Berita

Viralnya Kami Percaya FPI Teroris

4 Mins read

Pada hari rabu, tanggal 9 Desember 2020, sebuah hashtag viral di media sosial, terutama di twitter. Hashtag yang ditengarai kegelisahan masyarakat Indonesia terkait beberapa kasus yang melibatkan Muhammad Rizieq Shihab beserta organisasinya, Front Pembela Islam (FPI). Yakni, #KamiPercayaFPITeroris dan #FPISayapTeroris.

Semenjak kepulangan MRS dari Arab Saudi ke Indonesia pada Selasa (10/11/2024), kegaduhan terjadi di mana-mana. Dalam jangka waktu 2-3 hari saja, MRS melakukan sebuah kesalahan dengan mengumpulkan massa dalam jumlah banyak. Mulai dari Megamendung Bogor, hingga Petamburan Jakarta. Dengan berkumpulnya orang dalam jumlah banyak, ia pun harus berurusan dengan aparat penegak hukum, sebab diduga terjadi pelanggaran protokol kesehatan saat kita semua tengah menghadapi krisis yang diakibatkan oleh Pandemi Covid-19.

Tidak hanya itu, rumah ibunda Menteri Koordinator Bidang Politik dan Hak Asasi Manusia (Menko Polhukam) di Pamekasan, Madura, digeruduk ratusan orang, dengan alasan Menkopolhukam berencana memanggil MRS atas pelanggaran protokol kesehatan. Keesokan harinya, sejumlah pendemo yang menolak rencana kedatangan MRS di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, mendapat serangan dari orang-orang yang tak dikenal. Para pendemo dilempari batu, ada yang diserang dengan busur panah, bahkan ada pula yang membawa senjata tajam berjenis badik.

Belum lagi, aksi teror yang terjadi di desa Lembantongoa, Sigi, Sulawesi Tengah, mengakibatkan empat orang tewas dalam satu keluarga, pada Jumat (27/11/2024). Selain itu, para pelaku juga membakar enam rumah warga dan satu tempat ibadah. Pelaku diduga termasuk kelompok Mujahidin Indonesia Timur Poso. Dalam satu ceramahnya yang sempat viral di media, MRS pernah mendukung tindakan-tindakan yang dilakukan oleh Mujahidin, dan memprovokasi untuk terus memerangi Non-Muslim.

Yang teranyar, para pengikut pentolan FPI, MRS, menyerang anggota polisi pada Senin (7/11/2024) dini hari, yang tengah melaksanakan tugas penyelidikan terkait rencana pemanggilan dan pemeriksaan MRS yang sudah dijadwalkan pagi itu. Laskar FPI menyerang dengan menggunakan senjata api. Menurut prosedur tetap (protap) kepolisian, jika dalam keadaan terancam keselamatan jiwanya, maka dibolehkan untuk menindak tegas dan terukur terhadap pelaku penyerangan, yang juga mengakibatkan tewasnya 6 orang dari Laskar FPI.

Sebetulnya ini fenomena apa? Mengapa Indonesia yang semula tenang-tenang saja, setelah MRS pulang ke Indonesia, kekacauan semakin menyeruak? Pada akhirnya, provokasi kebencian, propaganda permusuhan, dan fabrikasi kemarahan dari MRS, banyak memakan korban. Mereka yang tewas dalam bentrokan polisi dengan Laskar FPI di jalan tol Cikampek KM 50 itu, adalah korban dari indoktrinasi MRS agar mau jadi martir bagi dirinya.

Saat ini, FPI sedang mem-framing bahwa seolah-olah mereka adalah korbannya, mereka semua playing victim. Narasi-narasi kosong terus digelorakan, padahal fakta audio visual percakapan diantara mereka, serta kepemilikan senjata, telah ditunjukkan oleh aparat. Meski saya sendiri mendukung dibentuknya tim pencari fakta independen untuk mengungkap melalui bukti-bukti fisik, forensik, dan audio visual serta CCTV saat kejadian. Akan tetapi, apakah mereka akan menerima begitu saja hasilnya nanti? Jelas mereka akan kembali membuat narasi-narasi penolakan dan kembali mem-framing bahwa tetap dalam hal ini, negara yang salah.

