BeritaNasihat

Tiga Pesan Penting Gus Yaqut untuk NKRI

5 Mins read

Presiden Joko Widodo mengumumkan perombakan atau reshuffle Kabinet Indonesia Maju Pada Selasa (22/12/2024). Ada 6 anggota baru Kabinet Indonesia Maju yang ditunjuk sebagai menteri. Salah satu yang menjadi sorotan adalah Ketua Gerakan Pemuda Ansor H. Yaqut Cholil Qoumas atau lebih akrab dipanggil Gus Yaqut. Gus Yaqut ditunjuk Jokowi sebagai Menteri Agama menggantikan Fachrul Razi. Sementara untuk pelantikan, akan diadakan pada Rabu, (23/12/2024).

Dalam siarannya, Presiden mengumumkan, “Yang keempat adalah Bapak Yaqut Cholil Qoumas, Beliau adalah tokoh Muslim, ketua PP GP Ansor dan… akan kita berikan tanggung jawab sebagai Menteri Agama,” ujarnya dalam keterangan pers yang disiarkan secara langsung melalui channel Youtube Sekretariat Presiden, pada Selasa 22 Desember 2020.

Dalam keterangan pers itu pula, 6 calon menteri Kabinet Indonesia Maju di Istana Merdeka, Jakarta, menyampaikan pesan-pesan singkatnya terkait apa yang akan dilakukan kedepan melalui masing-masing kementeriannya. Demikian pula Gus Yaqut memberikan pesan yang menggelegar, membahana, penuh optimisme, dan bersifat asketik sehingga mengejutkan banyak kalangan, menuai komentar positif. Namanya kemudian mulai diperbincangkan di media sosial, salah satunya menjadi trending topic pertama di Twitter Indonesia.

Pesan singkat, jelas, padat, dan penuh semangat yang disampaikan Gus Yaqut, banyak mengandung pesan inspiratif syarat makna. Baru dibuka dengan ucapan salam dan rasa syukur (alhamdulillah) saja, ia melanjutkan dengan mengatakan inna lillahi wa inna ilaihi rajiun; suatu makna yang dalam mengingat jabatan bisa jadi sebuah ujian dalam kehidupannya. Gus Yaqut merasa kaget ketika ditunjuk sebagai Menteri Agama, “Karena dalam mimpi yang paling liar saya tidak pernah membayangkan menjadi Menteri Agama,” katanya dalam siaran pers tersebut.

Ia melanjutkan, “Tetapi apapun tugas amanah yang sudah diberikan ini, saya sudah bertekad untuk mewakafkan seluruh hidup dan apa yang saya miliki untuk bangsa dan negara,” katanya. Ini yang kemudian menjadi suatu keyakinan tersendiri bagi kita semua dalam memandang Indonesia ke depan, melalui Kementerian Agama yang dikomandoi langsung oleh Gus Yaqut.

Ada beberapa pesan penting dari Gus Yaqut dalam programnya di Kementerian Agama terkait kehidupan berbangsa dan bernegara. Point utama yang akan dilakukan oleh Gus Yaqut adalah menjadikan agama sebagai inspirasi, bukan aspirasi. Maksudnya adalah agama tidak lagi digunakan menjadi alat politik untuk menentang pemerintah atau bertujuan merebut kekuasaan. Sepanjang sejarah, agama memang kerap difungsikan sebagai alat politik yang dimanfaatkan demi mencapai tujuan kekuasaan.

Pada tahun 1950-an, pemerintah Indonesia yang saat itu Soekarno tengah berkuasa, menghadapi pemberontakan senjata dari gerakan Daarul Islam (DI). Beruntung keputusan politik Nahdlatul Ulama untuk menetapkan rezim pemerintahan Soekarno sebagai waliy al-Amr al-Dlaury bi al-Syaukhah (pemerintah yang sah karena darurat kekuasaan), memberikan arti yang besar bagi pemerintahan Soekarno.

Banyak yang menuduh NU telah menyalahgunakan fungsi agama. Namun itu sangatlah keliru. Sebab dalam pandangan NU, secara fiqih tidak boleh satu saat pun umat Islam mengalami kekosongan pemimpin yang berfungsi dalam pemerintahan. Apalagi sedang dalam kondisi pasca-kemerdekaan yang belum stabil. Inilah yang dimaksud nilai substantif agama berperan bagi bangsa dan negara agar stabilitas nasional tetap terjaga dengan baik, tidak melulu yang bersifat simbolistik. Demikian pengalaman sejarah memberi pembelajaran untuk kita semua saat ini agar agama tidak boleh digunakan sebagai alat untuk sebuah kepentingan yang bersifat duniawi. Biarlah agama menjadi sumber-sumber kebaikan secara substantif dalam mengelola pemerintahan.

