Kolom

Jihad TNI-Polri Untuk NKRI

2 Mins read

Pemberitaan dengan narasi ‘jihad’ semakin hari semakin menjadi-jadi, hal ini bermuara pada kasus yang melilit Muhammad Rizieq Syihab (MRS). Bebarapa kasus yang masih diingat oleh masyarakat seperti menganti lapas azan, dan mengantikannya dengan dengan ajakan jihad. Sehingga TNI dan Polri mengambil tempat sebagai self defense of a country, sebagai langkah awal dalam melindungi NKRI.

Melihat narasi jihad akhir ini yang digunakan oleh simpatisan dan anggota Front Pembela Islam (FPI), sangat terasa politasasinya. Apalagi jihad yang digunakan untuk membela MRS bukan kepentingan negara dan masyarakat, sehingga sangat mudah dipatahkan argumentasinya dalam memaknai kata jihad tersebut. Berbeda jika makna jihad jika digunakan oleh para prajurit TNI dan Polri dalam membela, melindungi, dan mengamankan negeri ini dari berbagai serangan dan musuh baik dari dalam maupun dari luar.

Terlihat saat mobil komando Koopsus sengaja diberhentikan didepan markas pusat FPI, Petamburan sebagai efek kejut untuk para pencinta imam besar FPI tersebut. Walaupun, setelahnya masih memilih melawan mengunakan mulut untuk menghalang-halangi Penyidik Polri untuk memberikan surat pangilan kepada MRS. Namun akhirnya, pemimpin FPI tersebut resmi ditahan di Rumah Tahanan (Rutan) Polda Metro Jaya sejak Sabtu (12/12/2024).

Semenjak penahanan yang dilakukan oleh Polisi terhadap MRS, beberapa kejadian melibatkan simpatisan FPI yang bodoh semakin marak, seperti rangkaian kejadian bom molotop yang menyerang fasilitas umum dan kantor kepolisian terjadi dimana-mana, adapula demonstrasi agar mempenjarakan para simpatisan untuk satu kamar tahanan bersama Rizieq. Entah apa yang dipikirkan oleh para simpatisan MRS, sehingga mau ditahan. Walaupun demikian, Polisi tidak begitu memperdulikan dan memilih untuk membubarkan para demonstran tersebut agar kembali kerumah masing-masing.

Apa yang dilakukan TNI dan Polisi akhir-akhir ini, merupakan gambaran kecil tentang makna jihad membela negara dan masyarakat, dengan cara meraka masing-masing. Terakhir terlihat TNI dan Polri melakukan kompoi besar-besar dengan mengunakan persenjataan lengkap dan mobil taktis lapis baja dari dua matras tersebut. Dengan tujuan mengamankan situasi ibu kota, apalagi simpatisan FPI memang terkenal nekat dalam melakukan aksi-aksinya.

Adapula, TNI AL melakukan gelar pasukan di Tanjung Priok. Laksamana TNI Yudo Margono sudah mengendus kekuatan yang mau merusak negara ini dan karena itu apel ini sekaligus menyiagakan seluruh prajurit TNI Angkatan Laut terkait situasi keamanan terkini di ibu kota. TNI AL juga melakukan unjuk kekuatan dan ini merupakan jadi sinyal kekuatan TNI yang solid untuk menghadapi ancaman khususnya para ormas anarkis seperti FPI. Selain itu, beberapa matras tidak ketinggalan melakukan aksi unjuk gigi, agar kelompok FPI tidak merasa paling kuat dan tidak ada tandingannya.

Dengan unjuk kekuatan tersebut, Pangdam Dudung dan Irjen Pol Fadil Imran mendapatkan aspirasi dari kalangan masyarakat yang sudah muak terhadap tingkah FPI, yang selalu menjadi broker agama serta arogansinya. Banjir karangan bungga hanyalah salah satu ekspresi bagaimana publik sangat mengagumi keberanian kedua pemimpin tersebut, yang bak meteor langsung membuat kebakaran jenggot para pasukan dan simpatisan FPI. Bahkan, Jubir FPI yaitu Fadli Zon akhirnya tutup mulut melihat aspirasi masyarakat terhadap dua pemimpin matras tersebut.

Dalam suatu riwayat, Nabi memberikan sebuah contoh teladan bagaimana mencintai negeri atau tanah air, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih Bukhari juz 3 halaman 23:

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ، عَنْ حُمَيْدٍ، عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، «أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ، فَنَظَرَ إِلَى جُدُرَاتِ المَدِينَةِ، أَوْضَعَ رَاحِلَتَهُ وَإِنْ كَانَ عَلَى دَابَّةٍ حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا»

“Ketika Rasulullah hendak datang dari bepergian, beliau mempercepat jalannya kendaraan yang ditunggangi setelah melihat dinding kota Madinah. Bahkan beliau sampai menggerak-gerakan binatang yang dikendarainya tersebut. Semua itu dilakukan sebagai bentuk kecintaan beliau terhadap tanah airnya. ” (HR Bukhari).

Hal ini, merupakan pegangan bagi muslim di Indonesia, bahwa mencintai tanah air merupakan hak dan kewajiban semua umat, seperti yang dilakukan oleh TNI dan Polri dalam melindungi bangsa dan negara dari kehancuran, seperti yang dilakukan para broker agama di negara Timur-Tengah yang berujung perang tanpa tahu kapan berakhir.

Walaupun demikian, TNI dan Polri merupakan ujung tombak sebagai pelindung sebuah negara, yang mengerakan adalah rakyat. Sehingga memerlukan klaborasi antara masyarakat, TNI, dan Polri dalam melindungi negeri dari ambang kehancuran, yang dibawakan oleh kelompok-kelompok ekstrem seperti FPI dengan mengunakan narasi-narasi keagamaan dan jihad versi mereka.

Related posts
Kolom

SBY, Sebaiknya Bantu Negara Atasi Bencana

Pernyataan mantan Presiden Republik Indonesia ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kembali menjadi perbincangan jagat maya. Dalam sebuah acara “Doa untuk Indonesia” yang…
Kolom

Kritik Santun Dalam Demokrasi Digital

Belakangan, pernyataan Presiden Joko Widodo yang meminta masyarakat aktif mengkritik pemerintah menuai berbagai komentar publik. Pasalnya, Jokowi pernah mengatakan, pemerintah perlu mendapat…
Kolom

Dakwah Setan Dai Provokatif

Banyak mimbar atau podium, dimanfaatkan untuk memprovokasi, mencaci-maki, menghina, mengadu domba, ujaran kebencian, dan menggunjing orang-orang yang tidak satu paham, tidak satu…