunis. Ia mengatakan, “Kita menolak, karena masih diduga kuat komunis,” ujar Novel, Senin (04/01/2025). Namun, terlepas dari Tan Malaka itu komunis atau tidak, ia merupakan pelopor nasionalisme kita yang patut kita hargai jasa-jasa dan perjuangannya. Bagaimanakah kisah perjalanan hidupnya?

Tan Malaka lahir di Nagari Pandan Gadang, Kecamatan Suliki, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat pada tahun 1896. Ayahnya bernama HM. Rasad, seorang pegawai pertanian Hindia Belanda, sedang ibunya bernama Rangkayo Sinah, seorang yang disegani di Pandan Gadang. Ia memiliki nama asli Sutan Ibrahim Gelar Datuk Tan Malaka. Nama Tan Malaka sendiri merupakan nama semi bangsawan yang diperoleh dari garis keturunan ibu. Adapun tanggal lahirnya, masih menjadi perdebatan hingga hari ini.

Terlepas dari banyaknya versi tanggal lahir Tan Malaka, ia lahir dan tumbuh besar di tengah keluarga yang taat beragama. Sebagaimana disebut Adji Nugroho dan Novi Fuji (2020), Tan Malaka dan keluarganya beragama Islam dan beradat asli Minangkabau. Ia tumbuh berkembang dalam kultur yang peduli terhadap pendidikan dan memiliki tradisi keagamaan yang kuat dan taat pada ajaran Islam. Bahkan, ketika menginjak remaja Tan Malaka sudah memiliki kemampuan berbahasa Arab, sehingga ia dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai guru muda di surau kampungnya.

Tan Malaka merupakan siswa yang berprestasi di sekolahnya. Pada tahun 1908-1913, ia menyelesaikan sekolah pada Kweekschool di Bukittinggi, satu-satunya sekolah keguruan yang berada di Sumatera Barat pada saat itu. Berkat kecerdasan, tekadnya yang keras, dan kesopanannya, ia mendapat perhatian yang serius dari seorang guru Belanda bernama Horensma. Atas anjuran gurunya tersebut, Tan Malaka melanjutkan sekolahnya ke negeri Belanda.

Pada bulan Oktober 1913, Tan Malaka meninggalkan bumi Minangkabau menuju negeri Belanda. Di sinilah ia memulai mengalami pergolakan pemikiran atas banyak kejadian yang ia lewati. Yang mana, pergolakan yang ia alami tersebut, kelak akan menghantarkannya menjadi manusia dengan gagasan dan karya yang sangat fenomenal dan monumental. Pada tahun 1919, ia dinyatakan telah berhasil menyelesaikan sekolah keguruannya, dengan mendapat gelar diploma Hulpatie. Ia memutuskan kembali ke kampung halamannya di Suliki.

Kepulangan Tan Malaka ini dilatarbelakangi oleh semangat untuk mengubah nasib bangsanya. Sebagaimana diketahui, saat di Belanda Tan Malaka aktif dalam dunia pergerakan. Pengetahuan Tan Malaka perihal revolusi berkembang pesat di sana. Di sana pula ia mulai menyadari bahwa bangsanya dijajah oleh penjajah. Dari situlah ia memutuskan pulang dengan semangat mengubah nasib bangsanya untuk lepas dari tangan penjajah dan penjajahan.

Sekembalinya pulang dari Belanda, Tan Malaka menjadi salah satu tokoh pergerakan dan revolusi di Indonesia. Sebagai tokoh pergerakan nasional dan revolusi, Tan Malaka sudah terbiasa dengan pengasingan, pembuangan, hidup berpindah-pindah, selalu berada dalam bayang-bayang penangkapan kaum penjajah dan sebagainya. Banyak negara selain Belanda yang pernah ia singgahi, seperti Rusia, Filipina, Cina, dan Singapura (Adji & Novi, 2020: 324). Hal itu ia lakukan sebagai upayanya dalam menyusun strategi dan kekuatan untuk melawan kaum penjajah yang sangat menyengsarakan rakyat waktu itu.