Tidak kalah penting, Gus Yaqut juga memberikan pesan baik tentang bagaimana memperkuat ukhuwah Islamiyyah (persaudaraan sesama umat Islam). Pesan pertama ini mengingat mayoritas penduduk Indonesia adalah umat Islam, maka persatuan dan persaudaraan menjadi penting dalam menitik beratkan Islam yang bersifat inklusif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita umat Islam memiliki latar belakang perbedaan yang bermacam-macam, baik dari pemikiran, ideologi mazhab, organisasi, dan pandangan politik.

Perbedaan itu tidak menjadi perpecahan sesama umat Islam. Bahkan dari berbagai perbedaan itu, kita dapat membangun persaudaraan yang lebih kuat—ukhuwwah Islamiyyah—sama-sama bersyahadat; satu keimanan, dan satu keyakinan. Al-Quran mengajarkan kita agar jangan terlalu cepat menghukum orang kalau kebetulan berbeda. Kita harus memberi hikmah keraguan kepada orang yang kebetulan berbeda dengan kita. Yaitu dengan suatu pertanyaan dalam hati, “Oh, dia berbeda dengan saya, tapi jangan-jangan dia yang benar.” (Nurcholis Madjid, 2016: 134). Dengan demikian perbedaan pandangan dalam Islam semakin memperkaya khazanah keislaman kita dalam membangun kemajuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kita harus sadar betul bahwa umat Islam saat ini sedang dalam krisis multidimensi—kemiskinan, bencana alam, wabah penyakit, kebodohan, ketertinggalan dalam ilmu pengetahuan pada bidang sains dan teknologi, penegakkan keadilan—yang kesemuanya hanya bisa diselesaikan melalui persaudaraan sesama umat Islam. Tidak akan selesai jika terus menggunakan cara-cara kekerasan dalam bentuk intimidasi, persekusi, dan saling caci-maki. Hal tersebut justru merusak citra Islam itu sendiri yang mendistorsi ajaran-ajaran Nabi sebagai ummatan wasathan (umat yang di tengah-tengah). Kita umat Islam tidak semestinya bersikap apriori, karena sikap tersebut tidak menumbuhkan keadilan. Sebab keadilan juga berarti ketengahan.

Selanjutnya pesan yang kedua, yakni ukhuwwah wathaniyyah (persaudaraan sesama anak bangsa dalam satu negara). Mengapa ini penting? Sebab jika tidak dibangun rasa persaudaraan sesama anak bangsa, maka tidak ada NKRI. Negara kita tidak akan berdaulat, sebab hampir seluruh elemen bangsa ini terlibat dalam upaya kemerdekaan bangsa Indonesia. Tidak hanya Islam, atau Kristen yang paling berjasa dalam memerdekakan Indonesia. Semua agama berjasa; semua memiliki andil besar. Untuk itulah menjadi hal yang penting untuk terus membangun persaudaraan di antara kita semua. Interkomunikasi sosial kehidupan dalam membangun keharmonisan dan kedamaian, hanya bisa dicapai melalui sikap toleransi antar pemeluk agama.

Kita harus mendidik diri kita sendiri agar lebih menghargai perbedaan, apalagi perbedaan dalam satu bangsa yang sudah menjadi slogan kebanggaan kita, Bhineka Tunggal Ika. Kita memiliki satu tujuan yang sama, bukan justru karena hal-hal yang askriptif—status kesukuan, identitas agama dan lain sebagainya—melainkan sikap saling bekerjasama dengan penuh kepedulian kepada sesama. Dari situ kemudian muncul sikap gotong royong, tenggang rasa, saling membantu bahu membahu membangun peradaban bersama dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Terakhir yang ketiga, pesan penting ukhuwah insaniyyah atau ukhuwwah basyariyyah yang berarti persaudaraan sesama umat manusia. Dalam hal ini, founding fathers negara kita memiliki kebijakan yang bersifat universalisme dengan memasang klausul dalam Pancasila di sila pertama—Ketuhanan Yang Maha Esa—semua memiliki hak yang sama, setara, dan sejajar di mata negara. Tidak ada yang paling unggul. Karena esensi dari agama adalah membangun kedamaian di antara umat manusia.

