Kolom

Merayakan Natal dengan Suka Cita

3 Mins read

Tepat hari ini, 25 Desember 2020, umat Kristiani merayakan kelahiran Yesus Kristus pada momen natal. Natal adalah musim yang mulia bagi umat Kristiani khususnya, umumnya kita semua. Natal juga merupakan hari rayanya agama Kristen, dimana di dalamnya juga terdapat tradisi pohon natal, kartu natal, dan bertukar hadiah dengan teman atau keluarga. Selain itu, ada pula kisah tentang Santa Klaus atau Sinterklas. Sosok pria tua berambut dan berjanggut putih yang biasa membawa sekarung hadiah, berkeliling mengendarai kereta salju yang ditarik oleh sembilan rusa.

Natal kali ini memang sedikit berbeda, karena harus dirayakan di tengah wabah covid-19. Wabah yang pertama kali menjangkiti masyarakat Indonesia pada antara bulan Februari dan Maret itu telah menelan banyak korban jiwa. Melansir Kompas.com, setidaknya hingga hari ini tercatat 692.838 kasus, atau bertambah sekitar 7.199 kasus, dengan angka kematian mencapai 20.408 jiwa.

Tentu kita berharap wabah covid-19 ini segera berlalu, karena dampak dari wabah ini telah nyata membuat bangsa dan negara ketar ketir menghadapinya. Perekonomian babak belur dibuatnya. Kementerian Keuangan mengatakan, perekonomian nasional sempat berada dikisaran minus 1,7% sampai 0,6%. Juga yang paling terdampak wabah ini adalah masyarakat kecil, dimana hidup dalam kondisi normal saja sudah susah, ditambah covid-19 ini, pastilah bertambah susah pula kehidupannya.

Belum lagi gangguan virus intoleransi, sentimen agama yang masih tajam digaungkan oleh kelompok-kelompok garis keras, yang hampir tak pernah bosan berulah. Seperti pada momen natal ini, meski setiap tahunnya perayaan natal dilangsungkan, masih saja selalu dan selalu dipermasalahkan. Entah mengeluarkan larangan mengucapkan selamat natal, mencap murtad pada Muslim yang mengucapkan selamat natal, hingga memfatwakan label haram pada momen natal ini.

Seolah dalam agama, Tuhan hanya menyuruh halal-haram saja, padahal tidak demikian adanya. Islam mengajarkan konsep toleransi, atau tasmuh, yang menjadi tonggak kedamaian dalam beragama. Meminjam ucapan menteri agama yang baru saja dilantik, bahwasanya agama harus memberi inspirasi bukan sekedar aspirasi. Terlebih bangsa kita adalah bangsa yang majmuk, maka hendaklah memaknai perbedaan itu sebagai anugerah Tuhan yang mesti disyukuri. Apalagi negara ini menganut ideologi Pancasila, dengan semboyannya “berbeda-beda tetapi tetap satu juga”, seharusnya persoalan perbedaan agama, suku, ras, dan lainnya sudah selesai, jika benar Pancasila yang menjadi pedoman berbangsa dan bernegara.

Pada hari ini, harapan saya semua pihak menyambut dan merayakan natal dengan suka cita. Jadikan natal sebagai momentum kebangkitan bangsa dari keadaan terpuruk. Bangkit dalam ekonomi dan SDMnya, karena perjuagan belum selesai, masih panjang. Bangsa ini harus terus bersatu, bergotong royong, saling bahu membahu membangun Indonesia maju.

Natal adalah momen sakral bagi umat Kristiani. Dalam Alkitab disebutkan, bahwa natal ditunjukan pada seluruh bangsa di dunia. Semua orang bisa merayakan natal. Siapa yang percaya akan Tuhan, dia dapat merayakan natal. Natal juga memberikan suka cita bagi umat Kristiani, diyakini pada perayaan natal, malaikat turun membawa kabar gembira kepada orang-orang, bahwa sang Juruselamat telah lahir. Manusia yang penuh dosa akan diselamatkan. Oleh karenanya, diharuskan bersuka cita, memuji, dan memuliakan nama Tuhan Yesus yang telah datang menyelamatkan manusia, dalam kepercayaan umat Kristen.

Pelajaran penting yang dapat kita petik dari perayaan natal dan juga menjadi alasan mengapa kita mesti bersuka cita merayakan natal yaitu, natal mengingatkan kita untuk bersolidaritas. Yesus yang dalam keyakinan umat Kristiani sebagai anak Allah, telah rela datang ke dunia untuk menyelamatkan manusia. Yesus mau berhimpun dengan orang lain tanpa memandang status, suku, ekonomi, dan lainnya. Bahkan Yesus mau berhimpun dengan orang-orang berdosa dan mau singgah di kediamannya. Maka dalam hal ini kita perlu mencotoh sikap solidatitas yang ditunjukan oleh kepercayaan umat Kristiani ini. Tanpa sikap solidaritas, maka tidak ada arti bagsa ini. Akan sulit menjadi bangsa yang kuat, yang mampu bersaing dengan bangsa lainnya.

Perayaan natal di tengah pademi memang sebaikya dirayakan dengan sederhana. Sesuai dengan kisah junjungan umat Kristiani yang menurut kisahnya, beliau dilahirkan di kandang domba, yang mana itu menunjukan kesederhanaan. Sebagaimana dalam ajaran Islam pun, Rasulullah mengajarkan kita untuk sederhana dalam hidup. Seperti dalam sabdanya, Sekiranya aku punya emas sebesar gunung Uhud ini, niscaya aku tidak akan senang jika sampai berlalu tiga hari, meski padaku hanya ada sedikit emas, keceuali akan aku pakai untuk membayar hutang yang menjadi tanggunganku (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Sungguh banyak pelajaran penting yang bisa kita ambil dalam perayaan natal ini. Dengan demikian, kiranya tidak ada alasan bagi kita untuk memandang momen natal sebagai sesewatu yang menakutkan, membuat seseorang menjadi murtad, dan kafir. Natal mengajarkan tentang pengorbanan, tentang hidup sederhana dan membangun solidaritas, oleh karenanya, kita mesti merayakan natal dengan suka cita.

Selamat merayakan natal sudara-saudaraku, semoga selalu dalam kebahagiaan dan kedamaian bersama Tuhan.

Related posts
Kolom

Meredam Fanatisme Buta Beragama

Kehadiran Islam sebagai upaya mengentaskan segala kejumudan pikiran dan perbuatan yang tidak manusiawi merupakan ajaran agama yang diyakini kebenarannya. Kendati demikian, fanatisme…
Kolom

UU ITE dan Dilema Demokratisasi Digital

Perbincangan tentang wacana revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang dicanangkan Presiden Jokowi masih ramai dibincangkan. Ide ini digagas oleh…
BeritaKolomNasihat

Diskursus Politik Kebencian

Dalam dasawarsa terakhir, masyarakat kita disibukkan kemelut politik bernuansa kebencian. Demokrasi sekarang ini mengalami ketegangan politik yang tiada henti menghunuskan pedang kebencian…