Dari kisah perjalanan hidupnya, kita bisa melihat sosok Tan Malaka yang sangat mencintai negeri dan bangsanya saat itu. Ia rela diasingkan, dibuang, hidup berpindah-pindah dari satu negara ke negara yang lain, bahkan ditangkap sekalipun demi mengubah nasib bangsanya yang terkungkung oleh penjajah. Ini membuktikan bahwa Tan Malaka adalah seorang nasionalis sejati. Tan Malaka seorang pelopor nasionalisme bangsa Indonesia di awal-awal pergerakan nasional.

Nasionalisme Tan Malaka juga bisa kita lihat dari karya-karyanya berupa buku, brosur, serta artikel yang pernah dibuatnya. Sebut saja Menuju Republik Indonesia, Aksi Massa, Parlemen atau Soviet?, Semangat Muda, Madilog, Manifesto Jakarta, Rencana Ekonomi Berjuang, Gerpolek, Menuju Merdeka 100%, dan lain-lain. Hampir semua karya-karya Tan Malaka adalah bentuk perjuangannya menuju revolusi kemerdekaan Indonesia. Bahkan, karyanya yang berjudul Menuju Republik Indonesia dan Aksi Massa, menurut Ferry Taufiq (2018) telah menginspirasi tokoh-tokoh pergerakan di Indonesia, salah satunya Sayuti Melik. Ia mengenang bahwa Bung Karno pernah membawa buku Aksi Massa sewaktu memimpin Klub Debat Bandung.

Itu semua menunjukkan bahwa Tan Malaka mendedikasikan hidupnya untuk berjuang demi kemerdekaan Republik Indonesia yang sangat ia cintai. Kontribusi dan sumbangsih yang diberikan oleh Tan Malaka sangat besar bagi bangsa ini. Sebagai seorang tokoh pergerakan nasional, ia merupakan pejuang yang militan, revolusioner, dan juga banyak melahirkan pemikiran-pemikiran besar yang mempengaruhi semangat juang bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan.

Dalam hal ini, Adam Malik dalam Detik-Detik Proklamasi menyebut pemuda-pemuda seperti Sukarni, Nitimihadjo, Elkana Tobing, Adam Malik, Chairul Saleh, dan beberapa pemuda lainnya beserta para pelajar aktivis yang mempersiapkan proklamasi dari kawasan Menteng sampai Rengasdengklok, hampir semuanya adalah para pengikut setia Tan Malaka. Karenanya, tak ada keraguan bagi kita untuk menyebut Tan Malaka sebagai pelopor dan bapak nasionalisme bangsa Indonesia, jika melihat pengaruh Tan Malaka begitu kuat terhadap proses perjuangan kemerdekaan negeri ini.

Dalam proses perjuangan kemerdekaan dan sejarah pendirian Republik Indonesia, sosok Tan Malaka adalah salah satu sosok yang paling penting. Dalam seri buku Tempo misalnya, Tan Malaka dimasukkan sebagai empat serangkai pendiri republik bersama dengan Bung Karno, Bung Hatta, dan Sutan Sjahrir. Yang membuat Tan Malaka berbeda dari tokoh-tokoh lainnya adalah karena ia nekat, tegas, dan tak kenal kompromi dengan para kolonialis dan imperialis.

Sikap non-kompromis tersebut bisa kita baca melalui bukunya yang berjudul Munuju Merdeka 100%. Ia mengatakan, “Mana mungkin tuan rumah yang rumahnya dicuri akan berunding dengan pencurinya.” Menurutnya, kemerdekaan haruslah 100 persen, tak boleh ditawar-tawar. Sebuah negara yang merdeka harus mandiri menguasai kekayaan alamnya dan mengelola negerinya tanpa intervensi dari asing. Ini membuktikan bahwa Tan Malaka adalah seorang pejuang kemerdekaan yang berjuang dengan ikhlas dan totalitas.

