Kolom

MRS di Makkah Indonesia Damai

3 Mins read

Saya kira kepulangan Mohammad Rizieq Syihab (MRS) dari Makkah, Arab Saudi karena rindu bumi pertiwi, ternyata saya keliru, tak dinyana kepulangannya hanya ingin merusak dan membuat kerusuhan. Sungguh, kecewa betul saya!

Sejak kepulangannya ke Tanah Air pada 10 November 2024 lalu, kehadiran MRS menuai banyak pro dan kontra. Salah satunya memicu perang urat saraf yang cukup memanas dari salah satu pendukung MRS dengan salah satu artis ternama Indonesia. Kondisi ini tak lepas dari banyaknya masa FPI yang secara sepontan beramai-ramai menyambut, memadati jalanan Petamburan hingga Bandara Soekarno-Hatta. Masa MRS tak hanya membuat kerumunan dan menyebabkan kemacetan jalanan, namun juga merusak beberapa fasilitas bandara.

Padahal kita tau, ini sedang masa pandemi, dimana protokol kesehatan harus ditegakkan betul. Protokol kesehatan seperti larangan membuat dan menjauhi kerumunan serta menerapkan 3 T (Tracing, Testing, Treatment) dalam rangka mencegah penyebaran virus covid-19 ini. Alih-alih mematuhi protokol kesehatan, MRS justru sangat abai terhadap himbauan pemerintah tentang pencegahan covid-19 ini.

Selepas dari Makkah, ia tak mengisolasi diri, MRS memilih menghadiri sejumlah acara yang di dalamnya banyak kerumunan masa. Padahal, merujuk pada Surat Edaran yang dikeluarkan Menteri Kesehatan Nomor HK.02.01/Menkes/313/2020 Tentang Protokol Kesehatan, bagi WNI yang kembali dari luar negeri, untuk mengantisipasi Orang Tanpa Gejala (OTG) harus mengisolasi secara mandiri selama 14 hari.

MRS nyatanya tidak mengindahkan itu, puncaknya, ia menyelangarakan pesta pernikahan putri keempatnya dan dibarengi dengan acara Maulid Nabi Muhammad SAW pada Sabtu (14/11/2024) yang dihadiri ribuan masa. Pelangaran protokol kesehatan pun tak terhindarkan. Dalam perkumpulan itu juga tidak diisi dengan himbauan-himbauan kebaikan, sebaliknya disisi dengan caci maki kebencian dan do’a keburukan untuk orang lain.

Dasarnya MRS suka melanggar hukum, diminta tanggung jawab dan keterangan karena melanggar protokol kesehatan, ia terus mengelak. Pemanggilan demi pemanggilan dilakukan Polda Metro Jaya, MRS tak hadir juga. Ketidaktaatan MRS pada panggilan hukum juga diikuti oleh putrinya, menantunya dan segenap pengikutnya.

Sederet persoalan yang ditimbulkan pasca kepulangan MRS masih terus berlanjut. Drama-drama recehan terus dimainkan demi menghindari panggilan pihak kepolisian. Diantaranya, jelang pemeriksaan MRS pada Selasa (1/12/2024), beredar video adzan yang diplesetkan, hayya alash shalah diganti mejadi hayya alal jihad. Sesewatu hal yang baru, bukan hanya menyalahi syariat Islam, namun juga menyesatkan dan membuat keresahan di masyarakat. Usut punya usut, pelaku yang memplesetan adzan adalah simpatisan FPI sekaligus anak didik Bahar bin Smith.

