Beredar kabar bahwa Sekjen HRS Center, Haikal Hassan, mimpi bertemu Rasulullah SAW ketika momen kedua anaknya meninggal dunia. Cerita tersebut tadinya ia simpan rapat-rapat karena khawatir ria jika disebarkan. Namun, akhirnya ia bagikan juga pada Rabu (9/12/2024) saat mengisi sambutan setelah prosesi pemakaman enam simpatisan FPI yang meninggal pasca terlibat baku tembak dengan polisi tempo hari.
Singkat cerita, Haikal menuturkan, bahwa dalam mimpi tersebut Rasulullah SAW membisikinya untuk tidak takut dan khawatir karena Nabi telah menggandeng serta kedua anaknya, Umar dan Salma. Demikian Haikal berkisah, disertai pekikan sumpah atas nama Allah SWT bahwa ia sungguh didatangi Nabi Muhammad SAW.
Untuk menghibur keluarga yang ditinggalkan, ustadz yang akrab disapa Babe Haikal ini, menyebut bahwa enam laskar FPI tadi sedang bersama Rasulullah SAW. Mimpi itu, oleh Haikal sekaligus diartikan sebagai sebuah pesan Nabi untuk keluarga terkait supaya tak larut dalam kesedihan. Karena Rasulullah SAW benar mendatangi orang yang dirundung duka, imbuh Haikal.
Terlepas dari benar tidaknya mimpi tersebut, sulit rasanya untuk tak mengatakan bahwa pernyataan Haikal Hassan di pemakaman tersebut, absen dari muatan politis. Apalagi mencari pembenaran dan simpati publik dengan mengaku bertemu orang suci, Nabi, atau mendapat bisikan gaib, bukan hal yang belum pernah terjadi selama ini. Ia seolah ingin meneguhkan klaim syahid bagi enam laskar FPI yang dianggap telah gugur tersebab jihad. Mereka juga dinyatakan telah disambut Rasulullah SAW.
Motivasi untuk giat berjihad ‘membela’ agama, ulama, habaib, dan menjadi martir, merupakan narasi besar yang nampaknya ingin dibangun. Indoktrinasi “hidup mulia atau mati syahid” digencarkan untuk membentuk pasukan pion siap mati. Syahid yang demikian, dalam persepsinya akan mengantarkan pada genggaman tangan Nabi di akhirat nanti.
Cukup cerdik, Haikal Hassan mengajukan dimensi metafisik berupa mimpi, yang hampir tak mungkin bisa diverifikasi atau dibuktikan secara empiris. Sebagian pendengar terkesima, terisak dengan cerita itu. Namun, sebagian yang lain justru skeptis, bahkan ada pula yang serta-merta mementahkannya. Lumayan sulit memang untuk menagih pembuktiannya.
Apalagi diriwayatkan dalam hadis sahih di mana Nabi pernah bersabda, bahwa Sesiapa yang melihatku dalam mimpi, maka ia benar telah melihatku, karena setan tidak bisa menjelma sepertiku. (HR. Muslim). Sabda ini seolah kian menutup pintu untuk mempertanyakan klaim seseorang yang mengaku mimpi bertemu Nabi Muhammad SAW.
Namun demikian, sejumlah ulama ternyata memberikan catatan untuk hadis tersebut. Setan memang tidak mampu menyerupai wajah Nabi yang sebenarnya. Sedangkan menampakkan diri dengan wajah lain kemudian mengaku sebagai Nabi, itu sangat mungkin dilakukan oleh setan. Untuk itu, sebelum seseorang mengklaim dirinya melihat Nabi, terlebih dahulu ia harus berkonsultasi kepada seorang ulama yang dikenal kebaikan serta ketakwaannya. Tak lain untuk memastikan apakah dirinya benar menjumpai Rasulullah SAW atau malah setan. Upaya ini untuk menghindarkan diri dari pusaran dusta atas nama Nabi Muhammad SAW.
Tidak main-main. Seseorang yang mempolitisasi apapun atas nama Nabi, secara otomatis ia telah mereservasi kapling neraka baginya. Begini jelas Rasulullah SAW, bahwa Barang siapa berdusta atas namaku (Rasulullah SAW) secara sengaja, maka ambillah bagian dari tempatnya di neraka. (HR. Bukhari).
