Gus Yaqut Menag, Kadrun Sekarat

0
0
WhatsApp
Twitter

Yang keempat, Yaqut Cholil Qoumas, Akan kita berikan tanggung jawab sebagai Menteri Agam, demikian Presiden Joko Widodo mengumumkan salah satu menterinya, dalam reshuffle kabinet kali ini. Saat Presiden Joko Widodo memperkenalkan enam orang baru di kabinet Indonesia Maju pada hari Selasa (22/12/2024), sebagai kaki tangan Presiden dalam mengimplementasi visi misinya, serta melawan intoleransi yang ditimbulkan oleh ormas-ormas berjubah agama, sehingga semakin melemahkan para broker agama seperti kelompok kadrun.

Melihat Yaqut Cholil Qoumas atau akrab dipanggil dengan Gus Yaqut, menjadi seorang Menteri Agama ada harapan yang cerah beragama di Indonesia, apalagi melihat permasalahan agama yang semakin kesini semakin dibenturkan dengan berbagai kebutuhan dan menjadi bahan bakar politik serta ormas. Sebenarnya jika dirunutkan jauh kebelakang, kelompok anti Pancasila dan anti pemerintah memang sudah ada semenjak lama, dimulai dari Era Soeharto hingga Era Joko Widodo permasalahan yang sama masih saja sama yaitu menjual agama untuk kepentingan serta ambisi berkuasa para tokoh dibalik ormas tersebut.

Persoalan agama dan berkeyakinan memang masih berada dimensi yang sangat komplek, salah satu contohnya Agama Khonghucu dimana membutuhkan bertahun-tahun untuk mendapatkan legalitas atau pengakuan dari negara sebagai instrumen keyakinan masyarakat. Pada masa Gus Dur, Khonghucu mendapatkan kado terbaik yaitu diakui oleh negara dan membebaskan untuk melakukan kegiatan beragama, hal tersebut tercantum dalam pencabutan Inpres 14 Tahun 1967 oleh Gus Dur.

Sangat wajar apabila Jokowi memilih Gus Yaqut untuk menjadi Menteri Agama, selain mengikuti tradisi yang ada, dimana NU dan Muhammadiyah sebagai ormas yang menyuplai orang yang berkompeten dalam bidang ilmu agama dan juga kebangsaan. Selain itu, Gus Yaqut merupakan Panglima GP Ansor Serbaguna dari otonom organisasi NU, tentunya sebagai Panglima GP Ansor akan mengamalkan berbagai petuah Gus Dur dan kebangsaan yang Gus Dur tanam dalam tubuh NU serta organisasi dibawahnya.

Terlebih Gus Dur merupakan orang yang sangat anti terhadap radikalisme dan intoleransi yang ditimbulkan oleh ormas agama seperti Front Pembela Islam (FPI) dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Beserta intoleransi yang terus beranak pinak, kelompok HTI dan FPI bukan hanya anti terhadap perbedaan yang ada. Namun, sudah mencapai pada abang batas yang tidak bisa lagi ditoleransi oleh negara, apalagi kelompok seperti ini berupaya melakukan penyusupan dari berbagai arah seperti Aparatur Sipil Negara (ASN), Pendidikan, hingga Perguruan Tinggi menjadi target operasi para simpatisan kedua ormas tersebut.

Memang tugas yang diemban oleh Menteri Agama kali ini cukup berat, terlihat dalam pernyataan Gus Yaqut setelah dikenalkan oleh Presiden Joko Widodo kepada awak media sebagai Menteri Agama yang baru. “Setelah resmi menjadi Menag, yang pertama ingin saya lakukan adalah bagaimana menjadikan agama sebagai inspirasi bukan aspirasi,” kata Gus Yaqut di Veranda Istana Merdeka, Jakarta, Selasa. Sesaat tidak ada yang istimewa dalam penyampaian tersebut, namun jika menggunakan sudut pandang ilmu komunikasi maka akan mudah dimengerti apa yang menjadi target utuh dari pernyataan Gus Yaqut tersebut seperti melawan intoleransi antar beragama serta membentengi agama dari arus politik.

Sebagai anak dari pendiri Ponpes KH Muhammad Cholil Bisri yang juga merupakan salah satu pendiri PKB, Gus Yaqut pernah jadi anggota DPR-RI Periode 2014-2019 dari partai PKB. Gus Yaqut menjadi anggota DPR-RI menggantikan Hanif Dhakiri yang saat itu menjadi menteri tenaga kerja. Tentunya akan mudah bagi Gus Yaqut berkoordinasi dengan berbagai mitra strategisnya dikemudian hari, terlebih ia merupakan anak yang lahir dari kalangan NU dan mengenyam berbagai tradisi NU sejak kecil.

Maka dengan keberadaan Gus Yaqut Cholil Qoumas di tubuh kementerian agama dan menggantikan Menteri Agama yang lama, ia akan mudah menjadi panglima semua agama, kita berharap bahwa Indonesia bisa bebas dari paham ekstremisme. Kenapa? Karena terbukti bahwa paham ini sudah menjadi darah daging ditengah-tengah masyarakat. Terlebih paham tersebut membawa keburukan dan kecelakaan bagi bangsa serta negara. Tidak ada untungnya kita memelihara kaum intoleran, radikal dan terorisme seperti kelompok kadrun.

Dengan demikian, kehadiran Gus Yaqut dalam Kementrian Agama Indonesia menjadi harapan baru bagi masyrakat kita. Terlebih menghilangkan diksi-diksi serta batasan dan polarisasi yang dicipatkan oleh pemeluk agama dan juga ormas, terlebih FPI dan ormas lainnya, meminjam kata-kata Gus Dur ‘Agama mengajarkan pesan-pesan damai dan ekstremis memutarbalikannya. Kita butuh Islam ramah, bukan Islam marah. Kita butuh Islam ramah, bukan Islam marah’. dan ‘Rentenir memang melakukan kerja manipulatif, karena ia mengambil keuntungan dari penderitaan orang lain. Sementara Tuhan tidak memanipulasikan apa-apa. Yang diberikan-Nya hanyalah kehidupan itu sendiri. Terserah mau diapakan oleh manusia, dijadikan ajang pengrusakan, atau lahan penyejahteraan hidup’.