Karenanya, tak heran bila Bung Karno pernah berwasiat kepada Tan Malaka untuk melanjutkan memimpin revolusi kala Bung Karno tak berdaya lagi. Dalam wasiat tersebut tertulis pesan penting yang ditandatangani Bung Karno dan Bung Hatta. “Sjahdan, datanglah saatnya buat menentukan ke tangan siapa akan ditaruhkan obor kemerdekaan. Seandainya kami tiada berdaya lagi akan meneruskan perjuangan kita di tengah-tengah rakjat sendiri. Maka kami putuskanlah, bahwa pemimpin perjuangan kemerdekaan kita diteruskan oleh saudara-saudara Tan Malaka, Iwa Kusuma Sumantri, Sutan Sjahrir, Wongsonegoro. Hidup Republik Indonesia!”

Demikian surat wasiat Bung Karno kepada Tan Malaka. Sekali lagi, hal ini membuktikan bahwa Tan Malaka adalah tokoh pejuang kemerdekaan sejati yang sangat dihormati oleh Bung Karno. Sebab, bagaimanapun juga pemikiran-pemikiran Tan Malaka telah banyak mempengaruhi Bung Karno dalam usahanya melawan para kolonialis dan imperialis. Hampir semua buku-bukunya telah habis dibaca dengan tuntas. Buku yang sangat mempengaruhi jalan pikiran Bung Karno adalah Menuju Republik Indonesia dan Aksi Massa.

Bahkan, menurut Harry A Poeze dalam Tan Malaka Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia (2008), Tan Malaka adalah orang pertama yang menggagas soal Republik Indonesia yang ia tuangkan dalam buku Menuju Republik Indonesia yang ditulis tahun 1925. Buku tersebut menjadi pegangan dan bacaan wajib bagi beberapa tokoh pergerakan nasional, termasuk Bung Karno.

Namun demikian, kini nasib tokoh perjuang revolusi kemerdekaan dan Bapak Republik Indonesia seolah dilupakan oleh sejarah. Jasa-jasa dan perjuangannya kurang dihargai oleh bangsanya sendiri. Meskipun Tan Malaka pernah ditetapkan menjadi Pahlawan Nasional pada tanggal 28 Maret 1963, tetapi pada masa Orde Baru, peran Tan Malaka dihapuskan dari buku-buku sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia. Bahkan, karya-karya Tan Malaka diberedel dan dilarang diedarkan pada masa Orde Baru.

Imbasnya, masyarakat kini kerap menilai buruk sosok Tan Malaka secara sepihak tanpa melihat latar belakang perjuangannya untuk kemerdekaan Indonesia, tak terkecuali Novel Bamukmin beserta PA 212. Bagi penulis ini adalah sebuah kemunduran akhlak dan moral sebagai bangsa yang besar. Sebagaimana diungkapkan Bung Karno, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa dan perjuangan para pahlawannya.” Namun, melihat sikap Novel yang masih memberikan stigma negatif pada Tan Malaka, maka bangsa kita belumlah bisa dikatakan sebagai bangsa yang besar.

Maka dari itu, wacana pemerintah yang akan memasukkan peran Tan Malaka dalam buku-buku sejarah di sekolah patutlah kita dukung. Seorang pejuang kemerdekaan, bapak republik, dan pelopor nasionalisme bangsa sudah seharusnya mendapat tempat yang pantas dalam sejarah perjalanan bangsa kita.

Pendek kata, perjuangan Tan Malaka dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia sudah tak perlu dipertanyakan lagi. Segala pengorbanan yang telah ia berikan kepada bangsa ini membuktikan kecintaannya yang sangat mendalam terhadap bangsa dan negara, sekaligus menegaskan bahwa Tan Malaka merupakan pelopor nasionalisme kita.