Tindak pidana terorisme yang melibatkan anak di Indonesia, menjadi fenomena memperihatinkan yang mengancam tumbuh kembang anak, baik dari sisi kehidupan masyarakat, keperibadian, pemahaman agama, dan nasionalisme. Disnilah peranan seorang ibu sangat dibutuhkan dalam menangkal paham-paham terorisme terhadap anak. Jika peran itu dijalankan dengan baik, niscaya seorang ibu dapat menyelamatkan anaknya dari bahaya terorisme.
Paham terorisme merupakan kejahatan yang amat berbahaya, karena menimbulkan ancaman, ketakutan, ketidaknyamanan, kehancuran, dan menelan banyak korban berjatuhan. Tercatat bahwa, rata-rata 21.000 orang di dunia kehilangan nyawanya, akibat dari serangan terorisme. Bahkan, pada rentan waktu 2010-214, terdapat peningkatan yang signifikan jumlah kematian akibat serangan teror, dimana 7.827 jiwa meregang nyawa pada 2010 dan 44.490 orang kehilangaan nyawa di tahun 2014. Berdasarkan data dari Ritche, Hasell, Apple, dan Roser, 2019.
Pelaku kejahatan ini tidak hanya perorangan, namun juga berkelompok, memiliki jaringan yang terorganisir, baik dalam negeri, maupun luar negeri. Setidaknya ada dua faktor yang menyebabkan munculnya paham radikalisme dan tindakan terorisme, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal misalnya, minimnya wawasan kebangsaan, pemahaman agama, dan kematangan emosi, terutama pada anak. Sedangkan dalam faktor eksternal berupa lingkungan keluarga, media, faktor ekonomi, juga pendidikan.
Menurut data Asian Muslim Action Network (AMAN), bom bunuh diri di Sidoarjo dan Surabaya, Jawa Timur pada 2018, melibatkan tiga perempuan dan 11 anak-anak. Tahun sebelumnya (2017), sekitar 1.500 anak-anak menjalani latihan militer di camp pelatihan militer Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Data diatas tentu sangat memperihatinkan, anak-anak yang seharusnya tengah asyik bermain dengan teman sebayanya, atau tengah bersemangat mencari jati dirinya, harus terlibat aksi-aksi radikal yang berbahaya. Ini menjadi PR kita bersama, dan peranan seorang ibu, sekali lagi sangat dibutuhkan.
Terorisme bukan saja mengancam keamanan hidup anak-anak, tetapi juga mengancam proses pemikiran anak-anak. Oleh karenanya, tugas dan tanggung jawab seorang ibu amatlah besar, karena ia tidak hanya mengasuh, namun juga mendidik. Ibu adalah madrasah pertama bagi anak. Ibu merupkan orang pertama yang mengenalkan norma-norma pada anak, sebagai modal awal agar anak menjadi pribadi yang baik dan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dalam kehidupannya.
Di tengah era globalisasi yang serba modern, serba digital, peranan seorang ibu bukan lebih mudah, sebaliknya bertambah berat dan berlipat-lipat. Akses media sosial yang tak terbatas, pergaulan yang terlampu jauh, harus segera diperhatikan, jangan lagi diabaikan. Narasi-narasi kebencian, fanatisme, isu-isu kekerasan yang bertebaran di media sosial dan lingkaran pergaulan mesti diamati betul.
Proses pencarian jati diri dan menentukan ideologi harus terus dikawal dan di arahkan. Hal ini menjadi penting agar anak-anak tidak jatuh terpapar pada paham-paham radikalisme. Pasalnya, media sosial seperti Youtube, Twitter, Facebook dan lainnya, yang kini semakin digandrungi hampir semua kalangan, banyak konten-konten yang memuat narasi-narasi ujaran kebencian dan paham radikalisme. Hal ini tentu berpotensi besar mempengaruhi pemikiran, pandangan, dan ideologi anak, mengingat hubungan anak-anak pada internet, smartphone dan media sosial menjadi sesewatu yang sulit dipisahkan.
Menghadapi era ini, seorang ibu dituntut melek teknologi agar dapat membendung ancaman radikalisme dan terorisme pada keluarganya, dan terutama putra-putrinya. Seorang ibu harus menjadi figur yang baik di mata anak-anaknya. Selain memberi contoh yang baik, seorang ibu juga mesti menjadi tempat bersandar, mencurahkan isi hati dan sebagainya. Kedekatan emosional inilah yang akan membentuk karakter dan pribadi anak akan tumbuh seperti apa kelak.
Posisi ibu dalam satu keluarga menempati posisi yang sangat vital. Selain menjadi madrasah pertama yang menanamkan moral dan karakter anak melalui pendidikan agama, ibu juga perlu memperkuat wawasan kebangsaan dan wawasan kearifan lokal pada anak-anaknya. Kearifan lokal sangat penting juga ampuh menangkal paham radikalisme, berdasarkan survai BNPT tahun 2018. Dalam survei itu, sebanyak 63,60 persen responden percaya kearifan lokal sangat evektif menangkal paham radikalisme.
Fungsi dari wawasan kearifan lokal yakni sebagai kontrol sosial, sehingga dapat mementahkan paham radikalisme yang masuk. Kearifan lokal itu bisa berupa lagu, cerita rakyat, tari-tarian, peribahasa dan permainan. Manfaat dari kearifan lokal ini juga diharapkan mampu mereflesikan nilai budaya, menjadikan anak-anak kita sebagai generasi yang bermartabat, berkarakter, berguna bagi bangsa, agama, dan negara. Banyak kata-kata bijak yang terdapat dalam cerita-cerita rakyat yang dapat memotivasi, memberi semangat, dan memberi pelajaran penting pada anak-anak
Perasaan lembut, bathin yang halus, jiwa yang peka, air mata bahagia, keindahan, ketegaran, dan ketegaran, kesemuanya ada pada sosok ibu. Jelaslah bahwa kunci sukses atau tidaknya seseorang dalam kehidupan, apakah akan menjadi orang baik atau menjadi penjahat, bahkan menjadi teroris, sangat bergantung pada peran ibu dalam mendidik, mendorong, dan mengarahkan langkah anaknya.
Dengan demikian, kiranya peran-peran ibu di era ini dapat dijalankan dengan semestinya, maka pastilah ibu dapat menyelamatkan anaknya dari paparan terorisme. Ibu adalah sosok yang hebat nan luar biasa. Ia menjadi jembatan komunikasi, menjadi perawat sekaligus dokter, koki sekaligus pelayan, guru sekaligus sahabat. Kasih sayangnya tak terbatas waktu. Perannya tidak tergantikan. Pada akhirnya, peran-peran ibu inilah yang paling dibutuhkan dan menentukan. Dengan segala kehebatannya, ibu akan mampu menyelamatkan anak dari terorisme.
Selamat Hari Ibu.