Berita

Aa Gym, Jagalah Hati, Bukan Politisasi

4 Mins read

Kembali, publik digegerkan oleh pernyataan Abdullah Gymnastiar atau lebih akrab dipanggil Aa Gym, dalam siaran talk show yang disiarkan kanal Youtube BNPB Indonesia, pada Rabu, (16/12/2024). Ia mengatakan Presiden, Wakil Presiden, Ketua MPR RI, Ketua DPR RI, dan para Jenderal pemberani, divaksin terlebih dahulu.

Mengutip perkataan Aa Gym melalui portal online detik.com, “Memang bagus vaksin kalau sudah terbukti teruji, supaya masyarakatnya percaya, ya Pak Presiden, Wakil Presiden, Ketua MPR, Ketua DPR, para Menteri, dan para Jenderal pemberani itu harus berani divaksin dulu, kalau nanti ingin masyarakat yakin. Nanti barisan kedua mungkin petugas Kesehatan,” ujar Aa Gym.

Ia juga menilai banyak masyarakat enggan divaksin karena belum terbukti dan teruji. Selain efek samping, juga kehalalan yang mesti dipastikan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), dan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Tak lama berselang, Presiden Joko Widodo menyatakan siap disuntik vaksin Covid-19 pertama kali. Dalam tayangan melalui kanal Youtube Sekretariat Presiden, Jokowi mengatakan, “Saya yang akan menjadi penerima pertama, divaksin pertama kali. Hal ini untuk memberikan kepercayaan dan keyakinan kepada masyarakat bahwa vaksin yang digunakan aman,” ucap Jokowi saat live keterangan pers Presiden RI terkait vaksin Covid-19, di Istana Merdeka, Rabu (16/12/2024). Selain itu, Presiden juga mengatakan, vaksin Covid-19 untuk masyarakat adalah gratis, tidak dipungut biaya.

Jaminan keamanan vaksin Covid-19, sudah barang tentu sudah melalui tahapan uji klinis berdasarkan medis. Apalagi Presiden dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyatakan siap menjadi target pertama vaksinasi Covid-19. Di sini kemudian muncul suatu kejanggalan Aa Gym dalam pernyataannya yang acap kali menyudutkan pemerintah, mempolitisasi, dan meng-endorse Pilpres dan Pilkada.

Tidak hanya itu, pernyataan Aa Gym juga sering kali menimbulkan polemik di masyarakat. Saat ini menyudutkan pemerintah, di sisi lain, ia membiarkan golongan yang sejalan dengannya, dan terkesan hanya memojokkan kelompok lain yang ia benci.

Contoh, ketika Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta, ia mengatakan pemimpin sombong, ujub, takabur, dan merasa sudah banyak berbuat. Ia tidak bisa menjaga hatinya untuk tidak mengatakan hal-hal buruk yang ditujukan kepada seseorang. Meski tidak ditujukan secara eksplisit, namun terang perkataan itu ditujukan kepada siapa. Ketika Anies Baswedan terpilih menjadi gubernur DKI Jakarta pada tahun 2017, banyak pula kelemahan dalam kepemimpinannya untuk menghadapi berbagai persoalan Jakarta. Aa Gym tidak menyikapinya hal yang sama dengan sensi seperti sebelumnya.

Anies Baswedan sepertinya memiliki kesombongan dan arogansi yang sama dengan Ahok. Namun, ia bisa mengemasnya lebih baik dengan kesantunan, kelemah lembutan, dan tutur kata yang meliuk-liuk, mampu menghipnotis para pengagumnya. Mengapa saya mengatakan ia juga arogan dan sombong? Sebab apa yang diimplementasikan oleh Anies pun yang dilakukan oleh Ahok. Sebentar lagi intensitas hujan di Jakarta akan tinggi, apakah Aa Gym juga akan nge-tweet, Innalillahi Jakarta banjir lagi, dan berdoa semoga ada pemimpin Jakarta yang rendah hati, tak ujub takabur? Sepertinya tidak, sebab Aa Gym tidak bisa menjaga hati dari kebencian kepada orang tertentu.

Misalnya, normalisasi kali yang dilakukan oleh Ahok, hanya mengganti istilah dengan naturalisasi, rumah susun diganti rumah berlapis, penggusuran jadi penggeseran, dan seterusnya. Bahkan Anies dengan sombongnya tidak mau memakai konsep kebijakan dari pendahulunya, Jokowi, dan Ahok. Ia merupakan antitesis dari Jokowi dan Ahok.

Tidak hanya itu saja Aa Gym terlihat tidak menjaga hati dan cenderung dalam gelombang politisasi. Menyangkut desain logo resmi HUT Republik Indonesia ke-75 bulan agustus yang lalu, ia mengasumsikan logo tersebut sebagai tanda salib, tanpa berpikir dampak dari yang ia katakan, akan menimbulkan pertikaian dan perselisihan diantara umat beragama. Apalagi saat ini, kita tengah menghadapi arus politisasi agama yang begitu kuat dan reaktif.