Kita sudah mengenal lama sepak terjang FPI seperti apa dan bagaimana mereka bergerak. Organisasi teror ini adalah bergantung kepada siapa elite politikus yang mengendalikannya. Persoalannya bukan ada pada akar rumput, namun kemana aktor intelektual ini membawa organisasinya dalam pusaran politik. Watak keras mereka, mirip dengan Khawarij, meski mengaku ahlussunnah wal jamaah. Watak demikian akan terus memerangi kelompok Muslim yang lain dan tentu saja konstitusi negara. Sebagaimana Khawarij memberontak terhadap Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan juga memerangi Kekhalifahan Umayyah.

Jadi, apapun fakta yang diungkapkan nanti, tidak akan pernah merubah konsepsi, keyakinan, dan sikap perlawanan mereka terhadap sesama Muslimin, pemerintah, dan negara. Polisi mengatakan bahwa yang tewas adalah pasukan khusus, jadi sangat wajar mereka memiliki akses senjata api untuk melindungi sang Imam. Selain itu, dalam pers rilis FPI menyebut penguntit mereka sebagai OTK atau orang tidak dikenal, padahal mereka tahu bahwa itu adalah anggota polisi. Mereka mencoba untuk mengaburkan bahwa Imam mereka, MRS, tengah menghadapi bahaya dari pihak lain. Stigma luar biasa.

Logikanya seperti ini, bagaimana bisa keluar rumah dini hari dengan membawa anak, cucu, dan membawa bayi untuk pengajian. Ini sangat terasa janggal dan aneh. Kalaupun benar ada pengajian, maka kemungkinan besarnya keluarga didahulukan berangkat dari siang atau sore hari seperti kebiasaan mereka, tidak saat tengah malam. Tentu beberapa anggota kepolisian diterjunkan untuk mengawal dan mengawasi pergerakan MRS agar dapat memenuhi panggilan pemeriksaan. Sebab jika benar ada pengajian, mengapa harus ke arah Purwakarta dan Karawang? Kemungkinan polisi menduga bahwa ada pengerahan massa dari FPI untuk mengawal MRS dalam pemeriksaan.

Sangat mustahil kemudian penguntit akan mencelakai yang dikawalnya, tanpa adanya penyerangan lebih dulu atau tanpa sebab-sebab tertentu. Berdasarkan keterangan polisi, mobil mereka dipepet oleh Laskar FPI kemudian ditembak lebih dulu, maka mereka yang berusaha menyerang, ditindak tegas, dan terukur. Jikalau polisi sudah berniat atau memiliki target khusus, sudah barang tentu mobil MRS yang dijadikan target utama sedari awal. Mengapa harus menembak Laskar FPI jika tidak ada penyerangan lebih dulu. Ini yang harus kita pahami bersama.

Perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi yang kian terbuka, semakin meyakinkan bahwa FPI memang organisasi teroris, berdasarkan bukti dan fakta yang diungkapkan oleh pihak kepolisian. Mereka telah melaksanakan tugasnya yang terukur dengan menembak mati para teroris berjubah agama. Tidak ada lagi suara-suara sumbang bahwa negara lemah; pemerintah takut FPI; polisi tidak tegas terhadap ormas, dan seterusnya. Mereka telah menunjukkan bahwa negara melindungi segenap warganya dari arogansi, kebrutalan, dan aksi anarkisme kelompok.

Hanya gara-gara menolak panggilan kepolisian, MRS telah mengorbankan banyak orang. Seorang tokoh agama dengan doktrin terornya, selalu memperdagangkan jamaatnya kemana-mana dengan iming-iming surgawi. MRS secara masif menyerukan propaganda heroik dan maskulinitas bermantel agama dalam sejumlah ceramahnya. Ia banyak meyakinkan para orang tua agar anaknya direlakan untuk jihad dan syahid demi dirinya.