Setelah Pangdam Jaya dengan tegas mengintruksikan anggotanya untuk menurunkan baliho-baliho MRS di sudut-sudut kota Jakarta, tensi kian memanas antara pihak MRS dan TNI&Polri. MRS terus melakukan pembangkangan, setelah menolak mengikuti tes covid-19, pada Sabtu malam (28/11/2024) MRS dikabarkan kabur dari Rumah Sakit UMMI Bogor. Terus menghindarnya MRS dari proses hukum membuat pihak kepolisian habis kesabaran. Cara-cara tegas mulai dilakukan. Tindakan tegas kepolisian pun direspon oleh MRS dan pengikutnya. Senin dini hari 7 Desember 2020 menjadi kisah tragis bagi 6 orang anggota FPI karena tewas saat bakutembak dengan polisi di Jalan Tol Cikampek Kilometer 50. Seperti diumumkan oleh Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jendral Mohammad Fadil Imran.

Cukup disayangkan memang. Andai MRS patuh pada aturan yang berlaku, hal-hal semacam ini tentu tidak perlu terjadi. Misi revolusi akhlak yang selalu ia gembar-gemborkan menjadi kelabu dan pilu. Masyarakat terus dipertontonkan perilaku tak berakhlak ala MRS. Andai MRS tetap di Makkah, mungkin kerusuhan-kerusuhan yang merugikan banyak pihak dapat terhindarkan. MRS tetap di Makkah Indonesia pasti damai.

Nasi sudah menjadi bubur. MRS telah berada kembali di Indonesia. Atas semua yang telah dimulai oleh MRS di negeri ini, ia pun harus selesaikan. Proses hukum harus terus ditegakkan. Negara akan melawan siapa saja yang mengancam NKRI, mengancam keutuhan persatuan dan kesatuan bangsa.

Kegaduhan yang disebabkan oleh MRS hendaknya tidak membuat pemerintah hilang fokus memikirkan nasib masyarakat dari Sabang sampai Merauke. Terlebih hingga sampai saat ini kasus-kasus lain juga terus bermunculan, seperti korupsi misalnya. Pemerintah juga harus mementingkan kesehatan bangsa, mengingat kasus covid-19 masih tinggi yakni 586.842 positif, atau mengalami penambahan kasus sekitar 5.292 per 8 Desember 2020, berdasarkan BNPB, dan KawalCOVID19.id.

Sebagai tokoh agama, MRS seyogyanya bisa bersikap dewasa menghadapi proses hukum yang berlaku, agar tidak terjadi lagi korban jiwa akibat intruksi-intruksi sesatnya. Mungkin bagi MRS dan FPI kematian anggotanya tidak jadi soal, namun di negara hukum ini, jatuhnya korban jiwa dalam satu kasus pasti memancing persoalan-persoalan baru yang dapat menganggu ketertiban bangsa.

MRS jangan lagi merasa jagoan dan paling benar sendiri. Tidak ada yang kebal hukum, termasuk MRS. Bila memang benar ia seorang Pancasilais dan nasionalis seperti yang sering disebut-sebut pendukungnya, tunjukkan. Bangsa ini ingin damai dan aman dengan keanekaragaman. Jangan rusak kebinekaan dengan sikap intoleran. Atau kalau toh ingin pergi dari negeri ini, pergilah dengan tanggung jawab, jangan lagi meninggalkan kasus hukum. MRS di Makkah Indonesia damai.

Related posts
Dunia IslamKolomNasihat

Proses Pengharman Minuman Keras dalam Al-Quran

Larangan minum Khamr atau minumam keras merupakan aturan makan minum yang paling terkenal dalam Islam. Sebagian besar Muslim, sangat aware dengan makanan…
Kolom

Penggiat Khilafah Adalah Penghancur Bangsa

Pasca-pembubaran HTI pada Tahun 2017 lalu, penggiat khilafah masih getol mengampanyekan sistem politik khilafahnya. Fakta itu bisa kita perhatikan ketika melihat hashtag…
Kolom

Kampanye Basi Pengusung Khilafah

Walaupun sudah dibubarkan pemerintah, kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) nampaknya belumlah berakhir. Pasalnya penyebaran ideologi dan penyebaran paham sistem khilafah kian terang-terang dengan menggunakan media sosial sebagai motor penggerak.