Lalu bagaimana Aa Gym menanggapi berbagai peristiwa yang melibatkan MRS dan banyak pengagumnya belakangan ini? Mengapa Aa Gym berdiam diri dengan perilaku MRS yang berkerumun saat pandemi, menghina, melecehkan, dan merendahkan martabat perempuan pada saat Maulid Nabi? Menjaga hati itu menyeluruh, tidak “pilih-pilih” siapa yang patut dihardik dan siapa yang dibiarkan.

Betul, amal dan perbuatan seseorang itu tergantung pada niatnya. Orang yang berniat untuk tidur, ia lebih berpahala sebab niat tidurnya diperuntukkan untuk istirahat menyegarkan badan, dan beribadah setelahnya. Akan tetapi niat membaca al-Quran, tapi justru ia berdosa, lantaran ingin dipuji banyak orang. Niat mengkritik sebagai bagian amar makruf nahi munkar, namun, jika terlihat pilah-pilah politisi yang dikritik, dan di sisi lain mendiamkan, Aa Gym seolah-olah telah mendustakan Tuhan dengan niat sensi kebencian dan mempolitisasi, tidak lilLahi Ta’ala.

Dalam hal ini, Aa Gym tidak serius dalam niat berbuat untuk kepentingan umat. Apa yang dilakukannya selama ini, hanya semata-mata untuk kepentingan dirinya sendiri, atau paling jauh untuk golongannya. Sebab apa yang ia ucapkan, tidak menunjukkan niat amal dalam menjaga hati. Sebagaimana banyak politisi yang banyak mengumbar janji, hanya keluar dari mulut, tidak dari dasar hati yang bersih.

Yang dilakukan Aa Gym mungkin dianggap sebagai kritik membangun oleh banyak pengagumnya. Sebaliknya, tendensius dan motivasi Aa Gym tidak terlihat dalam rangka perbaikan, hanya perselisihan dan perpecahan. Bagaimana bisa Aa Gym sebagai orang yang terpandang, pemuka agama yang banyak diikuti, justru merusaknya dengan sikap yang tidak menjaga hati dari sensitivitas masyarakat terhadap politisasi agama. Padahal ajaran agama, menghendaki persatuan dan perdamaian.

Anehnya, sampai sekian lama Aa Gym melakukan kontroversi yang banyak ditentang dan diingatkan oleh orang lain—ulama, cendekiawan, politisi, dan lainnya—tidak menunjukkan tanda-tanda kesadaran bahwa perkataannya sering kali menimbulkan persoalan dan kekacauan di tengah masyarakat.

Kita tidak tahu, mungkin saja Aa Gym melakukan itu karena Allah, atau karena hawa nafsu kebencian. Sebab sikap sensinya terhadap pemerintah memperlihatkan tidak ada kebersihan dalam hatinya. Namun, kita bisa menandainya dari tampilan dan dampak dari amalan dan perkataannya itu.

Misalnya, apabila karena Allah, ia akan meniru Rasulullah SAW. berdakwah dengan santun, lemah lembut, simpatik, serta menebarkan kedamaian dan rahmat. Apabila ternyata justru bertentangan dengan itu: kasar, penuh makian, menebarkan kebencian dan permusuhan, bisa dipastikan bahwa tidak karena Allah. Entah kepentingan, nafsu, atau bahkan dorongan setan (KH. A. Mustofa Bisri: 2019, 141-142).

Dengan kata lain, boleh jadi Aa Gym yang senantiasa memutlakkan kebenaran pendapatnya sendiri untuk menyerang pihak yang ia benci, juga tidak menyadari bahwa ia tidak bisa menjaga hatinya sendiri. Sikap yang demikian itu mungkin saja bisa disebut ‘syirik hati’, sebab kebenaran yang mutlak hanya Allah.

Jadi sebelum Aa Gym berkomentar, coba periksa terlebih dahulu hati dan pikirannya dengan jernih, refleksi, dan melihat diri sendiri, apakah selama ini ia telah menjaga hati untuk senantiasa berbuat kebaikan bagi negeri, atau justru merusaknya dengan sikap politisasi yang ia perlihatkan selama ini?

Related posts
BeritaDunia IslamNasihat

Membangun Kesadaran Kritis Santri Masa Kini

Di tengah hiruk pikuk kegiatan pesantren yang beragam, pengajian merupakan satu aktivitas yang menjadi kewajiban dalam keseharian. Sebab melalui tradisi mengaji, terjadi…
BeritaDunia Islam

Dimensi Ukhuwah KH. Jalaluddin Rakhmat

Cendekiawan Muslim Indonesia, KH. Jalaluddin Rakhmat telah wafat pada Senin (15/02) di RS Santosa Internasional. Sebagai tokoh, Kang Jalal sapaan akrabnya, kabar…
Berita

Ujaran Kebencian Yahya Waloni, Ormas Islam Kok Diam?

Penceramah mualaf Yahya Waloni kembali sorotan publik, setelah mengatakan dalam pengajiannya dengan sengaja menabrak anjing dengan nada kebencian. Minimnya etika dan sopan santun ditunjukan oleh Yahya Waloni sangat kental terasa dengan cara memaki ataupun menebar kebencian. Sayangnya, ujaran kebencian yang banyak tersebar melalui video tersebut tidak direspon oleh ormas Islam dan terkesan diam