Selain ancaman bagi personal pelaku, mempolitisir pertemuan dengan Nabi juga mengandung potensi bahaya bagi domain masyarakat. Memimpikan Nabi bukan sesuatu yang perlu diumbar di depan khalayak. Orang awam bukan tidak mungkin meniru penuturan perjumpaan dengan Nabi lalu diedarkan luas untuk kepentingan tertentu. Marwah Rasulullah SAW yang kemudian akan menjadi korban obralan. Betapa mengerikan.
Dalam surat Yusuf ayat lima Allah SWT berfirman, Wahai anakku! Janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu, mereka akan membuat tipu daya untuk membinasakanmu. Imam al-Qurthubi dalam al-Jami’ li Ahkam al-Quran, menyatakan ayat ini adalah basis dalil agar kita tak menceritakan ru’ya (mimpi kebaikan) kecuali kepada seorang yang arif, alim, serta memiliki kemampuan menabir mimpi.
Muhammad bin Sirin sebagaimana diriwayatkan oleh Hammad bin Zaid, mengajukan metode pengujian seseorang yang menyatakan mimpi bertemu Nabi. Orang tersebut akan diminta untuk menceritakan ciri orang yang dilihatnya dalam mimpi. Bilamana ia menyebut satu sifat yang tak dikenali oleh Ibnu Sirin, dengan demikian mimpi tersebut gagal uji verifikasi.
Di masa sekarang, metode demikian akan sangat mudah ditaklukkan, mengingat banyak dan mudahnya akses referensi yang memuat baik ciri fisik maupun perilaku Nabi. Artinya, seseorang yang tidak memimpikan Nabi sekalipun dapat dengan mudah menyebutkan sifat-sifat beliau. Sampai di sini, kerja intuisi diandalkan. Ulama yang memiliki kedalaman ilmu dan batin, sekiranya akan tahu mana yang jujur dan sebaliknya.
Dalam konteks Haikal Hassan, nampaknya kita layak meragukan kisah mimpinya. Pertama, rekam jejak yang merupakan cermin karakternya, menjadi celah utama untuk mempertanyakan cerita pertemuan Babe Haikal dengan Nabi. Semua umat Rasulullah memang berkesempatan dan mengharapkan temu sapa dengan Nabi.
Namun, orang yang berhasil menjumpai Nabi tentu bukan manusia sembarangan. Hanya orang-orang saleh berhati bersih yang jiwanya diliputi kerinduan kuat pada baginda Rasulullah SAW, sehingga ia selalu mengupayakan lisan dan lakunya sejalan dengan akhlak Nabi. Orang semacam ini yang memenuhi kualifikasi untuk menerima karunia pertemuan dengan Rasulullah, bukan seseorang yang masyhur dengan ujaran provokatifnya dan kerap teruji kebohongannya. Terlebih jika melihat kepada siapa Haikal Hassan terafiliasi, keraguan akan cerita mimpi itu semakin menjadi.
Kedua, penggunaan sumpah atas nama Tuhan dalam narasinya, mengindikasikan ketidakpercayaan pendengar atas apa yang ia ucapkan. Bisa jadi karena ia terlanjur populer sebagai orang yang ucapannya susah dipegang. Maka dari itu, redaksi sumpah dipakai untuk menepis keraguan para komunikan. Seperti dalam kajian ilmu balaghah, dikenal pembagian kalam yang menyesuaikan kondisi psikologis pendengar. Redaksi sumpah digunakan pada level ketiga, yaitu kalam ingkari, di mana posisi pendengar memungkiri ucapan yang disampaikan komunikator, sehingga dibutuhkan unsur penguat.
Giat menebar kebohongan ialah salah satu ciri orang munafik. Sekali berdusta, akan sangat sulit untuk kembali dipercaya. Tanpa bermaksud mengukur kualitas keimanan, spiritualitas seseorang, ataupun menuduh dusta, sayangnya whole package Haikal Hassan terasa jauh dari kriteria seseorang yang pernah bertemu Nabi. Yang justru terlihat, Babe Haikal sedang memanfaatkan momen serta sosok Nabi yang dicintai umatnya untuk agenda propaganda paket jihad dan kemartiran. Perjumpaan dengan Nabi adalah karunia agung dan kabar gembira bagi tiap Muslim. Semua mengharapkan dikumpulkan dengan beliau. Ingat, mengobral “atas nama Nabi” hanya akan melahirkan kekacauan komunal serta kerugian personal. Jangan hanya karena urusan profan, Nabi pun sampai hati dipolitisasi. Wallahu a’lam . []