Front Pembela Islam (FPI) kembali menjadi sorotan publik. Pasalnya, peristiwa baku tembak antara polisi dan Laskar FPI terjadi di jalan Tol Jakarta-Cikampek KM 50 pada pukul 00.30 WIB, Senin (07/12/2024). 10 orang yang diduga anggota FPI terbukti melawan polisi dengan menodongkan senjata api, samurai, dan celurit. Akibat perlawanan tersebut 6 dari 10 orang Laskar FPI tewas ditembak polisi. Dengan adanya peristiwa baku tembak antara Polisi dan Laskar FPI, hal itu membuat anggota DPR dari Fraksi Partai Gerindra, Fadli Zon, bereaksi dan angkat bicara.
Melalui cuitan Twitternya, Fadli Zon mencium kejanggalan dari penembakan Laskar FPI. Orang terdekat Menteri Pertahanan Prabowo Subianto itu menduga para pengawal Muhamad Rizieq Shihab (MRS) tersebut dibunuh dan menuduh polisi telah melakukan abuse of power terhadap FPI. Bahkan, ia juga mengatakan bahwa FPI adalah organisasi cinta damai dan tidak dibekali senjata tajam apapun. Membaca pernyataan Fadli Zon di postingannya tersebut, jujur membuat saya tergelak-gelak, benarkah FPI organisasi cinta damai seperti apa yang dikatakan Fadli Zon, atau jangan-jangan ia justru menyebarkan informasi bohong atau hoaks?
Jika kita telusuri jejak-jejak FPI. Memang, organisasi ini dinilai sangat kontroversi. Didirikan pada masa Presiden Soeharto, yakni tahun 1998. Gerakan FPI di tangan MRS saat itu seperti pasukan bayaran. Ketika sebagian besar gerakan rakyat dan mahasiswa bersuara melawan Soeharto dan rezimnya, MRS justru mendapat permintaan dari loyalis Soeharto untuk menandingi gerakan mahasiswa tersebut. Meski saat itu, MRS belum punya basis massa yang terlalu banyak, dia menguasai lusinan pesantren dan menjadi bagian dari Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII).
Setelah Soeharto lengser, MRS kemudian membela B.J. Habibie yang juga diprotes mahasiswa. Wiranto yang saat itu Panglima ABRI mendukung MRS membentuk para militer dengan kekuatan sekitar 50.000 orang yang kemudian diberi nama PAM Swakarsa.
Di bawah kepemimpinan MRS, FPI kemudian secara cepat mendapat panggung karena aksi-aksinya memberantas “kemaksiatan”. Namun sejarah kekerasan ikut menyertainya. Pada November 1998 FPI terlibat bentrok dengan preman Ambon di Jakarta. Kericuhan ini merupakan debut pertama FPI dan membuat orang-orang Ambon pulang kampung. Konflik ini jelas mengawali peristiwa berdarah lebih besar yang dilakukan FPI.
Hingga saat ini, rekam jejak FPI di bidang kekerasan dan penggerudukan barangkali sudah melebihi jumlah kunjungan luar negeri Presiden Joko Widodo. Paling tidak ada lima kedutaan besar dan enam kantor media massa yang pernah didatangi dan digeruduk FPI. Sebagian kedubes dilempari telur dan sebagian kantor media ciut nyalinya.
Laskar Pembela Islam dengan dalih “polisi bersyariat”, begitu kiranya sayap para militer FPI. Dalam jejak aksinya, mereka sangat rajin melakukan razia ke tempat hiburan malam dan menutup warung makan ketika Bulan Ramdhan, bahkan sering melakukan tindak kekerasan di jalanan kepada kelompok yang tidak sepandangan dengan mereka.
Kiranya, tak hanya itu aksi memberantas “kemaksiatan” FPI. Kekerasan FPI bertambah ketika mereka sempat mendukung keberadaan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), penyerangan kelompok minoritas Ahmadiah, serta puncaknya ketika ikut terlibat dalam gerakan aksi 411 dan 212 yang berpengaruh pada kekuatan politik. Dan tambah runyam ketika Imam Besar mereka menghina polisi, Presiden bahkan hingga melontarkan berbagai ujaran kebencian.
Sekali lagi, tingkah perangai FPI seringkali membuat kita geleng-geleng dan khawatir karena jelas dapat mengganggu kohesi sosial di masyarakat. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa kelompok massa ini semakin hari semakin besar dan semakin banyak ulah dengan gerakan yang dinilai dapat memecah belah persatuan dan persaudaraan Bangsa Indonesia.
Dengan berbagai rekam jejak FPI tersebut, saya fikir lagi-lagi apa yang dikatakan Fadli Zon adalah penyataan hoaks. Sebab, mana mungkin organisasi yang jelas-jelas melakukan berbagai tindak kekerasan itu dikatakan sebagai organisasi yang cinta damai?
Tak hanya kali ini saja Fadli Zon mengatakan informasi bohong atau hoaks. Masih ingatkah kalian sebelumnya, ia pernah membela dan meyakini publik dengan kasus Ratna Sarumpaet yang diduga telah dianiaya. Peristiwa ini terjadi jelang Pilpres 2019 lalu, yang mana Fadli Zon mati-matian membela Ratna Sarumpaet, serta pernah meminta agar kasus penyerangan dan penganiayaan diusut tuntas. Namun ternyata, diketahui Ratna Sarumpaet hanya mengarang cerita bahwa ia diserang, padahal faktanya ia hanya melakukan operasi wajah saja.