Sungguh tidak diduga dan dinyana, kedamaian yang tumbuh baik, harus dicabik-cabik oleh genderang revolusi tidak bermoral oleh MRS dan organisasi terornya, FPI. Radikalisme dan terorisme bukanlah agama. Agama apapun tidak pernah mengajarkan membunuh dan memerangi, apalagi dengan menyerang aparat kepolisian. Namun, dalam kasus terorisme, jamak bila kemudian agama pada akhirnya dijadikan simbol bagi sebuah pembenaran atas tindakan barbarian dan provokasi (Hamidin Aji Amin, 2020: 9). Kejahatan teror yang dilakukan oleh FPI, sudah melewati batas-batas negara dengan menyerang aparat. Ironisnya, MRS telah mengumpankan nyawa pengikutnya sehingga keluarga yang ditinggalkan juga turut menjadi korban.

Tentu mereka semua sudah tahu bahwa mereka dikuntit oleh beberapa anggota polisi dalam beberapa hari sebelumnya, dan tidak melakukan apa-apa. Mengapa mereka melakukan perlawanan dengan mengatakan, “sikat.. ane sikat..” dalam sebuah rekaman audio visual mereka. Ini membuktikan bahwa polisi bertindak sesuai dengan protap yang benar.

Sama seperti yang lain, saya pun turut prihatin atas kejadian ini dan turut mendoakan ke-6 orang yang tewas semoga diampuni, serta keluarga korban diberi ketabahan. Namun, tidak membenarkan bahwa mereka mati dalam keadaan syahid. Mereka teroris, dan sudah sepatutnya aparat menindak tegas mereka-mereka yang membuat kegaduhan negeri ini.

Segala bentuk dukungan dengan mengatakan bahwa mereka adalah jihad dan syahid seperti pernyataan Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) yang mengatakan syahid, dan Abdul Somad yang mengatakan,“Polisi yang membunuh Muslim Neraka Jahanam.” Hal itu merupakan tindakan provokatif yang terselubung. Seolah-olah mereka semua melihat tanda syahid dan melampaui Tuhan dengan memberikan vonis masuk neraka atau surga.

Oleh karena itu, sikap masyarakat kebanyakan jelas, terang dan tergambar dalam sebuah hashtag di media sosial. Masyarakat terus mendukung upaya-upaya tegas dari TNI-Polri untuk menjaga keamanan dari kelompok teroris yang semakin berkecambah akhir-akhir ini.

Related posts
BeritaKolomNasihat

Diskursus Politik Kebencian

Dalam dasawarsa terakhir, masyarakat kita disibukkan kemelut politik bernuansa kebencian. Demokrasi sekarang ini mengalami ketegangan politik yang tiada henti menghunuskan pedang kebencian…
Berita

Jangan Salahgunakan UU PNPS

Polemik memandikan jenazah yang terkena covid-19 oleh tenaga kesehatan (Nakes), tampaknya berbuntut panjang dan berujung pada meja Kepolisian. Pasalnya, laporan terhadap Nakes tersebut menggunakan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1965 Tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan Penistaan Agama, yang tidak masuk akal dan cenderung disalahgunakan.
BeritaKolomNgopi

Kunjungan ke NTT, Bukti Presiden Jokowi Dicintai Rakyat

Saat Presiden Joko Widodo berkunjung ke Nusa Tenggara Timur (NTT), warga benar-benar antusias menyambut kedatangan rombongan mobil kepresidenan. Terlihat dalam sejumlah video di media sosial, masyarakat banyak yang bersukacita. Sambutan yang luar biasa menandakan kerinduan warga NTT terhadap Presiden Jokowi. Tak hanya itu, kehadiran Presiden Jokowi ke tempat lain juga senantiasa disambut dengan animo baik warga. Maka dari itu, kunjungannya ke NTT, membuktikan bahwa Presiden Jokowi sangat dicintai rakyat.