Dalam kedamaian sesama manusia, kita dapat membangun keadilan dengan sikap keterbukaan. Jika terjadi perselisihan, maka musyawarah lebih dikedepankan. Sikap demikian dalam jargon kontemporer disebut masyarakat demokratis. Yakni masyarakat madani atau civil society. Artinya masyarakat yang beradab karena menjunjung tinggi kemanusiaan. Sebagaimana dulu Nabi Muhammad SAW. dalam membangun proyek komunitas negara Madinah. Keadilan dapat terbangun dari sikap persaudaraan kemanusiaan. Sayyidina Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Mereka yang bukan saudaramu dalam iman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan,” demikian selalu Gus Yaqut kutip dalam setiap momen pentingnya.

Karena jelas, dosa makhluk Allah yang pertama ialah rasialisme. Tepat saat Iblis menolak perintah Tuhan untuk bersujud kepada Adam dengan alasan manusia tidak lebih baik dari dirinya. Lalu mengapa kita tidak membangun persaudaraan sesama umat manusia? Akankah kita seperti Iblis yang menolak realitas manusia sebagai ciptaan Tuhan? Untuk menilai tinggi rendahnya derajat manusia, hanya takwanya kepada Tuhan. Kita juga tidak dapat mengklaim kita lebih bertakwa, dia tidak. Hanya Tuhan yang mengetahui ketakwaan seseorang. Keturunan, warna kulit, dan lain sebagainya, tidak sama sekali menjadi ukuran tinggi rendahnya manusia.

Eksistensi manusia dapat dicapai melalui amalnya. Meminjam Istilah Frithjof Schuon yang mengatakan, “Saya berpikir, maka saya ada,” maka eksistensi manusia dapat kita rubah dengan kita beramal dan berbuat sesuatu yang positif bagi bangsa dan negara, maka kita ada. Agama tidak hanya menekankan aspek vertikal berhubungan dengan Tuhan, melainkan juga aspek horizontal dengan sesama umat manusia.

Semakin terang bahwa ukhuwwah Islamiyyah yang dilanjutkan dengan ukhuwwah wathaniyyah dan ukhuwwah basyariyyah, adalah tiga platform penting yang mendidik kita semua tentang arti kehidupan untuk menghormati dan menghargai manusia seutuhnya. Jadi, manusia adalah makhluk yang sangat tinggi, karena itu harus dihormati. Bahkan menurut al-Quran sendiri kejahatan terhadap manusia adalah bentuk kejahatan dalam kemanusiaan universal.

Prinsip-prinsip dan pemaknaan seperti ini, kiranya yang dapat menggambarkan pesan-pesan penting Gus Yaqut pada siaran persnya di Istana Merdeka. Saat ini menjadi relevan dengan kondisi perkembangan nasional kita. Bahkan ada seorang orientalis yang memiliki tesis bahwa umat Islam akan mencapai keemasannya jika semakin toleran. Sebaliknya semakin terpuruknya umat Islam disebabkan semakin bersikap intoleran.

Sepertinya kita baru saja menemukan Menteri Agama yang seharusnya, bagi Indonesia ketika Gus Yaqut mengatakan agama sebagai inspirasi, bukan aspirasi. Tiga pesan penting Gus Yaqut menjadi sangat prinsipil untuk segera ditransformasikan ke dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Rasa optimistis ini menggambarkan, bahwa Indonesia sudah pada posisi yang benar, sudah on the track menuju NKRI yang berkeadaban dan berperadaban ke depan.

Related posts
Nasihat

Ikhlas Pasca Bencana sebagai Terapi Kesehatan Mental

Nyatanya bencana alam tidak hanya meninggalkan kerusakan secara materil dan fisik, tetapi kesehatan mental korban juga kerap terancam. Oleh karena itu, agama…
Dunia IslamNasihat

Berbeda Bukan Berarti Bermusuhan

Perbedaan pendapat di antara kita itu wajar. Namun, menjadikan perbedaan tersebut alasan untuk membenci tidak dibenarkan. Akal yang diberikan Tuhan kepada umat…
BeritaKolomNasihat

Diskursus Politik Kebencian

Dalam dasawarsa terakhir, masyarakat kita disibukkan kemelut politik bernuansa kebencian. Demokrasi sekarang ini mengalami ketegangan politik yang tiada henti menghunuskan pedang kebencian…