Fenomena penyebaran informasi yang dilontarkan oleh para politisi, khususnya Fadli Zon memang semakin marak terjadi. Meskipun biasanya, media sosial digunakan politisi untuk membentuk citra, dalam menyampaikan gagasan, program, visi-misi dan lain sebagainya. Namun kenyataannya, tidak sedikit politisi yang menggunakan media sosial dengan tidak bijak. Ada banyak pernyataan politisi di media sosial yang cenderung provokatif, sehingga melahirkan kegaduhan dan kebisingan. Meski tidak bisa dipukul rata, akan tetapi sikap oknum politisi tersebut bisa semakin memperburuk citra politik praktis di negeri ini.
Kiranya, apa yang dilakukan oleh Fadli Zon merupakan salah satu bentuk yang tak jarang banyak dilakukan oleh politisi Indonesia di media sosial, yaitu dengan menulis pernyataan, status, atau cuitan yang menjatuhkan (down grade) dengan pernyataan yang tidak etis. Misalnya, dengan menyebarkan berita palsu atau hoaks dan menyebarkan isu yang kebenarannya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Hal ini tentu jelas sikap tersebut bisa memperkeruh situasi bangsa yang awalnya sejuk dan tenang menjadi sangat memanas.
Terlepas ada apa di balik sikap dan pernyataan hoaks Fadli Zon yang mengatakan, bahwa FPI merupakan organisasi yang cinta damai. Namun, dalam ilmu psikologi komunikasi, kepribadian seseorang memang memiliki kecenderungan untuk menggunakan kebohongan dalam mencapai keinginannya.
Jika meminjam teori Dark Triad Personality yang dicetuskan oleh Paulhus dan Williams. (2002) dalam artikelnya yang berjudul The Dark Triad of Personality: Narcissism, Machiavellianism, and Psychopathy, mengatakan bahwa seseorang tentu dipercayai memiliki sisi gelap yang terdiri dari tiga kepribadian, yakni machiavellianisme, psikopati, dan narsistik. Ketiga kepribadian gelap ini diyakini bisa membuat seseorang dapat menjadi manipulator ulung. Tidak hanya di politik, tapi juga di bidang lain.
Dalam dark triad, elemen kepribadian pertama disebut machiavellianisme. Orang-orang machiavellian cenderung suka untuk memanipulasi sesuatu. Ia suka berbohong dalam berbagai kondisi. Ia berupaya untuk mendesain kebohongan dengan rapi untuk mendapatkan keuntungan. Bahkan, ia berupaya membuat orang lain dapat memenuhi apa yang diinginkannya.
Sementara itu, pada konteks politik, seorang politisi yang memiliki level machiavellianisme tinggi akan membuat klaim-klaim yang belum jelas kebenarannya. Ia membela satu pihak jika menguntungkan, dan dapat dengan tiba-tiba menyerangnya jika merugikan.
Elemen kepribadian kedua yang dimiliki seorang pelaku politik kebohongan adalah psikopatik. Seorang yang psikopatik adalah lawan dari seorang yang empatik. Orang-orang yang psikopatik tidak memiliki empati terhadap orang lain. Ia cenderung egois. Ia biasanya memiliki hidup yang terfokus untuk dirinya sendiri. Seorang politisi atau simpatisan yang psikopatik akan menggunakan berita kebohongan untuk memenuhi kebutuhan diri dan kelompoknya sendiri. Ia tidak peduli meskipun fitnahan ini memiliki implikasi buruk pada masyarakat luas, bahkan menyebabkan disintegrasi bangsa.
Elemen kepribadian terakhir adalah narsistik. Seorang yang narsistik memiliki ketertarikan terhadap dirinya sendiri secara eksesif. Dalam psikologi komunikasi, seorang yang memiliki narsisme tinggi memiliki kepercayaan bahwa ia adalah seorang yang spesial, lebih penting daripada orang lain, memiliki kebutuhan untuk dipuja, dan bersikap arogan. Politisi dan simpatisan politik yang memiliki sikap narsistik dalam model ini cenderung memuja seorang tokoh secara berlebihan. Politisi jenis ini mempercayai bahwa pilihannya adalah yang paling baik dan layak untuk diikuti.
Dalam konteks ini, setelah memahami bahwa kecenderungan untuk menyebarkan informasi hoaks merupakan sebuah isu psikologis. Maka dari itu, kita membutuhkan strategi untuk mengatasinya dan mencegah para politisi untuk menyebarkan informasi bohong. Setidaknya kita perlu mempertimbangkan dua hal. Pertama, kepribadian merupakan sebuah entitas yang cenderung menetap. Maka dari itu, kita tidak dapat begitu saja mengharapkan seseorang dengan kecenderungan berbohong untuk berubah seketika.
Kedua, yang perlu kita pertimbangkan setelah mempelajari elemen kepribadian penyebar hoaks adalah menegaskan batasan. Kita perlu skeptis terhadap apa yang kita baca, serta mengetahui kapan perlu mengonfrontasi (fight) atau menghindari (flight). Jika memutuskan untuk melakukan konfrontasi terhadap sebuah informasi yang meragukan, kita perlu memiliki literasi yang baik tentang berbagai isu, salah satunya keberadaan FPI dan sejarahnya.
Dengan demikian, apa yang diungkapkan oleh Fadli Zon tentang FPI merupakan sebuah klaim atau informasi yang hoaks. FPI merupakan organisasi yang selalu melakukan tindakan kekerasan. FPI adalah “monster” yang sejak kecil dipelihara dan sekarang berpotensi memakan tuannya. Tanpa ada kajian matang cara membubarkan mereka, FPI bisa jadi akan menimbulkan kerusakan yang lebih parah daripada mereka tetap ada.