Setelah berulang kali mangkir dari panggilan pihak berwajib, Muhammad Rizieq Shihab akhirnya menyerahkan diri. MRS kembali menyandung kasus hukum untuk kesekian kalinya. Meskipun telah berulang kali keluar masuk tahanan, Muhammad Rizieq Shihab tetap didukung oleh pengikut yang mengidolakannya sebagai ulama, hingga hari ini. Namun, pasca mengobral gerak-gerik kontroversialnya dalam dua bulan terakhir, MRS dan kelompoknya menuai kritik tajam dari berbagai kalangan di negeri ini, khususnya melalui perspektif hukum dan etika. Dalam kondisi ini, tidak mudah untuk mempertahankan reputasi MRS sebagai tokoh yang dianggap ulama. Rekrutmen dan solidaritas pengikutnya yang tadinya bertambah setelah momentum aksi 212 beberapa tahun lalu , kini harus menghadapi kemungkinan terbelah.
Kerasnya kritik dan penolakan yang terlontar ke publik akibat kejumawaannya, mau tidak mau berimbas pada loyalitas pengikutnya. Sebagian memang semakin fanatik terhadap MRS, serta terus berkutat di seputar isu kriminalisasi ulama. Namun, sebagian lainnya telah menangkap hikmah dari perdebatan publik, sehingga mengalami perkembangan pemikiran. Kenyataan bahwa argumentasi ‘kriminalisasi ulama’ yang semakin berbanding terbalik dengan moralitas ulamanya, membuat kesadaran tentang fenomena ‘mengulamakan kriminal’ semakin jelas dan sulit disangkal. Situasi seperti ini, merupakan lahan subur bagi edukasi masyarakat untuk kembali pada ulama sejati.
Sentralitas ulama di tengah masyaraat Muslim negeri ini sangat membudaya. Kekecewaan masyarakat terhadap sosok MRS yang dianggap ulama, jika tidak ditangani dengan baik, akan membuat mereka berpaling dan meninggalkan ulama. Maka dari itu, sangat penting mengetengahkan sosok ulama sejati yang dalam beberapa hadis disebutkan sebagai ‘warisan para nabi’. Para nabi meninggalkan warisan berharga bukan berupa garis keturunan, tetapi ilmu dan akhlak melalui para ulama. Jadi, ulama ialah sosok yang dapat dijadikan panutan karena mewarisi ilmu dan amaliah nabi.
Penting untuk dipahami bahwa seseorang yang disebut Ulama pun tidak memiliki kualifikasi yang sama rata. Menurut Ahmad bin Ajibah, para ulama sejati terbagi kedalam tiga klasifikasi, yaitu ‘alim, ‘abid, dan ‘arif. Masing-masing mendapat warisan kenabian.
Ulama ‘alim mewarisi ucapan-ucapan Rasulullah dalam bidang ilmu dan pengajaran. Ulama ‘abid mewarisi perbuatan Nabi, mulai dari salatnya, puasanya, dan perjuangannya. Sementara Ulama ‘arif mewarisi ilmu, amal, serta akhlak Rasulullah sekaligus, seperti zuhud, wara’, takut kepada Allah, berharap keridhaan-Nya, sabar, memiliki stabilitas mentalnya (hilm), kecintaan kepada Allah, serta penghayatan yang tuntas tentang ketuhanan (ma‘rifah). Dengan mengetahui hal ini, kita tentu dapat membedakan, mana ulama sejati dan mana yang bukan.
Ulama haq atau ulama sejati merupakan ulama yang patut kita ikuti dan taati. Al-Ghazali menilai ulama melalui cerminan beberapa tokoh Imam seperti Imam Malik, Shafi‘i, Hanbali, Hanafi. keulamaan mereka dipuji karena masing-masing dari mereka adalah orang-orang yang tekun beribadah, zuhud, berilmu akhirat, mengerti kemaslahatan umum, dan ilmunya ditujukan untuk mengabdi kepada Allah dengan niat yang benar.
Di dalan tradisi keulamaan, akhlak ulama merupakan salah satu parameter dalam mengukur kualitas ulama, karena akhlak merupakan manifestasi dari ilmu. Dalam kitab Adabul Alim wal Muta’allim karya K.H. Hasyim Asy’ary dijelaskan bahwa orang ‘Alim (berilmu) selalu bergaul dengan orang lain dengan akhlak yang mulia.
Lebih lanjut dalam kitab tersebut dijelaskan pula, bahwa orang berilmu wajahnya selalu berseri-seri, gemar menebar salam dan keselamatan, bersikap lembut, menahan amarah, tidak menyakiti orang lain dan sangat menyayangi murid-muridnya. Selain itu, ulama sejati selalu bersikap adil, mendahulukan kepentingan umat, bukan kepentingan pribadi, kelompok atau mazhab. Ia selalu berusaha untuk mewujudkan situasi yang aman dan nyaman.
Negeri kita sejak dahulu, kaya akan ulama-ulama kharismatik yang mampu menerjemahkan ajaran yang berasal dari langit, untuk membagun peradaban umatnya di muka bumi. Quraisy Shihab, KH. Musthafa Bisri (gus Mus), KH. Ahsin Sakho Muhammad, dan Buya Yahya merupakan sosok ‘Alim karismatik yang sangat damai dan bersahaja yang masih dapat kita temui saat ini, bahkan melaui media Online. Ulama-ulama terdahulu pun tetap ada disekitar kita, memalui pemikirannya yang masih relevan untuk dikaji.
Walhasil, keberagaman di tengah masyarakat Muslim dalam hal memilah ulama merupakan suatu keniscayaan, tetapi masyarakat harus lebih menyadari adanya bias keulamaan yang kurang menguntungkan umat, seperti yang akhir-akhir meresahkan publik. Antusiasme masyarakat Muslim negeri ini terhadap ulama, tidak kecil. Hal ini menunjukkan penerimaan masyarakat terhadap institusi agama relatif baik dan patut kita syukuri. Tidak perlu bicara banyak kepada kelompok yang masih fanatik dengan MRS, sebab lebih penting mencurahkan perhatian pada masyarakat lainnya agar kembali pada ulama sejati.